TANGERANG SELATAN-Universitas Terbuka (UT) kembali menorehkan prestasi akademik yang membanggakan. Arjaty Wahidah Daud, mahasiswa Program Doktor Administrasi Publik Universitas Terbuka dengan NIM 501201741, resmi mempertahankan disertasinya dalam Ujian Sidang Terbuka Tugas Akhir Program Doktor (TAPD) dengan predikat Cum Laude.
Dalam sidang bergengsi tersebut, Arjaty Wahidah Daud mempresentasikan disertasi berjudul “Model Enterprise Risk Management (ERM) pada Pelayanan Publik di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan Provinsi DKI Jakarta”. Penelitian ini menghadirkan perspektif segar dalam pengelolaan risiko di sektor pelayanan publik, khususnya pada rumah sakit daerah yang memegang peran vital dalam pemenuhan hak dasar masyarakat atas layanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berkelanjutan.
“Penerapan Enterprise Risk Management (ERM) di lingkungan rumah sakit pemerintah tidak cukup hanya bersandar pada kerangka regulasi semata,” kata Arjaty, Senin (15/06/2026) seusai mempertahankan disertasinya di Ruang Rasamala, Gedung Wisma 2, Lantai Dasar, Universitas Terbuka, Tangerang Selatan.

Menurutnya, dibutuhkan sebuah model yang terstruktur, adaptif, dan kontekstual yang mampu mengintegrasikan identifikasi risiko, penilaian risiko, mitigasi, serta pemantauan secara berkelanjutan ke dalam tata kelola pelayanan publik. Model yang ditawarkan menekankan pentingnya budaya sadar risiko di setiap lini organisasi rumah sakit sebagai prasyarat terwujudnya pelayanan yang berkualitas dan akuntabel.
Jadi Acuan Praktis Rumah Sakit
Dengan mengambil RSUD Tarakan Provinsi DKI Jakarta sebagai objek kajian, penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan risiko yang efektif berkontribusi signifikan terhadap peningkatan mutu pelayanan, efisiensi operasional, serta kepercayaan publik terhadap institusi layanan kesehatan milik pemerintah. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan praktis bagi rumah sakit daerah lain di seluruh Indonesia dalam merancang dan mengimplementasikan sistem manajemen risiko yang komprehensif.
Sementara itu Rektor UT, Prof Dr Ali Muktiyanto menilai disertasi Arjaty menghadirkan model yang sangat inovatif, karena mengintegrasikan aspek kebijakan publik, tata kelola rumah sakit, hingga operasional pelayanan kesehatan berbasis manajemen risiko.
“Ini sebuah kombinasi dan integrasi antara kebijakan hingga operasional yang belum ada sebelumnya. Dr Arjaty menghasilkan model yang berangkat dari kerangka COSO tetapi dikembangkan lebih luas dalam dunia kesehatan dan manajemen rumah sakit,” kata Prof Ali.
Menurutnya, hasil penelitian tersebut berpotensi menjadi rujukan bagi rumah sakit pemerintah di seluruh Indonesia. “Kami berharap hasil penelitian ini ditindaklanjuti melalui policy brief kepada regulator, manajemen rumah sakit, dan publik sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan berbasis ‘public value creation’,” ujarnya.
Ali menambahkan, model tersebut penting karena rumah sakit daerah memiliki posisi unik sebagai institusi pelayanan publik sekaligus organisasi yang harus menjaga keberlanjutan tata kelola dan keuangannya.
“Rumah sakit pemerintah dituntut memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, namun pada saat yang sama harus mampu menjaga keberlanjutan organisasi. Pendekatan manajemen risiko seperti ini menjadi sangat relevan,” katanya.
Dengan keberhasilan ini Arjaty menjadi doktor ke-5 Program Doktor Administrasi Publik Universitas Terbuka, sekaligus menghadirkan kontribusi ilmiah baru bagi pengembangan tata kelola rumah sakit dan pelayanan kesehatan publik di Indonesia.

Capaian akademik ini merupakan hasil bimbingan intensif tim promotor yang terdiri atas Dr. Sofjan Aripin, M.Si. selaku Promotor, Prof. Dr. Ir. H. Dahyar Daraba, M.Si. sebagai Kopromotor I, serta Prof. Dr. Ginta Ginting, M.B.A. sebagai Kopromotor II. Disertasi diuji secara kritis oleh Prof. Dr. Bambang Supriyono, MS. selaku Penguji Eksternal, dan Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. sebagai Penguji Internal. Sidang dipimpin oleh Ketua Komisi Prof. Dr. Maman Rumanta, M.Si., dengan Dr. Florentina Ratih Wulandari, S.IP., M.Si. bertindak sebagai Sekretaris Komisi.
Keberhasilan Arjaty Wahidah Daud dalam melewati ujian tertinggi jenjang akademik ini semakin mengukuhkan Universitas Terbuka sebagai institusi pendidikan tinggi jarak jauh yang mampu mencetak doktor-doktor berkualitas di bidang administrasi publik. Karya ilmiah ini diharapkan memberikan sumbangsih nyata bagi penguatan sistem pelayanan kesehatan publik di Indonesia, sekaligus memperkaya khazanah keilmuan manajemen risiko dalam konteks sektor publik. (fs)







Komentar