oleh

Banyak Fasilitas Umum Belum Ramah, Penyandang Disabilitas Merasa Dianaktirikan

POSKOTA.CO- Kaum disabilitas belum di libatkan dalam perencanaan pembangunan kota, terutama di sektor transportasi. Karena itu, masih banyak fasilitas umum yang tidak bisa digunakan mereka.

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) DKI Jakarta Leindert Hermeinadi mengungkapkan, kaum disabilitas masih merasa jadi anak tiri di ibukota. Sebab, masih banyak fasilitas umum yang belum ramah bagi mereka. Terutama pengguna kursi roda. Misalnya, fasilitas Transjakarta Koridor Lebak Bulus-Kota. Masih banyak halte yang tidak terjangkau pengguna kursi roda. Sebab, akses menuju halte masih berupa tangga. Mustahil, bagi pengguna kursi roda untuk melewatinya.

Selain itu, papar Leindert, banyak fasilitas transportasi belum menyediakan lahan parkir khusus bagi pengguna kursi roda. Padahal, banyak penyandang disabilitas menggunakan kendaraan khusus dari rumah untuk sampai ke transportasi umum.

“Motor yang kami pakai dimodifikasi menjadi roda tiga. Tapi di parkir motor ditolak, di tempat mobil juga,” ujar Leindert dalam diskusi virtual, kemarin.

Leindert menilai, masalah itu terjadi karena pemerintah dan para pengambil kebijakan masih berpandangan bahwa penyandang disabilitas itu objek yang perlu diberikan bantuan (charity-based). Padahal, di negara maju pandangan ini sudah berubah. Penyandang disabilitas dipandang sebagai subjek yang diberikan jaminan terhadap penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak asasi manusia (human rights-based).

Karena masih dianggap sebagai obyek itu, lanjutnya, pemerintah dalam membangun fasilitas umum tidak melibatkan penyandang disabilitas sebagai pengguna. Sekalipun dilibatkan, selama ini hanya untuk memenuhi kelengkapan administrasi.

“Kontraktor meminta masukan kami supaya persyaratan terpenuhi. Saat eksekusi, jauh berbeda dari perencanaan,” ungkapnya. Leindert mencontohkan fasilitas layanan angkutan kereta api. Awalnya didesain ramah bagi disabilitas. Area lorong di stasiun cukup luas sehingga bisa dilintasi kursi roda. Tapi, sekarang dimodifikasi menjadi lebih sempit. Sehingga, kursi roda hanya bisa masuk sampai ujung dekat pintu saja.

Leindert menyarankan, agar pemerintah menyediakan motor atau angkutan dengan bak tempel yang difungsikan untuk mengangkut kursi roda, memindahkan dari rumah menuju stasiun, terminal, bandara, dan pelabuhan, tegasnya. (ale)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *