JAKARTA — Tragedi King Lear karya William Shakespeare dalam adaptasi dan arahan sutradara teater Jepang Tadashi Suzuki akan dipentaskan untuk pertama kalinya di Jakarta pada 16–17 September 2026. Pertunjukan tersebut akan berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta dan menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan panjang pertukaran seni dan budaya antara Jepang dan Indonesia.
“Pementasan ini diproduksi oleh Suzuki Company of Toga (SCOT) dan Bumi Purnati Indonesia, bekerja sama dengan The Japan Foundation. Kehadirannya di Jakarta merupakan bagian dari program Partnership to Co-Create a Future with the Next Generation: WA Project 2.0, sebuah program The Japan Foundation yang mendorong pertukaran antarmasyarakat (people-to-people exchange) antara Jepang dan negara-negara di Asia Tenggara,” kata Direktur The Japan Foundation, Inami Kazumi dalam keterangan pers, Senin (31/08/2026).
Menurut Inami, pementasan King Lear bukan sekadar membawa sebuah karya teater Jepang ke Indonesia. Pertunjukan ini merupakan hasil dari proses panjang pertukaran pengetahuan, pelatihan, perjalanan seniman, serta hubungan personal dan profesional yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Kerja sama kebudayaan Jepang di Indonesia sendiri selama ini berjalan melalui sejumlah bidang utama, antara lain seni dan budaya serta pendidikan bahasa Jepang.
Dalam bidang pendidikan bahasa Jepang, The Japan Foundation turut terlibat dalam pengembangan kurikulum dan materi pembelajaran, pembinaan pengajar bahasa Jepang di Indonesia, serta penyelenggaraan berbagai ujian kemampuan bahasa Jepang. Pertukaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan masyarakat Jepang dan Indonesia melalui pendidikan.
Sementara dalam bidang seni dan budaya, The Japan Foundation secara rutin menjalankan berbagai program pertukaran dan kolaborasi. Salah satunya adalah Japanese Film Festival yang diselenggarakan setiap tahun di sejumlah kota di Indonesia. Selain itu, lembaga tersebut juga mendukung berbagai kerja sama dalam bidang seni pertunjukan dan visual art.
Bentuk Pertukaran Seni antara Jepang dan Indonesia
Menurut Inami, selama ini bentuk pertukaran seni antara Jepang dan Indonesia kerap dilakukan dengan pola membawa seniman atau kelompok seni dari satu negara ke negara lain. Namun, proyek King Lear memiliki karakter berbeda karena mempertemukan seniman kedua negara dalam sebuah proses penciptaan karya bersama.
“Untuk kali ini, kami dapat mempersembahkan sebuah karya kolaborasi, yaitu kerja sama antara bukan hanya Jepang dan Indonesia, tetapi juga antara seniman Indonesia dan Jepang,” tambahnya.
Ia menilai proses tersebut menjadi bagian penting dari semangat WA Project 2.0, yang tidak hanya bertujuan memperkenalkan karya seni Jepang kepada masyarakat Indonesia, tetapi juga membangun hubungan yang lebih setara melalui proses belajar bersama.
Salah satu karakter penting dari proses tersebut adalah keharusan bagi para aktor yang terlibat untuk datang ke Toga, Jepang, dan menjalani latihan dengan metode Suzuki secara langsung.
Metode tersebut merupakan sistem pelatihan aktor yang dikembangkan Tadashi Suzuki dan dikenal luas karena penekanannya pada kekuatan tubuh, kaki, pusat energi, suara, serta kemampuan aktor mempertahankan energi dan kehadiran di atas panggung.
Bagi para aktor yang terlibat, proses tersebut bukan latihan singkat. Mereka harus mengikuti pelatihan intensif dan mengalami langsung lingkungan kerja teater di Toga.
Sementara itu pendiri sekaligus Direktur Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum, mengatakan bahwa kerja sama dengan Tadashi Suzuki dan SCOT tidak lahir secara tiba-tiba. Pertemuan awal dan komunikasi antara Bumi Purnati dengan Suzuki berkembang sejak sekitar 2015. Sejak saat itu, hubungan tersebut terus dipelihara melalui pertemuan, pelatihan, diskusi, serta pengiriman aktor Indonesia untuk mengikuti proses latihan di Toga.
Restu menuturkan, sejak awal dirinya melihat bahwa hubungan dengan Suzuki tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan semata. Diperlukan komitmen jangka panjang untuk mempelajari metode yang dikembangkan Suzuki secara langsung.
Pengalaman Penting dari Pendidikan Seorang Seniman
Menurut Restu, pengalaman menjadi bagian penting dari pendidikan seorang seniman. Ia mengingat bagaimana para aktor dari berbagai negara hidup dan bekerja bersama di lingkungan SCOT. Para peserta tidak hanya datang untuk berlatih dan kemudian meninggalkan tempat latihan, tetapi ikut merasakan keseluruhan kehidupan yang menopang proses penciptaan teater.
Pengalaman tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi seniman Indonesia yang harus beradaptasi dengan disiplin dan pola kerja berbeda.
Restu menyebut Tadashi Suzuki sebagai sosok yang sangat selektif terhadap proyek yang ia pilih. Di usianya yang telah mencapai 90 tahun, Suzuki tetap mempertahankan komitmennya terhadap seni pertunjukan.
Bagi Restu, hubungan tersebut menjadi sangat berarti karena ia tidak hanya melihat Suzuki sebagai seorang sutradara, tetapi juga sebagai guru dan tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk seni pertunjukan.
Pementasan King Lear kali ini menghadirkan tantangan baru karena salah satu peran utama dipercayakan kepada aktor Indonesia, Jamaluddin Latif dari Yogyakarta. Keputusan tersebut bukan sekadar mengganti aktor Jepang dengan aktor Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana seorang aktor Indonesia dapat menjalankan karakter Shakespeare melalui sistem latihan dan metode tubuh yang dikembangkan Suzuki.
Restu menjelaskan bahwa King Lear yang kini dipentaskan memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Tadashi Suzuki dan SCOT. Karya tersebut pertama kali diciptakan pada 1984 dan kemudian menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan artistik Suzuki.
Kini, lebih dari empat dekade setelah pertama kali diciptakan, karya tersebut kembali mengalami proses lintas budaya dengan melibatkan aktor dari Indonesia.
Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan juga mencerminkan keberagaman latar belakang para pemain. Selain bahasa Indonesia, pertunjukan akan menghadirkan bahasa Inggris serta bahasa-bahasa lain yang berkaitan dengan para aktor yang terlibat, termasuk Rusia dan Korea Selatan. Perbedaan bahasa tersebut menjadi tantangan sekaligus kekuatan pertunjukan.
“Bagaimana bisa bekerja sama tanpa banyak bertukar kata, tetapi menghayati karakter dan melakukannya dengan metode Suzuki di atas panggung,” ujar Restu.
Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi semacam eksperimen artistik yang mempertemukan tubuh, budaya, bahasa, dan pengalaman para aktor dalam satu panggung.
Metode Suzuki
Bambang, salah satu seniman Indonesia yang telah lama mempelajari metode Suzuki, mengatakan pengalaman pertamanya mengikuti latihan Suzuki membuatnya menyadari bahwa pendekatan tersebut sangat berbeda dari metode latihan teater yang selama ini ia kenal.
Ia pertama kali mendapat kesempatan berhubungan dengan lingkungan SCOT dalam perjalanan yang berkaitan dengan peringatan 40 tahun kelompok tersebut.
Pada awalnya, Bambang melihat pendekatan Suzuki terutama sebagai sesuatu yang sangat fisikal. Namun, setelah mengikuti latihan secara langsung, ia menyadari bahwa latihan tersebut dibangun berdasarkan sebuah sistem yang sangat terstruktur.
Menurut Bambang, salah satu fondasi utama metode Suzuki adalah kesadaran terhadap kaki dan pusat energi tubuh. Kaki dilatih agar memiliki kekuatan seperti akar. Tubuh bagian bawah menjadi pusat tumpuan, sementara energi yang dihasilkan dari latihan tersebut kemudian diarahkan melalui tubuh, suara, dan mata.
Karena itu, gerakan yang tampak sederhana di atas panggung sebenarnya merupakan hasil dari latihan yang panjang dan berulang. Para aktor dituntut untuk mengulang gerakan berkali-kali. Durasi, jumlah repetisi, kecepatan, hingga konsistensi terus diuji.
Bagi Bambang, konsistensi menjadi salah satu kunci utama. Semakin sering sebuah gerakan diulang, semakin kuat tubuh menguasainya. Pada tahap tertentu, gerakan tersebut tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dipikirkan oleh aktor, tetapi menjadi bagian dari respons tubuh.
Namun, latihan tidak berhenti pada kekuatan kaki. Energi yang telah dibangun kemudian harus diarahkan kepada penonton. Karena itu, mata dan suara menjadi bagian penting dari metode tersebut.
“Mata dan suara itulah yang menjadi medium energi sebagai alat untuk menyampaikan pesan,” jelas Bambang.
Ia mengatakan, itulah salah satu hal yang paling mengesankan dari metode Suzuki. Ketika seorang aktor berbicara atau bergerak di panggung, yang ditampilkan bukan hanya karakter secara psikologis, tetapi juga energi tubuh yang sangat kuat. (fs)







Komentar