oleh

Selama Tiga Tahun Beroperasi, 32 Ribu Janin Diaborsi di Klinik Cempaka Putih

POSKOTA.CO–Sungguh biadap dan sadis. Mungin ini kata kata yang pantas disandang pihak klinik aborsi ilegas yang berlokasi di Jalan Percetakan Negara III, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Sejak beroperasi pada tahun 2017, klinik yang satu ini diketahui telah melakukan sebanyak 32 ribu lebih janin digugurkan dari rahim ibunya lalu dibuang ke dalam WC. Keberadaan klinik “pembunuh” janin ini lolos dari pantau penegak hukum.

Keuntungan yang didapatkan pihak klinik selama beroperasi mencapai Rp 10,9 miliar. “Dihitung dari tahun 2017, sebanyak 32.760 janin sudah digugurkan. Kasusnya masih kami dalami,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, Rabu (23/9).

Klinik ini melayani praktik aborsi ilegal dari Senin sampai Sabtu dari pukul 07.00 WIB sampai 13.00 WIB. Setiap hari mareka meraup keuntungan sekitar Rp 10 juta.

Tarif aborsi berkisar Rp 2 juta untuk mengaborsi janin berusia di bawah 5 minggu. Tarif Rp 4 juta untuk janin yang telah berumur di atas 5 minggu. Dalam satu hari klinik ini bisa melayani 5 sampai 6 orang pasien tiap harinya.

Pembagian keuntungan, dokter dapat bagian 40 persen, kemudian ada agennya sendiri, ada juga untuk pegawainya. Pegawainya dibayar Rp 250 ribu sehari. “Hari Minggu tutup,” tutur Kombes Yusri.

Pekan lalu digerebek Subdit Jatanras Ditkrimum Polda Metro Jaya. Dalam penggerebekan itu, Polri mengamankan 10 orang tersangka, yakni LA (52), DK (30), NA (30), MM (38), YA (51), RA (52), LL (50), ED (28), SM (62), dan RS (25).

Keberadaan klinik yang posisinya berada di pemukiman warga terungkap setelah polisi menerima informasi dari masyarakat bahwa ada klinik aborsi di daerah Jakpus. Dokter yang melakukan praktek di klinik itu adalah seorang calon dokter dari sebuah universitas di Medan.

Barang bukti yang disita, yakni 1 set alat sactum atau vacum penyedot bakal janin, 1 set tempat tidur, 1 unit alat tensi darah, 1 unit alat USG 3 dimensi, 1 unit alat sterilisasi, 1 set tabung oksigen, 1 nampan stainless, 1 nampan besi, 1 kain selimut, 1 bungkus obat dan 2 buku pendaftaran.

Polri menjerat para pelaku dengan Pasal 346 KUHP dan atau Pasal 438 ayat 1 KUHP, dan atau Pasal 194 jo Pasal 75 UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar.(Omi/silaen)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *