oleh

Taksi Sediakan Makanan Ringan

Ilustrasi
Ilustrasi

POSKOTA.CO – Buat sebagain besar orang Indonesia, pekerjaan kantoran masih jadi idaman. Apa jadinya kalau pengusaha memilih jadi sopir taksi. Terlebih yang melakukan itu adalah seorang wirausahawan mempuni.

Pria sopir taxi itu sebut saja namanya Tantan. Pria tiga anak satu orang istri ini kerap dikagumi penumpangnya. Betapa tidak, karena Tantan menyediakan makanan ringan dalam taksinya. Agar penumpangnya bisa ngemil di dalam taksi kala terjebak kemacetan.

Ada sorang penumpang bertanya, kenapa harus menyediakan makanan ringan berupa kacang, minuman mineral, kue kering dan sebagainya di tempat penumpang. Tantan pun sengaja menyediakan makanan itu menikuti saran ustad di masjidnya.

Setelah lulus sebagai Sarjana Ekonomi dari Universitas Pandjajaran, Bandung, Jawa Barat, Tantan mulai menuti usahanya di batu bara. Usahanya kian maju. Punya banyak harta berlimpah, namun Tantan kurang sedakoh saat itu. makanya setelah ia renenungi, dibenarkan nasehat seorang ustaz.
Bahwa Tantan harus banyak sedekah.

Awalnya saya juga jarang penumpang, tapi ustaz yang saya jadikan tempat konsultasi saya, menyarankan untuk sedekah dari profesinya sekarang. Semisal mempermudah orang, dan salahsatunya menyediakan makanan buat penumpangnya.

“Ini merupakan profesi yang memiliki nilai tersendiri bagi saya, disini saya bisa kenal banyak orang dengan berbagai macam sifat dan karakter selain saya juga harus memberikan pelayanan semaksimal mungkin tanpa memandang latar belakang dan status penumpang yang bawa,” ujar Tantan.

Setiap harinya tantan mulai bekerja sekitar pukul 03.00 atau 04.00 dini hari, karena dia harus mengejar pesanan taksi yang membeludak dikawasan bandara Soekarno-Hatta. Setelah itu, sekitar pukul 06.00 pagi, dia mulai berkeliling disekitar Jalan Jend. Sudirman, Jalan MH. Thamrin, kawasan Kuningan, Kelapa Gading, sampai Cempaka Putih.

Dia mengatakan bahwa dengan pola seperti, sebenarnya sekitar pukul 10.00 pagi pun uang setoran sebesar Rp 313.000 perhari yang diwajibkan oleh perusahaan sudah bisa didapatkan. Sehingga selepas itu, dia hanya tinggal mencari uang untuk dirinya sendiri.

Tips Jaga Stamina

Berada di jalan selama hampir 18 jam setiap harinya, tidak membuat Nana mengeluh meskipun kondisi jalan di ibukota yang sering macet dan kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi.

Untuk mengatasi rasa lelah dan mengantuk sebagai sopir yang mengharuskanya berada dibelakang kemudi mobil selama seharian, dia biasanya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan dipusat-pusat perbelanjaan, hanya sekedar untuk mencari makan atau sedikit berbelanja tanpa meninggalkan kewajibannya mengejar setoran.

“Saya kan harus duduk mobil dalam waktu yang cukup lama tiap harinya, otomatis badan terutama kaki saya juga terasa lelah dengan posisi yang seperti itu saja, makanya saya imbangin dengan berjalan-jalan, biasanya setelah makan siang, nanti sekitar pukul 15.00 baru saya mencari penumpang lagi sampai malam, sekitar pukul 22.00 atau bahkan sampai pukul 24.00 baru kembali ke pool taksi,” katanya.

Untuk menjaga stamina, Tantan biasanya selalu menyediakan makanan kecil dan buah-buahan didalam mobil agar dia tetap bisa makan tanpa harus meninggalkan mobil, serta juga minum air mineral yang cukup untuk menghindari rasa nyeri pada pinggang karena posisi duduk yang cukup lama. Selain makanan itu disediakan untuk penumpang.

Cerita unik saat nyetir

Selama melaksanakan tugasnya, banyak hal-hal menarik yang dia temui. Dia bercerita bahwa dirinya sampai menangis bahagia ketika penumpang pertamanya membayar argo. Sampai saat ini pun tidak sedikit penumpang yang kaget sekaligus kagum ketika mengetahui bahwa yang mengemudikan taksi tersebut menyediakan makanan.

“Kadang karena ada saja yang bertanya, saya dan penumpang malah jadi banyak berkomunikasi dan bercerita. Alhamdulillah para penumpangnya pun baik-baik sekali, tidak pernah ada yang marah-marah,” ujarnya.

Menjadi sopir taksi baru pun ternyata ada banyak keuntungan. Apabila dia kurang begitu paham akan rute yang harus ditempuh, para penumpang akan lebih memaklumi dan tidak segan memberi arahan. Bahkan tidak jarang penumpang memberikan uang melebihi argo yang seharusnya dibayar, walaupun dia tidak terlalu mengharapkan hal tersebut dan menganggap sebagai bonus semata.

“Percaya atau tidak, rata-rata setiap harinya saya bisa membawa pulang uang sekitar Rp 700.000, itu sudah bersih. Jarak tempuh saya selama satu hari pernah mencapai 500 km dan itu luar biasa untuk seorang sopir seperti saya. Penumpang paling banyak biasanya pada saat hujan dan saya tidak pernah memilih-milih penumpang, meskipun hanya untuk jarak dekat sekalipun,” jelasnya.

Dia juga tidak merasa risih bergaul dengan rekan-rekan seprofesinya dan dengan pihak management ditempatnya bekerja yang kebanyakan sopir yang diawali karir sejak lama. Baginya, semuanya sama, tidak ada batasan karena Tantan bekas seorang pengusaha. Karena menurutnya, dimana pun seseorang bekerja, maka dia harus bisa mengikuti aturan dan kondisi ditempat tersebut dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada.

Kini diusianya yang telah memasuki 44 tahun, Tantan mengaku masih sangat menikmati profesinya tersebut dan belum berpikir untuk berhenti. Dia akan tetap menjalankan profesinya tersebut sampai merasa jenuh dan tidak kuat lagi menjadi seorang sopir. Dia hanya berharap, bahwa dirinya bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda agar jangan malu dengan pekerjaan apapun, selama kita bekerja dengan baik.

“Dulu saya pengusaha sukses. Mobil saya lima buah. Tapi karena ada yang tidak suka dengan saya, semua usahanya bangrut. Hidup yang dulu senang sekarang kesusahan. Dalam kondisi inilah saya banting setir jadi sopir taxi,” pungkasnya. (hais)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *