BOGOR — Kunjungan wisatawan ke Kebun Raya Bogor mengalami peningkatan signifikan selama libur panjang akhir pekan yang bertepatan dengan Paskah. Lonjakan jumlah pengunjung mencapai sekitar 30 persen dibandingkan akhir pekan biasa.
Pada hari normal, jumlah pengunjung berkisar 7.000 orang, namun selama libur Paskah terjadi penambahan sekitar 2.000 pengunjung. Peningkatan ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk berwisata di ruang terbuka yang menawarkan suasana sejuk dan asri.
Manajemen menghadirkan berbagai program menarik untuk menghibur sekaligus memberikan edukasi kepada pengunjung. Salah satu yang paling diminati adalah program Botanical Journey yang mengajak wisatawan mengenal ragam koleksi tanaman.
Selain itu, tersedia pula berbagai kelas edukasi seperti kokedama, terarium, dan ecoprint yang memberikan pengalaman interaktif bagi pengunjung, khususnya keluarga dan pelajar.
General Manager PT Mitra Natura Raya, Zaenal Arifin, menyampaikan bahwa momen libur nasional memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah wisatawan.
Kebun Raya Bogor menjadi pilihan favorit warga dari Jakarta, Depok, hingga Tangerang karena kombinasi keindahan lanskap, udara yang sejuk, serta koleksi tanaman yang unik dan beragam.
“Untuk menghibur pengunjung, berbagai program menarik selama liburan Paskah seperti Botanical Journey menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dan berbagai kelas edukasi lainnya seperti kokedama, terarium dan ecoprint,” kata General Manager PT Mitra Natura Raya, Zaenal Arifin, melalui rilis yang diterima wartawan media ini Senin (6/4/2026).
Salah satu daya tarik utama adalah keberadaan Victoria amazonica atau teratai raksasa yang memikat perhatian pengunjung.
Meski ukurannya tidak sebesar di habitat aslinya di Amazon, keindahan tanaman ini tetap menjadi magnet tersendiri.
Seorang pengunjung asal Jakarta bernama Rahmad mengaku, ia dan keluarganya memilih berwisata ke KRB, karena tertarik dengan danau teratai.
Ia mengaku, daun Teratai Raksasa di Sungai Amazon yang dapat mencapai 3 meter, berbeda dengan daun Teratai Raksasa (Victoria Amazonica) di Kebun Raya Bogor, yang lebarnya hanya 1 – 1,5 meter.
“Hal ini menjadi pembeda dan menarik dan indah dilihat. Mungkin karena cuaca serta iklim di Bogor berbeda dengan negara asalnya, Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain teratai, kelapa kembar yang ada di KRB juga menarik untuk dilihat dari dekat.
“Saya baca dari berita, kalau pihak Kebun Raya Bogor mendatangkan Kelapa kembar jantan dari Kebun Raya Singapura dan Thailand untuk membuahi kelapa kembar betina yang ada disini. Jadi penasaran aja. Makanya mau lihat langsung,” ujarnya.
Tidak hanya menyuguhkan keindahan alam, Kebun Raya Bogor juga menyimpan nilai sejarah. Salah satunya adalah pohon tertua Litchi chinensis Sonn yang ditanam sejak tahun 1823 dan masih berdiri hingga kini, meski tidak lagi berbuah.
Bibirnya didatangkan dari Cina bagian selatan pada jaman kolonial Belanda.
Di sisi lain, terdapat pula situs bersejarah berupa Patung Lembu Nandi berbentuk parung Sapi yang menjadi daya tarik wisata budaya.
Patung ini diyakini berasal dari kawasan kota kuno di kota batu, Ciapus dan dipindahkan ke Kebun Raya Bogor pada abad ke-19 ini, menampilkan sosok Lembu Nandi, kendaraan Dewa Syiwa, yang keberadaanya di Kebun Raya Bogor cukup misterius.
Menurut beberapa sejarawan Bogor, patung ini dipindahkan oleh Dr. Frideriech ke Kebun Raya Bogor pada pertengahan.
Ada juga yang bercerita bahwa C.G.C. Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogorlah, yang memindahkan patung ini.
Pengunjung mengaku memilih Kebun Raya Bogor sebagai destinasi wisata karena menawarkan pengalaman lengkap, mulai dari rekreasi hingga pembelajaran.
Selain menikmati pemandangan, pengunjung juga dapat mengenal sejarah serta keanekaragaman hayati.
Bagi kalangan pendidik, Kebun Raya Bogor juga menjadi lokasi pembelajaran luar ruang yang menarik, terutama untuk mengenalkan berbagai jenis tanaman dan sejarahnya kepada siswa.
Regina, seorang guru yang datang ke Kebun Raya Bogor bersama sejumlah muridnya menuturkan, dirinya tertarik dengan berita tentang keberadaan bibit pohon Kina yang dibawa dari Brazil pada 1852, namun tidak berhasil tumbuh dengan baik di Kebun Raya Bogor.
“Sebagai guru saya ingin punya data yang benar, ketika berbicara ke murid. Saya ingin tau kenapa di KRB gagal tumbuh, tapi begitu dibawa bibitnya ke daerah Pangrango-Cibodas, (sekarang Kebun Raya Cibodas) pohon Kina ini tumbuh dengan subur,” kata Regina.
Lonjakan pengunjung selama libur Paskah ini mempertegas peran Kebun Raya Bogor sebagai destinasi wisata unggulan yang tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga nilai edukasi dan konservasi. (yopy/fs)







Komentar