oleh

Nggak Bisa Ereksi dengan Istri, Anak Tetangga Dicabuli

POSKOTA. CO – Dugaan pencabulan anak dibawa umur, seorang pria dengan inisial AS, 47, di Kota Bogor kini berurusan dengan polisi. Menghadapi tuduhan pencabulan anak ini, pelaku berdalih, perbuatan itu dilakukan karena tak bisa ereksi saat berhubungan dengan istri.

Selain mengamankan pelaku, polisi juga menyita barang bukti berupa uang Rp 10 ribu dan pakaian korban. AS yang kini sudah menjalani penahanan di Mapolresta Bogor Kota, guna kelancaran proses pemeriksaan, terancam Pasal 76 E UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Wakil Kapolresta Bogor Kota, AKBP Arsal menyatakan, kejadian yang menimpa AP (10) berawal saat korban melintas di depan rumah pelaku sekitar pukul 19.00 WIB beberapa waktu lalu.

Saat melihat korban, pelaku lalu memanggil korban dan mengajaknya ke pinggir Sungai Cisadane tidak jauh dari rumahnya.Dilokasi yang sepi, pelaku merayu dan memangku korban dengan iming-iming uang Rp10 ribu.

Saat korban dipangku, pelaku lalu beraksi dengan menggesek alat kelaminmya ke bagian intim korban. “Saat korban dipangku, AS menggesek alat kelaminnya ke bagian vital korban,” kata AKBP Arsil.

Perbuatan pelaku ini, oleh korban lalu di ceritakan kepada orangtuanya. Mendengar penuturan ini, orangtua korban tak terima dan melapor ke Mapolresta Bogor Kota.

Setelah keterangan orangtua korban, polisi lalu mengejar AS. Pria bejat ini akhirnya ditangkap. Dalam pemeriksaan, pelaku mengaku perbuatannya itu dilakukan karena tidak ereksi dengan istrinya. Maka untuk memuaskan hasratnya, pelaku mencoba menyalurkan nafsunya kepada korban yang masih tetangga rumahnya.

“Baru satu kali. Sama istri nggak ereksi. Sama korban juga sama, tidak ereksi. Nyesel kalau udah gini mah,”kata AS.
Berdasarkan data yang didapat, sejak bulan Januari hingga Maret 2021, ada 25 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual pada anak.

Bahkan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bogor mencatat, dari 25 kasus tersebut, 10 diantaranya merupakan kasus rujukan dari kepolisian.

Iit Rahmatin, Koordinator dan Advokat P2TP2A Kota Bogor menyatakan, 10 kasus yang dilaporkan Polresta Bogor Kota kepada P2TP2A hingga saat ini masih berjalan. “Bulan Maret ini sendiri ada tiga kasus. Tapi dari seluruh laporan yang kami dapatkan, didominasi oleh KDRT dan kekerasan seksual,” kata Iit.

Iit mengaku, pada awal Covid 19 di tahun 2020 lalu, P2TP2A mencatat ada 112, dimana sebagian besar adalah kasus KDRT.
“Awal Covid masuk Indonesia yang berdampak ke ekonomi keluarga, banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini karena banyak orang yang bekerja di rumah,” ujarnya.

Atas korban yang sangat banyak ini, P2TP2A melaksanakan fungsi pendampingan hukum maupun psikologis lebih khusus anak-anak baik saat masih di kepolisian maupun di pengadilan. Bagi Iit, pendampingan sangat perlu, guna memulihkan kondisi korban yang tertekan secara psikologis.

Atas beragam kasus yang menimpa anak-anak ini, AKBP Arsal Sahban mengatakan, polisi bersama P2TP2A yang berada di bawah naungan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), akan menangani psikologis anak-anak yang terdampak.
“Kita ingin mewujudkan Kota Bogor sebagai kota ramah anak. Mereka ini generasi penerus bangsa yang harus dijamin masa depannya,” tegas orang nomor dua di jajaran kepolisian Kota Bogor ini. (yopi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *