oleh

Mantan Promotor Zaenal Tayeb Kini Jadi Tahanan Titipan Kejari di Polres Badung

POSKOTA.CO – Status pengusaha tersohor Zainal Tayeb kini menjadi tahanan titipan Kejaksaan Negeri Badung di Polres Badung, Bali.

Penyidik Satreskrim Polres Badung telah selesai memeriksa berkas perkara dugaan tindak pidana pemalsuan akta autentik resmi tahap II (P21), yakni telah diserahkan oleh Penyidik Reskrim Polres Badung ke Kejaksaan Negeri Badung, Selasa (7/9/2021).

Kasi Humas Polres Badung Iptu Ketut Sudana menyatakan, proses pelimpahan mantan promotor tinju internasional itu dilakukan sekitar pukul 14.15 Wita. “Pelimpahan tahap II dilakukan secara virtual karena masih PPKM. Karena situasi seperti ini (PPKM) maka pelimpahan secara online (daring),” ujar Iptu Ketut Sudana.

Dijelaskan, pelimpahan tahap II hanya menyerahkan berkas perkara ke Kejari Badung. Sedangkan penahanan Zaenal Tayeb dititip di Rutan Polres Badung. “Sekarang statusnya tahanan titipan Kejaksaan. Tidak ada penyerahan simbolis juga karena masih PPKM,” imbuhnya.

Sementara Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Badung, membenarkan bahwa Zainal Tayeb adalah tahanan Kejari Badung yang dititipkan di Rutan Polres Badung. Namun ketika ditanyakan sampai kapan batas waktunya, Kasie Intel Kejari Badung belum dapat memastikannya.”Kami belum tahu,” ujarnya singkat.

Seperti diketahui, Polres Badung Bali telah menahan Zaenal Tayeb sejak, Kamis (2/9/2021), usai menjalani pemeriksaan dari pagi pukul 10.00 Wita hingga 20.00 Wita.

Sebelumnya sempat diberitakan, Zaenal Tayeb ditetapkan tersangka pada Senin 12 April 2021. Namun, pada pemanggilan pertama, Senin (19/4/2021), ia tidak datang karena sakit. Pada Kamis (2/9/2021), Zaenal Tayeb diperiksa di Polres Badung dari pukul 09.00 Wita. Setelah dimintai keterangan dan penyidik melakukan gelar perkara, Zaenal Tayeb ditahan sekitar pukul 19.00 Wita.

Zaenal Tayeb dilaporkan rekan bisnisnya, Hendar Giacomo, terkait dugaan tindak pidana menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam akta autentik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 Ayat (1) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP.

Berawal tahun 2012, Zaenal Tayeb mengajak pelapor untuk kerja sama pembangunan dan penjualan objek tanah miliknya di Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi.

Setelah bisnis berjalan, dilanjutkan dengan pembuatan blok plan sampai dengan pembangunan beberapa unit rumah dan dijual kepada konsumen. Tahun 2017, disepakati kerja sama akan dibuatkan perjanjian notariil. Saat itu, Yuri Pranatomo (sempat jadi tersangka dan di putus bebas oleh hakim), membuatkan draft perjanjian tersebut untuk selanjutnya diserahkan kepada Notaris BF Harry Prastawa.

Dengan mengacu pada draft yang belakangan diduga tidak benar itu, notaris membuatkan akta perjanjian kerja sama pembangunan dan penjualan nomor 33 tanggal 27 September 2017.

Dalam akta disebutkan bahwa Zaenal Tayeb selaku pihak pertama memiliki objek tanah dengan delapan SHM luas total 13.700 meter persegi. Sedangkan korban (Hendar) selaku pihak kedua melaksanakan pembangunan dan penjualan di atas tanah tersebut.

Korban diwajibkan membayar nilai atas seluruh objek tanah sebesar Rp45 juta per meter persegi. Totalnya mencapai Rp61,65 miliar, dengan termin pembayaran 11 kali.

Setelah menandatangani akta dan pembayaran, korban melakukan pengecekan SHM tersebut. Ternyata, baru diketahui bahwa luas delapan SHM kurang dari 13.700 meter persegi. Luasnya hanya 8.892 meter persegi. Atas perbuatan itu, korban mengalami kerugian sekitar Rp21 miliar. (dk)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *