oleh

Kasus Raibnya Dana Nasabah Rp22 Miliar, Pengacara Maybank Hotman Paris Ungkapkan Enam Kejanggalan

POSKOTA.CO-Kuasa hukum PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) Hotman Paris Hutapea mengungkapkan berbagai kejanggalan terkait kasus saldo sebesar Rp 22 miliar di tabungan milik atlet eSport Winda Lunardi dan ibundanya, Floleta, yang dilaporkan raib di bank tersebut.

“Hari ini kami tidak membuat tuduhan atau pernyataan khusus yang bersifat menuduh, tapi mempergunakan hak jawab. Kenapa Maybank mempergunakan hak jawab? Karena kasus ini sudah disidik oleh Mabes Polri sejak Mei 2020,” kata pengacara kondang tersebut dalam konferensi pers di Jetski Cafe, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Menurut Hotman, setelah berkasnya hampir lengkap tiba-tiba pihak pelapor membukanya ke media. Sebelumnya, atlet eSport Indonesia Winda D. Lunardi, bersama kuasa hukumnya menyambangi kantor Bareskrim Polri di Jakarta Selatan pada Kamis (5/11) untuk mengetahui perkembangan kasus dugaan kejahatan perbankan yang menimpa dirinya.

Atlet cantik yang lebih dikenal sebagai Winda Earl tersebut mengaku uangnya raib di Maybank, dimana ia merasa semestinya ia dan ibunya memiliki tabungan masing-masing sebesar Rp 15 miliar dan Rp 5 miliar, tapi setelah di cek hanya tersisa Rp 600 ribu di rekeningnya dan Rp 17 juta di rekening ibunya (Floletta).

Penyidik Bareskrim Polri telah menetapkan Kepala Cabang Maybank Cipulir, Jakarta Selatan, berinisial A, sebagai tersangka dalam kasus ini dan polisi saat ini sedang menelusuri aset dan aliran dana yang digunakan oleh tersangka dan penerima dana hasil kejahatan.

Enam Keanehan

Hotman yang didampingi oleh Head of National Antifraud Maybank, Andiko, mengungkapkan berbagai hal yang disebutnya “keanehan”, mulai dari pembukaan rekening hingga pengelolaan rekening Winda dan ibunya, yang menurut keterangan pihak Maybank dibuka tahun 2014.

1. Tabungan dan Kartu ATM Winda dan Ibunya Dipegang Kepala Cabang Maybank Cipulir.
Disebutkan Hotman, hasil investigasi internal Maybank, yang mengutip pengakuan tersangka A, Winda dan ibunya menanda tangani blanko kosong dalam pembuatan rekeningnya dan hingga saat ini baik buku tabungan maupun kartu ATM dipegang oleh Kepala Cabang Maybank Cipulir.

Head of National Antifraud Maybank, Andiko, mengatakan Winda menerima buku tabungan dan ATM tersebut yang dibuktikan dengan adanya tanda terima buku tabungan dan ATM.

“Jadi orang masukin duit tapi dia tanda tangani kartu ATM seolah-olah sudah terima tapi yang pegang pimpinan cabang?,” tanya Hotman.

Andiko mengatakan “nasabah tidak pernah komplen tidak pernah menyatakan atau melakukan pengaduan atas hal itu.”

Ternyata, seperti diungkapkan Hotman, dana tabungan Winda dan ibunya berasal dari ayahnya, bernama Herman Lunardi, yang diketahui sudah mengenal lama tersangka A sebelum bekerja di Maybank.

Selanjutnya dijelaskan Hotman, total dana disetor atas nama Winda adalah sebesar Rp 17,9 miliar dan atas nama ibunya sebesar Rp 5 miliar. Ditotal, tabungan keduanya sejumlah Rp 22,9 miliar.

“Pertanyaannya adalah, anda sebagai pemilik uang mengapa membiarkan kartu ATM anda dipegang oleh orang lain? Itu salah satu yang lagi diselidiki oleh penyidik,” kata Hotman.

2. Bunga Bank dibayarkan dari Bank Lain, Ditransfer oleh Kepala Cabang Maybank.

Keanehan kedua yang diungkapkan Hotman Paris adalah pembayaran bunga kepada Winda dan Floletta ternyata dibayarkan tersangka A dari rekening bank lain bukan kepada Winda maupun ibunya selaku pemilik tabungan, tapi justru langsung ke rekening ayahnya Herman Lunardi.

“Kalau rekening normal kan ada bunga masuk tabungan kan. Pertanyaannya, waktu Maybank membayar dalam hal ini diwakili oleh si tersangka A, pernah nggak membayar bunganya atas dua tabungan ini dan dibayar dari mana uangnya dan ke mana dibayar?” tanya Hotman kepada Andiko.
“Jadi kita meneliti rekening A […] kita melihat ternyata ada aliran dana dari A kepada Herman Lunardi. Dari rekening A di Maybank, di bank lain dan juga […] rekening A di BCA,” ungkap Andiko.

Hotman mempertanyakan kenapa pemilik rekening tidak pernah protes atas bunga yang dibayarkan dari bank lain, sementara pemilik rekening menabung di Maybank.

3. Besaran bunga dan yang dibayarkan tidak sesuai, diterima bukan pemilik rekening

Maybank juga mengungkapkan, bahwa besaran suku bunga yang berlaku dari periode 2014 sampai 2016 adalah 7 persen per tahun, dan menurut kalkulasi Maybank, seharusnya Winda dan ibunya menerimba bunga Rp 1,2 miliar.

Investigasi internal Maybank, ternyata bentuk pembayaran bunga yang dilakukan oleh Kepala Cabang Maybank, tersangka A, adalah dengan cara mentransfer Rp 573 juta kepada ayah Winda.

“Ada yang protes?” tanya Hotman.

“Tidak ada,” kata Andiko.

Kasus ini sudah menjadi sengketa antara Winda dan tersangka A sejak 2016, tapi baru dilaporkan Bareskrim Polri Mei 2020.

“Sebagai pengantar lagi ada kemungkinan diduga pimpinan cabang ini melakukan praktek perbankan, “bank dalam bank”. Dia memakai uang nasabah, diputarkan diluar. Cuma pertanyaannya siapa yang ikut terlibat? Itu serahkan kepada penyidik,” kata Hotman.

4. Aliran dana Rp 6 miliar ke Prudential

Hotman juga mengungkapkan temuan investigasi internal Maybank, yakni adanya aliran dana Rp 6 miliar dari rekening tabungan Winda ke Prudential untuk “pembelian polis” atas nama Winda.

Anehnya, hanya berselang satu bulan setelah transfer ke Prudential, ada aliran balik ke rekening, lagi-lagi ayahnya Winda, Herman Lunardi.
“Jadi Rp 6 miliar dari Maybank rekeningnya si pemilik rekening ini (Winda), masuk ke Prudential Rp 6 M. Harusnya buka polis. Tapi dalam hitungan berapa hari (sebulan), kembali lagi uang ini, berapa (totalnya Rp 4,8 miliar) masuk ke rekening siapa?” sebut Hotman.

“Herman Lunardi,” jawab Andiko, yang mengatakan hal ini didapat setelah melihat mutasi rekening.

5. Buka buku tabungan, tapi dikasih rekening koran

Hotman juga menyinggung pengakuan Winda Lunardi kepada Maybank soal rekening koran palsu.

“Pertanyaan berikutnya adalah, kemarin itu kan si W [Winda] mengaku menerima rekening koran. Apakah dia tahu bahwa tabungan itu tidak punya rekening koran?” kata Hotman.

“Jadi rekening yang dibuka adalah rekening dengan buku tabungan bukan dengan account statement,” kata Andiko menjawab.

“Berarti harusnya dia tahu bahwa kenapa saya terima rekening koran sedangkan yang saya buka adalah buku tabungan? Bahkan buku tabungannya masih dipegang oleh si A,” kata Hotman.

6. Tanda tangan blanko kosong

Keanehan lainnya yang diungkap adalah terkait tanda tangan nasabah Winda di blanko kosong. “Apakah benar waktu pembukaan rekening si nasabah ttd [tanda tangan] di blanko saja,” kata Hotman Paris.

“Betul. Semua data nasabah diisi oleh A,” jawab Andiko.

Bukan kasus pembobolan bank biasa

Menurut Hotman, kasus yang menimpa Winda dan ibundanya bukanlah kasus pembobolan rekening biasa oleh pegawai bank, melainkan ada “keanehan” dari orang sekitar nasabah.

“Kami menghimbau kepada penyidik untuk meneliti, memperdalam penyidikan apa motivasi ke-enam keanehan ini. Ada apa? Maybank adalah bank besar, uang segitu saya rasa nggak susah,” ujarnya.
Namun, menurutnya, pimpinan Maybank tidak dapat mempertanggung jawabkan, jika harus membayar balik klaim nasabah yang merasa dirugikan, ke kantor pusat jika keenam kejanggalan ini belum tuntas.

“Kita tidak menuduh nasabah ini melakukan perbuatan pidana, belum menuduh, makanya kita tunggu penyidikannya selesai dulu tuntas. Ini bukan kasus yang kasat mata yang jelas siapa pelakunya. Diluar pimpinan cabang sepertinya ada orang lain,” kata Hotman.

Menurut investigasi internal Maybank, A sudah mengenal orang tua nasabah sejak lama. “Sebelum nasabah menjadi nasabah Maybank, ketika A bekerja di dua bank sebelum Maybank. Perkenalannya apa?” tanya Hotman.

“Dulu nasabah juga, pengakuan si A,” jawab Andiko.

Hotman mengatakan tidak ada tujuan Maybank untuk lebih menyulitkan nasabahnya yakni Winda dan ibundanya.

“Orang bilang kasihan udah nabung duit, kebobolan […] Tapi kita minta agar keanehan ini diperiksa,” ujarnya.

Menutup pernyataan Andiko menegaskan bahwa Maybank selalu melakukan risk management sesuai ketentuan yang berlaku termasuk “Melakukan know your employee, kita tidak hanya melakukan know your customer, tapi juga KYE, dan itu bukan karena kasus ini meledak, itu secara rutin dan reguler sesuai dengan ketentuan yang berlaku.” ujarnya. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *