oleh

Kekayaan Alam Akan Habis, Pemanfaatan Teknologi Penting dalam Membangun Sektor Pertanian

-Nasional-47 views

POSKOTA.CO – Pembangunan sektor pertanian di Indonesia harus dilakukan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab national power, kedayasaingan, dan kemakmuran sebuah bangsa, kini tidak lagi ditentukan oleh “endowment factor” seperti sumber daya alam, iklim, letak geografi, dan lainnya, akan tetapi sangat ditentukan oleh “advanced factor” yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Negara-negara dengan kekayaan alam yang berlimpah sekalipun sudah menyadari bahwa suatu saat kekayaan alamnya akan habis. Sementara kekayaan intelektual manusia, apabila dikelola dengan baik, akan berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kualitas hidup suatu bangsa,” kata Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo pada FGD secara virtual sebagai rangkaian dari “Diskusi Serial Kebangsaan, kemarin.

Karena itu, lanjut Pontjo, sudah seharusnya bangsa Indonesia terus berusaha mengejar ketertinggalan teknologi, untuk mewujudkan tekad menjadi Negara maju pada tahun 2045. Tanpa penguasaan teknologi, mustahil Indonesia akan mampu membangun kemandirian ekonomi dan bersaing di tingkat global.

Peningkatan kapasitas Iptek adalah kunci sukses meraih daya saing yang sangat menentukan kemandirian ekonomi suatu bangsa. Oleh karena itulah, World Bank menaruh perhatian untuk mengukur dan memonitor perkembangan model ekonomi ini dengan menggunakan The Knowledge Economy Index (KEI) melalui empat pilar yang menjadi dasar penilaiannya.

“Namun yang harus tetap kita jaga, transformasi ekonomi ini tidak boleh bergerak liar namun harus tetap dalam tuntunan nilai-nilai Pancasila demi kemakmuran inklusif dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelas Pontjo.

Salah satu negara yang berhasil menerapkan teknologi dalam pertaniannya adalah Ethiopia yang dulu merupakan negara miskin dan sering menanggung kelaparan. Ternyata pada tahun 2017 negara tersebut telah menduduki peringkat ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan menurut Global Food Security Index (GFSI)1 1 The Economist Intelligence Unit & Barilla Center for Food & Nutrition Foundation (BCFN), 2017. Sedangkan contoh lainnya yang berhasil menerapkan teknologi di sektor pertanian adalah Thailand.

Pontjo mengatakan kalau dicermati lebih jauh, ada perbedaan yang cukup mendasar dari dua contoh keberhasilan dua negara tersebut. Kalau di Ethiopia, seluruh kegiatan pertanian merupakan investasi dan teknologi Israel. Yang terjadi kemudian adalah bukan pembangunan Ethiopia melainkan pembangunan di Ethiopia. Karenanya, kemajuan pertanian tidak sepenuhnya dinikmati oleh rakyat setempat.

Sedangkan di Thailand, pembangunan pertanian sepenuhnya dilaksanakan oleh dan untuk rakyatnya. Sehingga yang terjadi benar-benar adalah pembangunan Thailand bukan sekadar pembangunan di Thailand. Tinggal bangsa ini memilih model yang mana, pembangunan di Indonesia atau pembangunan Indonesia.

“Paradox pembangunan ini perlu saya tekankan, karena kita memang sedang mengundang investasi asing secara besar-besaran,” lanjut Pontjo.

Dalam mengejar ketertinggalan teknologi untuk membangun gerakan transformasi Ekonomi Pengetahuan, menurut Pontjo masih ada beberapa titik lemah Indonesia yang harus menjadi perhatian kita bersama. Pertama terkait sumber daya manusia (SDM) yang masih merupakan titik lemah Indonesia. Padahal, sumber daya manusia merupakan elemen kunci bagi keberhasilan transformasi Ekonomi Pengetahuan.

Kelemahan kedua adalah sistem inovasi nasional kita. Melalui sistem ini, sebagaimana yang berlaku di banyak Negara, dapat diintegrasikan dan disinergikan berbagai potensi dan sumber daya untuk meningkatkan kapabilitas pengetahuan dan teknologi negara yang bersangkutan.

Ketiga, Pontjo menilai perlunya rekayasa sosial (social engineering) untuk mengubah sikap masyarakat yang berperilaku sesuai dengan pembangunan ekonomi pengetahuan sehingga terjadi perubahan sosial sesuai dengan kebutuhan (planned social change).

FGD bertema Gerakan Transformasi menuju Ekonomi Pengetahuan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber seperti Prof Ahmad Erani Yustika, FRI Unibraw, Dr. sc. Ir Aiyen Tjoa, anggota Akademi Ilmuan Muda Indonesia, Robert Muda Hartawan, BPP HIPMI, dan Ir Bambang Priambodo, Deputi Bappenas 2019-2020. (*/fs)

Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *