BOGOR – Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk yang besar, menempatkan ketersediaan pangan sebagai isu strategis yang penting. Keberadaan lahan pertanian dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, pemahaman data lahan dan tanaman pertanian sangat penting.
Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), karakter lahan dan tanaman dapat diketahui melalui teknologi geospasial.
Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Prof Baba Barus pada konferensi pers pra orasi ilmiah guru besar pada Rabu (22/5/2024) mengangkat materi ini dengan judul “Teknologi Geospasial Untuk Inventarisasi, Pemantauan, dan Prediksi Sumberdaya Lahan Dan Tanaman Pertanian”.
Ia memaparkan, pengembangan konsep geospasial dapat digunakan untuk kegiatan inventarisasi dan pemantauan berbasis lahan pada ekosistem gambut. Secara konseptual metode penentuan batas Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) dengan teknologi geospasial di tahap awal menjadi landasan kebijakan perlindungan ekosistem gambut.
“Pengembangan model pemetaan sifat tanah ini, juga dikembangkan untuk model kerusakan lahan, memanfaatkan data geospasial dalam menilai potensi kerusakan dari data kestabilan lereng yang dapat diakses, dan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone,”ujar Prof Baba.
Seiring perkembangan keilmuan geospasial, konsep ruang pemetaan lahan sawah dibuat kedalam unit petakan untuk mendapatkan variabilitas unit ruang yang jelas dan terukur. Konsep ini terus dikembangkan untuk perbaikan peta Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) diberbagai wilayah seperti Kabupaten Garut, Kabupaten Bogor, Kota Sukabumi, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Tangerang.
“Teknologi geospasial telah memasuki fase yang semakin mengedepankan ketelitian yang presisi dengan cakupan data yang lebih besar. Pemanfaatan wahana UAV atau drone dengan dukungan sensor multispektral dan thermal mampu mengamati secara terukur kerusakan lahan akibat penyakit, kekeringan dan banjir, serta orientasi pengembangan model deteksi dini,” jelasnya.
Ia mengatakan, dalam aplikasi SIPINDO terdapat penjelasan mengenai cara-cara penanaman hingga pemupukan yang sesuai dengan lahan di wilayah tersebut.
“Aplikasi tersebut sudah diunduh oleh lebih dari 100 ribu orang dan kami berharap teknologi ini semakin berkembang dengan versi yang lebih baik,”ungkapnya. (yopi)







Komentar