oleh

Mahasiswa UI Pertanyakan Pengusutan Kasus Pemerkosaan

25perkosaPOSKOTA.CO- Dengan mengenakan almamater kuning puluhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi unjukrasa sambil membentangkan spanduk bertuliskan adili Sitok di depan Mapolda Metro Jaya, Kamis(14/8).

Puluhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mempertanyakan pengusutan kasus pemerkosaan rekan mereka berinsial RW,22, mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, yang diduga dilakukan oleh budayawan dan seni Sitok Sunarto.

Mahasiswa juga mempertanyakan, penyidik yang belum juga menetapkan Sitok Sunarto sebagai tersangka. Di sisi lain, mahasiswa melihat adanya kejanggalan, didalam kasus pemerkosaan yang dialami oleh RW yang seharusnya ditangani Subdit Remaja Anak dan Wanita (Renakta) justru, ditangani Subdit Keamanan Negara(Kamneg)

“Dalam proses mencari keadilan, sebagai perempuan-korban, RW menerima beberapa sikap diskriminasi.Antara lain, kasusnya tidak lagi ditangani Ditreskrimum Unit III Subdirektorat Remaja Anak dan Wanita, Polda Metro Jaya melainkan oleh Subdirektorat Kemanan Negara,” kata Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia(BEMUI) Ivan Riansa dalam orasinya.

Ivan menjelaskan, tidak ada alasan penyidik untuk menghentikan kasus(SP3), dengan dalih minimnya alat bukti. Polisi, kata Ivan, harus menggunakan bukti-bukti hukum progresif. “ Tidak ada alasan bagi polisi untuk menghentikan penyidikan, kasus ini karena kuasa hukum sudah memberikan bukti-bukti yang mendukung hukum progresif yang dimaksud polisi kepada penyidik.

Kuasa hukum sudah memberikan bukti berupa dua orang saksi pendukung( korban kekerasan seksual SS lainnya), keetrangan ahli, dan tes psikology. Saksi ahli yang diminta keterangannya merupakan ahli dibidang psikology dan anthropology hukum yang dapat memperkuat hukum progresif.

Namun polisi menolak keterangan keduanya.Begitupula dengan hasil tes psikology yang dilakukan Yayasan Pulih. Penyidik lebih memilih menggunakan keterangan ahli yang dihadirkan polisi, yang tidak berpengalaman dalam kasus kekerasan seksual,” tuturnya. sapuji

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *