PANGANDARAN – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI menggelar diskusi media bertajuk Refleksi Kepemimpinan Bawaslu Jelang 5 Tahun Periode 2022-2027 di Pangandaran, Jawa Barat, pada 3-5 September 2026. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan dan kinerja Bawaslu menjelang lima tahun masa kepemimpinan.
Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu RI, Lolly Suhenty, menekankan pentingnya evaluasi kritis dari publik dan media, khususnya di tengah masa transisi kepemimpinan Bawaslu.
Menurut Lolly, refleksi sengaja dilakukan saat tahapan pemilu sedang jeda atau memasuki masa non-tahapan. Situasi tersebut dinilai lebih ideal untuk memberikan penilaian secara objektif tanpa dipengaruhi hiruk-pikuk penyelenggaraan pemilu. “Kenapa harus sekarang? Karena di masa non-tahapan, semua menjadi jernih untuk memberikan kritik dengan akal sehat karena tidak dicampuri hiruk-pikuk tahapan pemilu. Saya meyakini refleksi tidak bisa dikerjakan sendirian. Yang bisa menilai Bawaslu adalah para sahabat, termasuk media,” ujar Lolly di Pangandaran, Kamis (3/9/2026).
Ia menegaskan, Bawaslu membutuhkan media bukan sekadar untuk mendapatkan pujian, melainkan sebagai mitra yang independen dalam menyampaikan fakta sekaligus memberikan kritik konstruktif terhadap kinerja lembaga pengawas pemilu tersebut. “Bawaslu dekat dengan media bukan untuk dipuji. Yang dibutuhkan Bawaslu adalah media mewartakan apa yang sesungguhnya dikerjakan. Kolaborasi dan kepercayaan itu penting, namun jurnalis harus tetap independen dan kritis,” tegasnya.
Lolly menyebut, terdapat tiga capaian utama Bawaslu periode 2022-2027 yang menjadi bahan refleksi, yakni penguatan sistem pencegahan yang terukur dan adaptif, perubahan paradigma pengawasan partisipatif menjadi gerakan masyarakat, serta penguatan standar komunikasi publik dan manajemen krisis. Selain itu, Bawaslu juga telah menyusun pedoman pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kerja sebagai komitmen menjaga kepercayaan publik dan menghormati hak asasi manusia.
Menutup pemaparannya, Lolly menegaskan bahwa keberanian untuk berbicara secara terbuka merupakan salah satu indikator penting dalam kehidupan demokrasi. “Indikator demokrasi paling sederhana adalah kemampuan untuk bicara dan menyampaikan. Kita harus berani menyampaikan dan berbicara apa yang terjadi di internal untuk perbaikan ke depan,” pungkasnya. (din)







Komentar