oleh

Revitalisasi Mangkrak 10 Tahun, DPRD Desak Pengelolaan Lokbin Munjul Dilimpah ke Pasar Jaya

JAKARTA – Dinas perindustrian, perdagangan, koperasi, dan usaha kecil menengah (PPKUKM) DKI Jakarta dianggap belum mampu untuk mengelola Lokasi Binaan (lokbin) Munjul, Cipayung, Jakarta Timur. DPRD pun menyarankan agar pengelolaan diberikan ke Perumda Pasar Jaya agar lebih fokus.

Wacana pengambilalihan pengelolaan itu lantaran sudah 10 tahun proyek revitalisasi Pasar Munjul yang menelan anggaran Rp10,2 miliar dibiarkan terbengkalai oleh Dinas PPKUKM DKI. Gedung yang rencananya disiapkan untuk para pedagang pun kini terbengkalai hingga kondisinya rusak dan dijadikan kandang ayam.

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Karyatin Subiyantoro mengatakan, bila Dinas PPKUKM tidak dapat melanjutkan revitalisasi maka pihaknya mendorong pengelolaan Lokbin Munjul dialihkan.

“Kalaulah ternyata tidak mampu saya yang akan mendorong dan berharap bahwasanya ini bisa dilimpahkan ke yang kompeten dan profesional,” kata Karyatin, Sabtu (18/5).

Dikatakan Karyatin, pengelolaan Pasar Munjul dapat dialihkan kepada Perumda Pasar Jaya selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang mengelolanya pasar-pasar di DKI Jakarta. Apalagi akibat terbengkalainya revitalisasi membuat para pedagang dan pembeli mengeluh.

“Apakah itu (dialihkan ke) Pasar Jaya atau lainnya. Intinya bagaimana masyarakat dengan aduan yang sekian lama harus ada solusinya. Jangan sampai dibiarkan tanpa adanya kejelasan,” ujar Karyatin.

Meski dalam kondisi seadanya, sambung Karyatin, selama ini para pedagang setiap bulan juga harus membayar retribusi kepada Pemprov DKI Jakarta. Karena itu mereka patut mendapat kios lebih layak untuk tempat menjajakan dagangan. “Ini sudah hampir 8 tahun mereka berjualan di kios yang awalnya hanya dijadikan tempat relokasi sementara,” imbuhnya.

Atas kondisi itu, Karyatin mengaku prihatin melihat langsung kondisi gedung Pasar Munjul yang terbengkalai dan mendengar keluhan pedagang. Apalagi pedagang terus merogoh kocek dari uang sendiri untuk memperbaiki kios berukuran 2×3 meter yang kondisinya jauh dari kata layak.

“Bila hujan deras para pedagang Pasar Munjul hanya bisa gigit jari karena tak bisa melakukan aktivitas jual beli, kondisi ini membuat para pembeli ogah datang untuk berbelanja,” imbuh Karyatin.

“Kita harus menyongsong Provinsi DKJ, daerah khusus Jakarta yang konon disebut kota global. Mana mungkin kita menjadi kota global kalau pasar seperti ini tidak bisa dikelola dengan baik,” tuturnya. (Ifand)

Foto : Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Karyatin Subiyantoro saat mengecek kondisi Lokbin Munjul. (Ifand)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *