ADA dua amanah Allah SWT kepada manusia, tertera dalam dua ayat yang berbeda dan memiliki dimensi-dimensi yang berbeda.
Namun, keduanya memiliki hubungan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain.
Pertama adalah perintah Allah SWT kepada manusia sebagai abdullah, yakni sebagai hamba.
Kedua adalah kedudukan manusia sebagai khalifatullah fil ardh, khalifah Allah di bumi.
Untuk amanah pertama, Allah menegaskannya dalam firman-Nya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyat: 56).
Dalam konteks ayat tersebut bahwa paling tidak ada dua aspek yang dapat ditangkap dari ayat ini adalah sebagai berikut.
Pertama, ayat ini mengandung suatu penegasan yang sangat kuat atas sebuah perintah.
Dalam Al-Qur’an banyak sekali kalimat yang retoris seperti “tidaklah… kecuali …” atau “jangan… kecuali… ” Sebagian ulama mengatakan kalimat-kalimat seperti itu mengandung makna perbuatan atau sesuatu yang sangat tegas.
Kedua, tampak pada ayat tersebut, bahwa amanah sebagai abdullah itu amat berkaitan dengan penciptaan manusia.
Dalam ayat yang berkaitan dengan amanah kedua adalah: ” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30).
Di sini jelas amanah kekhalifahan berkaitan dengan menjadikan bukan penciptaan.
Di situ kata yang dipakai bukan “khalaqa” (menciptakan) tetapi “ja’ala” (menjadikan).
Berbeda dengan menciptakan, menjadikan lebih berarti memberi predikat kepada sesuatu yang telah ada sehingga menjadi sesuatu yang lain.
Lalu apa makna terpenting dari memperbincangkan masalah epistemologis tentang dua amanah di atas.
Pertama, sebagai abdullah (hamba Allah) keharusan untuk tunduk terhadap perintah Allah merupakan suatu kemutlakan.
Dimensi abdullah sebenarnya bersifat vertikal, yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT (hablumminallah)
Di sini oleh Allah SWT diperintahkan untuk shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah maghdhah yang lainnya.
Dalam hal ini kedudukan jin sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, juga mempunyai hubungan vertikal serupa dengan manusia.
Kedua dimensi abdullah yang mengandung perintah tunduk terhadap perintah Allah, menuntut manusia yang menjalankan tugas kekhalifaan untuk selalu berada dalam garis-garis petunjuk Allah SWT.
Kekhalifaan bersifat horizantal transendental yang menunjukkan kedudukan dan tugas manusia terhadap makhluk ciptaan Allah di muka bumi.
Yaitu dengan memakmurkan kehidupan, di satu sisi; dan dengan demikian manusia telah menjalankan perintah Allah sebagai bentuk ketundukan kepada-Nya (sbagai abdullah, vertikal).
Di sinilah kedua amanah ini mempunyai hubungan yang tak terpisahkan satu sama lain.
Semoga…
Wallhu a’lam bish shawab.
Aswan Nasution, tinggal di Lombok, NTB.







Komentar