oleh

Dokter RS Sari Asih Bintaro: Tipes Bukan Disebabkan Kelelahan Melainkan Infeksi Bakteri

TANGERANG – Anggapan bahwa penyakit tipes muncul akibat terlalu lelah atau kurang istirahat masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal, secara medis demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Bintaro, dr. Yoppi Kencana, Sp.PD, mengatakan kelelahan memang dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga seseorang lebih rentan terserang penyakit. Namun, kondisi tersebut bukan penyebab utama terjadinya tipes.

“Masih banyak masyarakat yang mengaitkan tipes dengan kecapekan. Padahal penyebab utamanya adalah infeksi bakteri Salmonella typhi yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi,” kata dr. Yoppi, Rabu (29/7/2026).

Ia menjelaskan, pemahaman yang keliru tersebut kerap membuat sebagian orang menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan karena menganggap keluhannya akan membaik hanya dengan beristirahat. Akibatnya, pasien baru mendapatkan penanganan ketika gejala sudah semakin berat.

Menurut dr. Yoppi, demam tifoid merupakan infeksi akut yang menyerang saluran pencernaan, terutama usus halus. Setelah masuk ke dalam tubuh, bakteri Salmonella typhi berkembang biak dan memicu peradangan.

Salah satu gejala khas penyakit ini adalah pola demam yang meningkat secara bertahap setiap hari atau dikenal sebagai step-ladder fever. Suhu tubuh dapat mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius dan umumnya lebih tinggi pada sore hingga malam hari.

Selain demam, penderita juga dapat mengalami mual, muntah, nyeri ulu hati, hilang nafsu makan, sakit kepala, tubuh terasa lemas, hingga gangguan buang air besar. Pada orang dewasa, keluhan yang lebih sering muncul adalah sembelit, sedangkan pada anak-anak lebih banyak ditemukan diare.

Lebih lanjut, dr. Yoppi mengatakan bakteri penyebab tipes menyebar melalui jalur fekal-oral, yaitu ketika makanan atau minuman terkontaminasi bakteri dari kotoran penderita kemudian tertelan oleh orang lain.

Risiko penularan meningkat pada lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik, kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan, mengonsumsi air yang belum dimasak hingga mendidih, maupun membeli makanan dari tempat yang kebersihannya tidak terjaga.

Untuk memastikan diagnosis, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik yang dapat dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang seperti tes darah lengkap, Tes TUBEX TF, maupun kultur darah. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *