oleh

ODDSIDER, TAS ASAL BANDUNG YANG MULAI MENCURI PERHATIAN (Bagian 1)

od5 aPOSKOTA.CO – Bandung memang gudangnya potensi anak-anak muda kreatif. Anda pasti pernah mendengar gitar dengan merek Stranough yang mendunia dan digunakan oleh musisi kondang. Gitar tersebut dibuat oleh anak Bandung bernama Muhammad Satrianugraha, yang merupakan almamater Institut Teknologi Nasional (Itenas).

Bahkan dengan kreatifitasnya itu ia banyak meraih penghargaan di bidang kewirausahaan. Lalu apakah Anda pernah mendengar Fourspeed Metalwerks yang dibangun Hedi Rusdian dan Abe Aditya dengan susah payah? Ia sebuah perusahaan pionir dalam pembuatan asesoris produk logam dengan detail atau akurasi tinggi.

Produk ini didirikan kakak beradik asal Bandung, dan secara resmi menjadi merchandise band cadas kelas dunia Sepultura, juga digunakan oleh Metallica, Napalm Detah, Hatebread, Suffocation, Death Angel dan masih banyak lagi artis manca negara lain.

Bagi penyuka pakaian berbahan jeans tentu mengenal Petersaysdenim yang didirikan oleh Peter Firmansyah. Peter asli Bandung, ia memproduksi jeans, baju, serta perlengkapan fashion lainnya yang telah dikenal diluar negeri dan bersanding dengan merek-merek lainnya seperti Ripcurl, Volcom, Machbeth, dan lain sebagainya.

Dan bagi penggemar camilan, tentu mengenal keripik singkong ‘setan’ Maicih. Jajanan kecil dan ‘remeh’ itu kini sudah diekspor ke luar negeri, dipunyai oleh anak Bandung bernama Reza Nurhilman. Bahkan kini ia membangun makanan lain yang masih berhubungan dengan makanan Maicih, seperti Baso Maicih dan yang lainnya.
Demikian juga bisnis kreatifitas tas.

BUTUH TAS

Dari Bandung banyak melahirkan nama-nama sukses kreator tas. Tas memang merupakan bisnis yang menarik. Disamping pasarnya besar, karena hampir setiap orang membutuhkan tas, jenisnya juga bermacam-macam. Mulai dari tas sekolah, tas kuliah, tas laptop, tas kondangan, tas ke pasar, tas arisan, tas sosialitas sampai tas gunung. Karena itu tas selalu dibutuhkan, dan bisnis tas pun seperti tak pernah mati.

Tas juga merupakan gaya hidup. Tengok saja di kalangan selebriti (termasuk di Indonesia) yang tidak sedikit merasa bangga menggunakan tas dengan merek tertentu yang harganya super-mahal dan seperti tak masuk akal. Toh, orang rela membelinya, bahkan membelinya diperebutkan.

Di sisi lain, tas bagi pembuatnya yang menjadikan sebagai bisnis merupakan wadah untuk mengeksplor kreatifitasnya dalam menciptakan tas-tas inovatif. Hal itulah yang dilakukan oleh Pieter Ngui Surya Praja. Pembuat dan kreator tas bermerek ‘Oddsider Passion’ yang juga berasal dari Bandung, dan juga tercatat mahasiswa Itenas.

Bermula dari kesenangannya terhadap tas, lalu membuat sendiri tas yang dianggap secara fungsional tepat dan secara bentuk menarik, serta fashionable, ia mendirikan usaha pembuatan tas. Pieter bahu membahu membangun Oddside Passion bersama teman dekatnya bernama Vonny Destriany.

Sejak tahun Desember 2012 keduanya menekuni bisnis ini. Bermula dari pesanan teman-teman kuliahnya yang tertarik dengan tas buatan Pieter, lalu promosi di media sosial, baik di twitter, facebook, instagram, tumblr, dengan alamat ‘Oddsider Passion’, akhirnya gayung bersambut, permintaan mulai mengalir.od3 a

“Memang, kami masih belum punya toko, masih konsinyasi dan menerima pesanan saja, itupun sudah kewalahan menanganinya. Oddsider saya tekuni dengan serius, saya yakin nantinya akan berkembang. Menggeluti bisnis tas ini unik, orang sebenarnya perlu satu dua tas saja.

Tapi nyatanya banyak orang punya tas puluhan, baik pria atau wanita. Fungsinya jadi seperti baju. Karena itu bisnis tas ada masa-masa booming bagi brand yang sedang disukai. Kalau disimak, bisa dilihat, dulu tas dengan brand A naik daun, lalu turun diganti dengan brand B yang baru, begitu seterusnya,” tutur Pieter.
Oddsider tidak menspesialisasikan membuat tas wanita atau pria saja. Keduanya ditangani.

Apalagi menurut Pieter perkembangan trend tas belakangan ini menarik. Kini banyak tas yang disukai dari jenis unisex. “Nah, disana tantangannya, bagaimana membuat tas unisex yang pas, menarik dan target marketnya dapat. Tidak mudah tapi bisa dicari kreatifitasnya,” jelas Pieter.

Untuk tahun 2013 – 2014 lalu, Oddsider banyak menerima pesanan army look, dan tentu berbahan kain. Umumnya pemesannya mahasiswa, bentuknya seperti tas tentara jika berada di lapangan atau medan, sehingga bisa diisi sedikit atau banyak. “Tahun kemarin memang trand-nya ke army look, kita lihat apa tahun 2015 ini masih kuat trend tersebut. Perkembangan trend tas sangat dinamis,” jelas Pieter.

Bicara soal target market, menurutnya, Oddsider menargetkan ke kelas menengah. “Mahasiswa juga merupakan target market yang cukup besar,” katanya. Namun ia juga ingin punya anak brand yang khusus membuat pasar bawah, meski sekarang belum tahu pasar bawah mana yang dibidik, karena kategori kelas bawah juga bervariasi. Dayly bag bisa juga ada di kelas bawah, tapi kan harus jelas kemana targetnya,” jelasnya. (dann julian/bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *