oleh

Bareskrim Polri Gelar Rekonstruksi Kasus Pabrik Ekstasi di Tangerang dan Semarang

POSKOTA.CO – Penyidik Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, pada Senin (12/6/2023), menggelar rekonstruksi pembuatan pil ekstasi yang lakukan sindikat pengedar ekstasi. Lokasi pabrik pil haram itu di perumahan elite kawasan Tangerang, Banten.

Ada dua lokasi rekonstruksi, yakni di Tangerang dan Semarang, Jawa Tengah. Tercatat sebanyak 104 adegan dilaksanakan dengan lancar guna melengkapi penyidikan, berkas penyidikan agar dapat digunakan lebih lanjut.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, dari 104 adegan diperagakan dalam rekonstruksi itu, 68 adegan di Tangerang dan 36 adegan di Semarang. “Semuanya 104 adegan,” kata Brigjen Pol Ramadhan, melalui rilis yang didapat POSKOTA.CO, Selasa (13/6/2023).

Sementara itu, Kasubdit I Dittipidnarkoba Bareskrim Polri Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak menyatakan, rekonstruksi dilakukan untuk menyesuaikan dan menguji keterangan tersangka. Dari hasil rekonstruksi tersebut, penyidik berhasil mendapatkan 10 fakta baru dalam produksi pil ekstasi di pabrik gelap tersebut. “Ada enam fakta baru yang didapati di tempat kejadian perkara (TKP) Tangerang dan empat fakta baru di TKP Semarang,” ujarnya.

Enam fakta baru di Kabupaten Tangerang, menurut Kombes Calvijn, terkait peran dari tersangka DN yang mengendalikan mulai lokasi rumah hingga penerimaan mesin cetak ekstasi tersebut. Tersangka DN juga sempat diajari cara memproduksi ekstasi menggunakan mesin cetak. “Fakta selanjutnya kami temui korelasi antara para tersangka yang ada di Tangerang dengan di Semarang ternyata tersangka yang di Semarang sempat mengajari tersangka yang ada di Tangerang. Bagaimana cara memproduksi dengan menggunakan mesin cetak sehingga mereka saling komunikasi,” tutur Calvijn.

“Kemudian fakta kelima adalah, tersangka yang di Tangerang sempat mengirimkan satu paket dengan tujuan TKP kedua di Semarang yang isinya adalah hasil produksi tablet ekstasi,” lanjut Kombes Calvijn.

Fakta selanjutnya, meski pabrik ekstasi di Kabupaten Tangerang telah dibongkar, ternyata ada paket yang tengah dalam perjalanan pengiriman berupa paket lanjutan. “Tangerang adalah ini sangat menarik karena kegiatan di setiap pabrik ekstasi ini akan berkelanjutan terus sehingga pada saat polisi menangkap ada tujuh kali pengiriman paket selama 11 hari yang ada di Tangerang. Sebelas kali paket kiriman itu dari bahan baku bahan pendukung pembuatan ekstasi, mesin cetak dan ironisnya pada saat penangkapan dan penggerebekan di TKP ini ada paket lagi yang dikirimkan. Jadi paket ini untuk pembuatan produksi ekstasi ini, ini berkelanjutan,” ungkapnya.

Pada kasus di Semarang ditemukan adanya produksi empat jenis olahan ekstasi. Masing-masing menghasilkan variatif sekitar 3.000 butir ekstasi dengan tempo pembuatan setengah jam. “Fakta kedua sama dengan di Tangerang, di TKP Semarang secara berkelanjutan pengiriman ada delapan paket. Lebih ironisnya lagi, pasca penangkapan di Semarang beberapa hari kemudian kami mendapat laporan dari Direktur Narkoba Polda Jawa Tengah, ada satu paket lagi yang ditujukan dikirimkan ke TKP di Semarang,” tuturnya.

Kemudian, polisi juga menemukan bahwa tersangka di Semarang tidak hanya memproduksi pil ekstasi. Namun, mereka juga mencoba memproduksi narkotika jenis sabu secara autodidak. Tiga dari lima tersangka di Semarang merupakan residivis. “Bagaimana caranya, bahan-bahan yang ada di dalam berbentuk liquid mereka berupaya mengekstraknya. Walaupun hasilnya tidak maksimal dan jumlahnya tidak banyak hanya sekitar kurang dari 10 gram,” imbuh lagi.

“Terakhir adalah, dari lima tersangka yang sudah berhasil kita amankan dan kita ungkap tiga di antaranya merupakan residivis kasus narkotika,” papar Calvijn.

Pada rekonstruksi tersebut, polisi menghadirkan seluruh tersangka yang telah diamankan. Lima tersangka yakni TH (39) dan N (28) yang ditangkap di Kabupaten Tangerang, MR (29) dan AR (29) ditangkap di Semarang, serta satu orang berinisial DN yang menjadi koordinator lapangan pabrik Tangerang. “DN ini perannya dia pengendali lapangan, dia yang meng-hire, dia yang merekrut tersangka di Tangerang,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, sebuah rumah di Perumahan Lavon Swan City, Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, Banten, terbongkar kamuflasenya. Pasalnya rumah elite tersebut dijadikan pabrik ekstasi. Kedok ini dibongkar Dittipidnarkoba Bareskrim Polri. Awalnya polisi mendapatkan kabar soal adanya alat produksi narkotika yang masuk ke wilayah Banten dan Jawa Tengah.

Selain itu, polisi mengamankan dua pelaku terkait berinisial TH bin U (39) dan N bin I (27). TH disebut merupakan residivis narkoba yang sempat dipenjara selama satu tahun. Selanjutnya, dua tersangka lainnya berinisial MR (27) dan ARD (24) diamankan di Semarang.

Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan, pihaknya membongkar kasus ini atas kerja sama dengan Bea Cukai, Polda Banten dan Polda Jateng. Dia mengaku telah memerintahkan bawahannya agar barang haram itu tidak sampai di pasaran. (*/omi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *