oleh

IPW Desak Bareskrim Segera Usut Mafia Pasien Covid-19 di Rumah Sakit

-Nasional-41 views

POSKOTA.CO – Indonesia Police Watch (IPW) meminta Bareskrim Polri segera membongkar mafia rumah sakit yang memanfaatkan pandemi Covid-19 untuk meraih keuntungan. Sebab, ada dugaan orang sakit yang sesungguhnya tidak terkena Covid-19, tetapi dijadikan pasien Covid-19.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane melihat, Bareskrim Polri belum bergerak untuk mengusut dan memburu mafia rumah sakit tersebut. Padahal kasus yang mencovidkan orang sudah marak dan ramai bermunculan di berbagai media sosial.

Bahkan pada Jumat 2 Oktober 2020, menurut Neta, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Moeldoko di Semarang menyatakan, banyaknya isu rumah sakit memvonis semua pasien yang meninggal dicovidkan. “Tujuannya agar mendapatkan anggaran dari pemerintah,” kata Neta S Pane melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (3/10/2020).

Kemudian, lanjut Neta, Moeldoko menegaskan harus ada tindakan serius agar isu yang menimbulkan keresahan masyarakat segera tertangani. Sayangnya hingga kini Bareskrim Polri belum ada tanda-tanda akan bergerak.

Sementara dari pendataan IPW, keuntungan yang diperoleh mafia rumah sakit dalam mencovidkan orang jumlahnya tidak sedikit. Biaya perawatan pasien infeksi virus Corona bisa mencapai Rp290 juta per pasien.

“Jika mafia rumah sakit mencovidkan puluhan atau ratusan orang, bisa dihitung berapa banyak uang negara yang mereka ‘rampok’ di tengah pandemi Covid-19 ini,” tegas Neta.

Untuk diketahui, Surat Menteri Keuangan Nomor S-275/MK 02/2020 tanggal 6 April 2020 yang memuat aturan serta besaran biaya perawatan pasien Covid-19, jika seorang pasien dirawat selama 14 hari, maka asumsinya pemerintah menanggung biaya sebesar Rp105 juta sebagai biaya paling rendah. Sedangkan untuk pasien komplikasi, pemerintah setidaaknya harus menanggung biaya Rp231 juta per orang.

Dikatakan Ketua IPW, angka yang tidak kecil ini membuat mafia rumah sakit bergerak untuk ‘merampok’ anggaran tersebut. Tak heran banyak di medsos yang beredar kabar viral ada masyarakat yang diminta menandatangani bahwa anggota keluarganya kena Covid-19 dan diberi sejumlah uang oleh pihak rumah sakit.

Namun sesungguhnya keluarga terkena penyakit lain. Selain itu ada orang diperkirakan Covid-19 terus meninggal, padahal hasil tes belum keluar. Setelah hasilnya keluar, ternyata negatif.

Neta meminta pihak-pihak penegak hukum harus turun tangan mengungkap masalah ini. Bagaimanapun kejahatan baru di dunia medis ini patut dicermati.

Kejahatan yang melibatkan oknum-oknum rumah sakit ini adalah sebuah korupsi baru terhadap anggaran negara. “Semua pelakunya harus diseret ke pengadilan Tipikor,” terang Neta.

Jika Bareskrim Polri tidak peduli dengan kasus pengcovidan orang oleh mafia rumah sakit ini, IPW berhrap kejaksaan dan KPK harus segera turun tangan. Semua angka kematian Covid-19 harus dicermati agar jangan sampai musibah pandemi ini malah dimanfaatkan untuk menguntungkan para mafia rumah sakit yang ingin mencari keuntungan dari penderitaan masyarakat.

Kata Neta lagi, Bareskrim Polri, kejaksaan dan KPK harus bekerja cepat menangkap para mafia rumah sakit dan segera menyeretnya ke Pengadilan Tipikor. “Ini jangan dibiarkan, masyarakat sudah dibuat resah. Penegak hukum harus bergerak cepat,” tegasnya. (omi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *