oleh

“Cintailah Produk-Produk Indonesia”

SETELAH di periode keduanya (dan itu pun sudah di pertengahan jalan),  Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) meminta seluruh kementerian dan lembaga agar menghentikan anggaran belanja untuk produk dari luar negeri. Untuk kemudian mengutamakan produk dalam negeri.

Biar sangat terlambat atas apa yang diinstruksikan Jokowi itu baguslah. Dengan memprioritaskan produksi dalam negeri, praktis ekonomi kerakyatan bisa lebih bergerak.  Di tengah pandemi Covid-19 saat ini,  kebutuhan atas segala sesuatu yang berkaitan dengan Covid-19,  mulai dari masker,  alat pelindung diri (APD) hingga kebutuhan medis lainnya belilah yang merupakan produk dalam negeri.

Menengok puluhan tahun ke belakang, ketika Soeharto menjadi presiden,  ada yang namanya Menteri Muda Urusan Peningkatan Pemakaian Produksi Dalam Negeri. Salah satu menterinya ketika itu adalah Ginanjar Kartasasmita.

Menteri Muda ini salah satu tugas utamanya,  adalah pastinya bagaimana agar rakyat Indonesia lebih mencintai produk-produk dalam negeri ketimbang produk-produk asing.

Dan yang tak kalah pentingnya, ketika itu juga ada Gerakan Kesadaran Nasional.  Maka kemudian kawasan perumahan yang memakai nama asing ramai-ramai mengganti nama. Legend City misalnya mengganti nama menjadi Kota Legenda.  Discotheque berganti nama menjadi diskotek.  Bahkan kemudian apa yang disebut sebagai beauty salon pun berganti nama menjadi salon kecantikan.

Sekarang?  Coba anda datang ke Kawasan Jababeka dan Lippo Cikarang Bekasi.  Begitu banyak papan reklame dan juga nama toko atau restaurant bertukiskan huruf kanji. Bukan cuma itu,  cernati saja berapa banyak nama perumahan yang memakai istilah asing,  mulai River View,  Grand Lake, Country dan nama -nama lain  yang keinggris-inggrisan.

Inikah yang dinamakan atau bagian globalisasi? Yang jelas buat saya rakyat kelas pinggiran,  bahwa nasionalisme setidaknya berawal dari hal-hal yang kecil.

Cak Lontong dalam satu lawakannya bertutur,  ke mana pun dia pergi ke luar negeri dia selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Kata dia,  bukan karena dia tak bisa Bahasa Inggris tapi karena dia cinta Indonesia.

Lantas, jauh hari sebelum Jokowi memerintahkan menteri kabinetnya untuk mengutamakan pemakaian produksi dalam negeri dalam pembelanjaan anggarannya, bos bermata sipit dan berlidah cadel,  jauh- jauh hari sudah beriklan di teve, ” Cintailah ploduk-ploduk Indonesia.” (agus suzana)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *