oleh

UNJ Kenalkan Kekayaan Budaya Betawi kepada Peserta BSBI melalui Workshop di Kampung Condet

JAKARTA-Universitas Negeri Jakarta (UNJ) turut memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada peserta internasional melalui kegiatan “Introduction to Betawi Culture: Indonesian Arts and Culture Scholarship Awardees” di RPTRA Udara Segar 126, Jakarta Timur, Kamis (3/9/26).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) yang diikuti peserta dari berbagai negara selama 45 hari di Jakarta dan UNJ. Para peserta diajak mengenal budaya Betawi secara langsung melalui kuliner, seni tradisional, permainan rakyat, hingga interaksi dengan masyarakat Kampung Condet.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Condet, Dicky Arfansuri, menyambut baik kehadiran para peserta internasional. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan tradisi Betawi melalui pengalaman langsung.

Para peserta BSBI juga menyaksikan pertunjukan tari Betawi yang dibawakan Sanggar Samawa.

“Kami mengapresiasi dan mengucapkan selamat datang. Hari ini kita melaksanakan workshop membuat bir pletok, sebuah minuman tradisional Betawi, kemudian workshop permainan tradisional ketapel dan pletokan,” ujar Dicky.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran sekaligus meninggalkan kesan bagi para peserta selama berada di Jakarta.

“Semoga ini menjadi pembelajaran penting. Saksikan, nikmati, dan enjoy selama di Jakarta,” katanya.

Apresiasi juga disampaikan perwakilan Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Sudin Parekraf) Jakarta Timur, Yayang Kustiyawan. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara mahasiswa internasional dengan kekayaan budaya lokal Jakarta.

Condet Miliki Warisan Budaya yang Hidup di Tengah Masyarakat

Menurut Yayang, Kampung Condet merupakan salah satu kawasan yang memiliki kekayaan tradisi dan keragaman hayati. Kehadiran peserta dari berbagai negara, kata dia, menunjukkan bahwa Jakarta tidak hanya dikenal sebagai kota metropolitan, tetapi juga memiliki warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Kehadiran mahasiswa dari 10 negara merupakan kebanggaan luar biasa. Jakarta bukan hanya kota metropolitan, tetapi juga rumah budaya yang sarat makna,” tutur Yayang.

Ia berharap para peserta dapat menikmati sekaligus memahami seni tradisional, kuliner, dan berbagai kekayaan budaya yang terdapat di Kampung Condet.

Sementara itu, Direktur Diplomasi Publik Kemenlu RI, Ani Nigeriawati, menjelaskan bahwa program BSBI memberikan kesempatan kepada generasi muda dari berbagai negara untuk mempelajari Indonesia secara langsung, termasuk keragaman tradisi yang berkembang di berbagai daerah.

Dalam kegiatan di Kampung Condet, peserta secara khusus diperkenalkan dengan budaya Betawi sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Jakarta. Mereka mengikuti pembuatan bir pletok, mengenal minuman herbal khas Betawi, menyaksikan tradisi Palang Pintu, serta mencoba berbagai permainan tradisional.

“Hari ini secara spesifik kita belajar tradisi Betawi sebagai kelompok etnik Jakarta dan masyarakat Betawi,” kata Ani.

Menurut Ani, kolaborasi antara Kementerian Luar Negeri, UNJ, dan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran budaya yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memberikan pengalaman langsung.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi peserta untuk memperkenalkan Indonesia ketika kembali ke negara masing-masing.

“Ketika kalian kembali dan berkunjung ke sini, orang-orang di sini akan menyambut kalian. Semoga semua senang dan belajar banyak dari kegiatan ini,” ujarnya.

Berikan Pengalaman Pembelajaran yang Lebih Dekat

Sekretaris Kantor Urusan Internasional (KUI) UNJ, Sri Rahayu, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Menurut saya kegiatan ini keren karena membumi. Kegiatan ini menyatu dengan masyarakat, sambil mempelajari sekaligus mendalami budaya yang ada di masyarakat,” ujar Sri.

Menurutnya, pembelajaran budaya melalui interaksi langsung membuat peserta tidak hanya mengenal Indonesia dari sisi akademik, tetapi juga memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Setelah mengikuti rangkaian pengenalan budaya, para peserta juga akan mempersiapkan penampilan seni Nusantara untuk acara penutupan program yang dijadwalkan berlangsung pada 16 September 2026. Mereka akan menampilkan pencak silat, sejumlah tarian, serta lagu-lagu Indonesia.

Program BSBI di UNJ diikuti peserta dari sejumlah negara, antara lain Vietnam, Laos, Kamboja, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Papua Nugini, dan Timor-Leste. Selama 45 hari, mereka mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran, pengenalan budaya, serta aktivitas sosial dan seni di Jakarta dan lingkungan UNJ.

Sri Rahayu berharap program tersebut tidak hanya memberikan pengalaman budaya bagi peserta, tetapi juga memperkuat visibilitas UNJ di tingkat internasional.

“Interaksi langsung dengan masyarakat menjadi salah satu cara memperlihatkan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan menjunjung nilai perdamaian,” ujarnya.

Salah satu peserta, Nguyen Vo Hong Phong, mahasiswa Jurusan Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Ketimuran, Universitas Nasional Vietnam, mengaku memperoleh banyak pengalaman selama mengikuti program di UNJ. Mahasiswa yang akrab disapa Fauzan itu merasa nyaman dengan suasana Jakarta yang menurutnya memiliki sejumlah kemiripan dengan Ho Chi Minh, Vietnam.

Mahasiswa Vietnam Merasa Nyaman

“Saya merasa cocok dengan cuaca, suasana tempatnya, dan orang-orangnya. Setelah 30 hari di Jakarta mengikuti program ini, saya merasa banyak ilmu dan wawasan yang saya dapat,” ujar Fauzan.

Kegiatan di Kampung Condet menjadi salah satu pengalaman yang berkesan bagi Fauzan. Ia tidak hanya mencicipi makanan khas Betawi, tetapi juga menyaksikan pertunjukan tari Betawi yang dibawakan Sanggar Samawa dan mencoba membuat serta menikmati bir pletok.

Menariknya, Fauzan yang sebelumnya kurang menyukai minuman berbahan herbal seperti jahe justru menyukai rasa bir pletok.

“Di Vietnam mungkin ada minuman jahe dan lainnya, tetapi dengan rasa bir pletok belum ada, saya rasa,” katanya.

Fauzan berharap dapat memanfaatkan sisa waktunya di Jakarta untuk mengunjungi sejumlah tempat, seperti Ancol dan Museum Nasional Indonesia, sekaligus menyaksikan lebih banyak pertunjukan seni dan budaya.

Ia juga berencana membagikan pengalamannya kepada teman-teman di Vietnam agar semakin banyak generasi muda yang tertarik berkunjung dan mengenal Indonesia secara langsung.

Peserta lainnya, Angela Maria Awurina Fatima Rangel Freitas dari Timor-Leste, juga mengaku senang memperoleh kesempatan mengenal budaya Betawi secara langsung.

Menurut Angela, pengalaman mencicipi makanan dan minuman tradisional memberikan cara berbeda dalam memahami kebudayaan Indonesia. Ia juga memperoleh informasi mengenai Kampung Budaya Betawi di Condet.

“Kegiatan ini memberi peluang untuk menikmati setiap keindahan tentang budaya Betawi, baik dari makanan maupun minumannya. Saya merasa senang mendapatkan banyak informasi tentang Kampung Budaya Betawi di Condet,” ungkap Angela.

Bir pletok dan selendang mayang menjadi dua hal yang menarik perhatiannya. Ia menilai kuliner tradisional merupakan bagian penting dari pengalaman mengenal budaya Indonesia.

“Indonesia itu indah. Saya merasa beruntung berada di Indonesia, mencoba makanan dan memahami budaya. Ini pertama kali saya di sini,” tuturnya.

Angela juga menyukai mi ayam karena menurutnya memiliki kemiripan dengan makanan yang biasa ditemui di Timor-Leste. Ia berharap pengalaman selama mengikuti program di UNJ dan Jakarta dapat memperluas pengetahuannya tentang Indonesia dan menjadi cerita yang dapat dibagikan kepada teman-temannya di Timor-Leste.

“Saya belajar banyak pengetahuan dan ingin membagikan pengalaman penting selama berada di UNJ dan Jakarta ini,” ujar Angela.

Melalui program BSBI, UNJ tidak hanya menjadi ruang pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi tempat berlangsungnya pertukaran budaya dan pengalaman lintas negara. Kegiatan di Kampung Condet menunjukkan bahwa pengenalan budaya melalui interaksi langsung dengan masyarakat dapat menjadi bagian dari diplomasi budaya sekaligus memperkuat peran UNJ dalam memperkenalkan Indonesia kepada dunia. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *