oleh

Pengusaha Tiongkok dalam Pusaran Korupsi dan Mafia

Oleh: Rudyono Darsono

MENCOBA hidup dengan berkata jujur. Perbedaan adalah sebuah ciptaan yang indah dari Tuhan. Tak disangkal banyaknya pengusaha Tiongkok yang sukses, baik dengan ‘bisnis kotornya’ maupun ‘secara jujur’. Atau dengan bisnis fasilitas, berkolaborasi dengan penguasa korup dan pengamanan dari oknum aparat penegak hukum.

Namun pada sisi lain, juga tak disangkal, banyaknya kaum miskin dikelompok masyarakat Tiongkok di Indonesia dan itu juga sangat mudah ditemui. Kelompok Tiongkok kaya, dengan bisnis kotor tidak terlepas dari dukungan dan kerja sama dengan para pejabat kotor (koruptor), yang menggadaikan Kewenangannya (hampir dapat dipastikan pribumi), yang justru sebagian besar dari mereka juga ‘merampok’ harta-harta kelompok Tiongkok masyarakat lugu dan berbisnis lurus mengandalkan kepintaran dan keringat, di samping banyak juga yang merampok tanah-tanah pribumi atau penduduk asli dengan backing oknum aparat negara, baik penegak hukum maupun birokrat yang hampir dapat dipastikan juga pribumi.

Bukan hal baru bagi kami mendengar istilah para kelompok Tiongkok mafia tanah yang berkolaborasi dengan mafia hukum dan oknum penegak hukum menumpuk kekayaan dengan cara kriminal, tapi dibenarkan dalam proses hukum dan peradilan yang korup.

Mereka punya satu prinsip ‘jahat’ yang justru didukung situasi dan kondisi penegakan hukum yang ‘rusak’ yaitu, jika pemilik tanah tidak mau menjual murah kepada mereka, maka mereka akan membeli melalui ‘jalur hukum yang korup’, dan membayar melalui oknum penegak hukum dan atau oknum-oknum hakim. Dan bukan kasus baru, jika pemilik tanah yang sah, justru mendapat perlakuan kriminalisasi, bahkan mungkin sampai harus masuk penjara. Ini sudah sangat lazim terjadi di Indonesia. Ini yang menggambarkan karena nila setitik, rusak susu sebelangga.

Padahal jumlah oknum pengusaha Tiongkok yang korup tidak akan lebih dari lima persen dari seluruh jumlah etnis Tiongkok keturunan di Indonesia, yang berjumlah lebih kurang tujuh persen dari total penduduk Indonesia. Namun dampak kerusakan dan pandangan negatifnya begitu luas. Kenapa begitu ‘susah memberantasnya’? Karena mereka adalah orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, dan menjadi ATM para oknum pejabat dan penegak hukum korup, yang memberikan fasilitas perlindungan dan perlakuan khusus untuk pengamanan.

Dan didukung oleh kurang berfungsinya pengawasan dan lemahnya kepemimpinan. Yang merusak imej atau pandangan sekelompok orang yang hanya melihat dari sisi negatif etnis Tiongkok di Indonesia. Satu orang baik macam Jokowi, dalam sebuah lingkaran sistem kekuasaan yang korup, tak ubahnya seperti sebuah perjalanan di gurun dan melihat ‘fatamorgana’ oasis di padang pasir, yang sepertinya mampu melepaskan dahaga akan keadilan dan kesejahteraan, namun kenyataannya semua hanyalah bayang-bayang semu, yang menghilangkan saat kita hampiri.

Kalau kita bangsa Indonesia, ingin benar-benar menyiapkan tahun 2045 sebagai Indonesia emas. Persiapkan dunia pendidikan dengan baik, didiklah Generasi muda dengan hati dan jiwa. Disiplin serta berkarakter yang baik, bukan contoh buruk mempertontonkan bebasnya kebusukan birokrasi, politik dan Korupsi. Atau 2045, Indonesia hanya tinggal kenangan. (Penulis adalah Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta)

 

 83 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *