oleh

‘Lockdown’ 3 Bulan di Rumah, Santri Penghafal Al-Quran Mulai Kembali ke Pesantren

POSKOTA.CO – Santri di Bekasi mulai lega. Pasalnya, mereka sudah berangsur boleh kembali ke pesantren untuk belajar lagi.

Suasana di pesantren penghafal Al Qur`an di Nurul Qur’an, Babelan, Kabupaten Bekasi, sejak Rabu (24/6) pagi mulai ramai. Santri mulai diperbolehkan datang. Meski, kedatangan mereka menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

“Hanya santri takhosus (khusus menghafalkan Al Qur`an). Itu pun bertahap,” kata Ustaz Ahmad, satu pengurus pesantren.

Kedatangan para santri ini langsung disambut tim kesehatan dari Puskesmas Babelan II. Mereka dicek suhu, dilakukan wawancara kesehatan. Mereka juga diwajibkan membawa surat sehat dari Puskesmas.

“Kita memang ikhtiar. Jadi ya harus tegas. Kalau ada santri yang sakit atau tidak membawa surat sehat, kita pulangkan lagi. Menunggu nanti dia sehat baru boleh ke pesantren,” kata Kamaludin, petugas pemeriksa kesehatan.

Upaya pesantren menghadapi pandemi ini memang cukup berhati-hati. Saat ini, disediakan tempat cuci tangan di pintu gerbang. Lengkap dengan sabun.

Kepulangan tahap pertama ini sangat disambut lega para santri. Mereka mengaku sudah bosan di rumah. Ingin bisa mengaji lagi bersama guru di pesantren.

Selama tiga bulan mereka dipulangkan gara-gara pandemi. Mereka -dalam istilah pesentren- tidak libur, tetapi mereka diwajibkan belajar dan mengaji di rumah. Karena pihak pesantren akan melakukan imtihan (ujian) selepas mereka masuk ke pesantren.

Para santri semasa ‘lock-down’ juga dilarang keras memegang hape dan membaca doa qunut nazilah dalam setiap shalat mereka. Para santri ini juga dilarang ke luar rumah.

Puncak kerinduan para santri ini tampaknya beralasan. Saat di pesantren mereka banyak teman, padat mengaji setiap saat. Ketika harus pulang karena mencegah penyebaran virus covid-19, mereka harus sendirian di rumah. Mengaji sendiri, shalat sendiri dan lainnya sendiri. Dan itu sangat lama, sekitar 3 bulan.

Maka, ketika mereka diijinkan balik ke pesantren, kelegaan ini memuncak. Mereka bersemangat saat memeriksakan kesehatan ke Puskesmas sebagai syarat bisa kembali belajar di pesantren.

“Kami kangen mengaji bersama teman-teman,” kata Syifa Aulia, satu santri NQ Babelan.

Pesantren Tahfidz NQ Babelan adalah pesantren kecil namun sangat produktif dalam melahirkan para penghafal Al Qur`an. Meski santri tak lebih dari 200 santri, namun beberapa alumni sudah berprestasi, bahkan di tingkat internasional. Setiap tahun tak kurang dari 7 samai 10 penghafal Alquran diwisuda ketat di pesantren ini.
Selamat belajar kembali para santri. (chotim/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *