oleh

Muslimat NU Selenggarakan MKNU Mantapkan Fikrah, Harakah dan Amaliah

-Daerah-215 views

POSKOTA.CO – “Memantapkan Fikrah, Harakah dan Amaliah Nahdlatul Ulama”, tema ini diangkat PP Muslimat NU dalam menyelenggarakan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) angkatan ke-2 diikuti oleh 19 Pimpinan Wilayah Muslimat di Indonesia, dan seluruh pengurus PP Muslimat NU, di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Jawa Timur, Jumat (10/1/2020).

Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA dalam pengarahannya mensitir ayat (maknanya kurang lebih-red), “Saya menawarkan amanah pada alam semesta semua menolak karena takut tidak mampu, tapi manusia justru menerima, apa itu? Ada dua amanah: pertama, amanah ilahiyah isinya akidah dan syariah. Kedua, amanah insaniyah isinya khadoriyyah dan waqiiyaah.

“Allah Swt menyuruh membentuk organisasi disebut umat, Allah tidak memerintah membentuk organisasi Islam apalagi negara Islam. Tapi Allah memerintah membentuk ummat wasatiyyah, fikriyyah dan amaliyah untuk mencapai moderasi (wasathiyyah),” tambah Kiai Said.

Dijelaskan Kiai Said, amanah insaniyyah bersifat kemanusiaan, staqofah, humanity, scientifik sedangkan khadoroh (khadoriyah) adalah people walfare, peradaban. Di tambahkan juga bahwa tujuan baik caranya baik disebut himmah, caranya tidak baik tujuan tidak baik disebut ghodob.

“Dalam menuju revolusi 4.0 yang ditandai dengan era digital, meski manfaatnya adalah kecerdasan tetapi ada madharatnya yakni adanya hate speech, maka harus mengedepankan akhlaqul karimah,” tambah Kiai Said.

Kiiai Said bersama ibu Muslimat NU

Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dalam pengarahannya menegaskan, bahwa pemikiran Kiai Said Aqil Siradj  ketua umum PBNU supaya di-breakdown apa-apa yang disampaikan tadi.

“Munculnya intoleransi karena terdapat kalangan yang berpaham keagamaan yang merasa benar sendiri. Ketika saya cerita Aswaja banyak yang tidak paham baik para pejabat di tingkat provinsi maupun kabupaten kota. Ada MKNU dan ada TOT adalah cara dan kekuatan efektif karena diluar sana ada tantangan yang luar biasa,” tuturnya.

“Rakernas Muslimat NU pada Maret 2020 butuh action plan untuk memformat dakwah Muslimat NU, jangan sampai kita terasing dari lingkungan kita. Dengan jejaring kita harus banyak menyapa untuk menguatkan nilai nilai Aswaja,” tambah Khofifah.

Disampaikan Ketua Panitia Hj Aniroh SEY, bahwa dasar penyelenggaraan MKNU adalah kebijakan PBNU dan RPJMN Muslimat NU, mengingat maraknya kekerasan atas nama agama, dan praktek hate speech di media sosial, maka diangkat tema tersebut. Seiring dengan penguatan NKRI dan peneguhan prinsip perjuangan NU: Tasamuh, Tawazun, Tawassuth, I’tidal dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Umi Zahrok MSi, salah satu peserta MKNU yang juga pengurus PP Muslimat NU merasa senang dan bangga mengikuti kegiatan MKNU ini, sebagai upaya penguatan fikrah nahdliyyah dan akan lebih baik lagi kalau langsung dipraktekkan pada level pengurus dan jemaah di semua tingkatan. Sehingga model pengkaderan NU menjadi khazanah cara berperilaku dan berpikir masyarakat Indonesia yang dikenal ramah, santun, toleransi dan cinta damai. (***)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *