oleh

Sekjen Pemuda Tani HKTI Dilaporkan ke Polisi Atas Dugaan Penggelapan Dana Bantuan Penggemukan  Domba

POSKOTA.CO-Sekretaris Jenderal Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Pemuda Tani HKTI), AA yang juga Direktur PT Mitra Safari Buana (MSB) diduga melakukan penggelapan dana bantuan untuk budidaya penggemukan domba/kambing sebanyak 1.764 ekor di Jawa Timur dari PT Global Mahardika Netama (GMN) dengan nilai sebesar Rp 1,324 miliar dan biaya operasional Rp 94,4 juta.

“Laporan itu bentuk kekecewaan PT Global Mahardika Netama (GMN) yang merasa dirugikan sekitar Rp 1,2 miliar terhadap terlahir AA yang kapasitasnya sebagai Direktur PT MSB terlebih tidak ada niat baik walaupun sudah dilakukan somasi sebanyak dua kali hingga kini tidak ada niat baik terlahir,” kata Legal PT GMN, Kalimatua Siregar, S.H, Senin (19/9).

Surat Laporan ke Polres Metro Jakarta Selatan dengan nomor : LP/B/1961/VIII/2022/SPKT/Polres Metro Jaksel/ Polda Metro Jaya, Jumat 19 Agustus 2022 lalu karena AA dinilai tidak koperatif dan mengabaikan apa yang seharusnya diselesaikan sesuai aturan yang berlaku.

Kasus itu bermula dari permintaan AA yang mengajukan atas nama kelompok ternak Pemuda Tani HKTI kepada GMN untuk kerjasama perkodalN dan pemasaran domba/kambing namun dalam perjalanannya ternyata AA mengatasnamakan dari PT Mitra Safari Buana (MSB) melakukan perjanjian kesepakatan bersama dengan GMN, katanya.

Tidak itu saja, inbuh dia, nama-nama kelompok ternak yang diajukan pun diganti namanya oleh yang bersangkutan menjadi atas nama Kelompok Ternak Marina Farm 1 dan Kelompok Ternak Marina Farm 2.

Menurut dia, kegiatan budidaya atau penggemukan ternak domba/kambing diperuntukkan program kurban tahun 2021 tanggal 8 Maret 2021 bahwa pihak pertama PT GMN bertugas mencari dana, meminjam dan mencari akses pasar. Untuk PT MSB sebagai pihak ke dua bertugas untuk mengelola, merawat, dan menjaga kemanan ternak yang dibudidayakan baik sendiri maupun bekerjasama dengan kelompok ternak sehingga mencapai target dan layak menjadi hewan kurban.

Ia menambahkan, dana pinjaman diperoleh senilai Rp 1.996 miliar. Dana tersebut disalurkan melalui PT GMN selaku penjamin dan dikirimkan bertahap kepada AA. “Dana yang sudah disalurkan untuk pengadaan bakalan sebanyak 1.764 ekor domba/kambing senilai Rp 1,324 miliar dan biaya operasional Rp 94,4 juta,” ujarnya.

Usai penyaluran dana pihak GMN melakukan pengecekan tangal 9 Juni 2021 ternyata di kandang kelompok ternak Pasruan dan Jember hanya 1.064 ekor sehingga ada selisih sekitar 700 ekor ikan dinilai harga per ekor Rp 750.000 dengan total Rp 525 juta.

Akibat adanya ketidak sesuaian dan yang disalurkan dan jumlah domba bakalan maka pihak GMN menghentikan penyaluran penyaluran pembiayaan kepada PT MSB (Marina Farm). Bahkan dari total 1.064 ekor yang berhasil dibeli pihak ketiga hanya 457 ekor dengan harga Rp1.550.000/ekor totalnya Rp 708,3 juta sedangkan sisanya disepakati diambil atau dijual pihak GMN sebanyak 539 ekor tapi dikandang peternak hanya ada 325 ekor.

Dalam kasus tersebut GMN dirugikan sekitar Rp 1,2 miliar, dengan rincian dana yang disaluurkan Rp 1,3 miliar, biaya pakan Rp 94,4 juta, cost of fund dan bagi hasil pemberi pinjaman sekitar Rp 264,9 juta, dan bagi hasil untuk PT GMN senilai Rp 131,9 juta. Sementara uang yng diterima GMN dari hasil penjualan adalah Rp. 602,9 juta yang sudah dibayarkan kepada pemberi pinjaman, termasuk sisa dana yang belum tersalurkan. (anton/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *