oleh

Karakter Bani Israil dalam Al-Qur’an

Oleh : Karsidi Diningrat

ALI bin Abi Thalib ketika mendeskripsikan Al-Qur’an, ia mengatakan, “Kitab suci yang diturunkan Allah ini, di dalamnya terdapat cerita tentang orang-orang sebelum kalian, kabar tentang orang-orang setelah kalian, dan hukum tentang apa pun yang terjadi di antara kalian. Kitab ini merupakan pembeda antara kebenaran dan kebatilan, bukan gurauan. Barangsiapa yang meninggalkannya karena kesombongannya, maka Allah pasti akan membinasakannya. Barangsiapa yang mencari petunjuk kepada selain kitab ini, maka ia pasti akan tersesat. Kitab ini adalah penasihat yang bijaksana dan petunjuk jalan yang lurus. Kitab ini tidak akan terselewengkan oleh hawa nafsu, dan tidak akan tersamarkan oleh lisan yang tak cerdas. Para penggali ilmunya tidak akan pernah kekenyangan pengetahuan, dan para pembacanya tidak akan pernah merasa terlalu bosan mengulanginya. Kitab ini tidak akan pernah habis kemujizatannya, bahkan bangsa jin pun merasa takjub hingga berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.” (QS. Al-Jinn, 72: 1-2).

Tentang Bani Israil, Al-Qur’an tidak membicarakan mereka secara khusus pada satu tempat (ayat-ayat atau surah-surah tertentu) melainkan hampir pada setiap tempat darinya. Hampir di setiap surah dari Al-Qur’an terdapat banyak penjelasan tentang kisah, akhlak, prilaku, tabiat, karakter, dan lain-lainnya dari orang-orang Yahudi ini. Ini menunjukkan bahwa pembahasan tentang kaum Nabi Musa ini mengandung ibrah yang sangat banyak bagi siapa pun yang mau menelitinya, di samping ia adalah sebuah pembahasan yang tidak mudah sehingga membutuhkan penjelasan yang banyak dan berulang-ulang. Yang jelas, barangsiapa yang mendalami ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang mereka, akan menemukan sebuah kebenaran hakiki yang tidak ia temukan dalam kitab-kitab lain.

Secara statistik, ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan—mau pun hanya mengisyaratkan—tentang orang-orang Bani Israil ini berjumlah sebanyak sepertiga–atau bahkan lebih—dari keseluruhan ayat yang ada padanya. Ada beberapa karakter dari Bani Israil, di antaranya yaitu:

Bani Israil adalah Kaum Perusak di Muka Bumi

Orang-orang Yahudi adalah biang keladi dari berbagai kerusakan yang terjadi di muka bumi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka (orang Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sungguh, amat buruk apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-Ma’idah, 5:62) dan, “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Ma’idah, 5: 42).

Dalam firman-Nya yang lain dikatakan, “Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu, ‘(padahal) sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka. Ia menafkahkan sebagaimana Ia kehendaki. Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Ma’idah, 5: 64).

Penafsiran Prof. Dr. Muhammad asy-Syarqawi dari ayat-ayat di atas menuturkan beberapa karakter buruk Bani Israil, yaitu:–Kebenaran tidak menambah selain kedurhakaan dan kekafiran mereka. Mereka adalah musuh abadi bagi kebenaran. –Hati mereka penuh dengan permusuhan dan kebencian terhadap umat lain selain mereka sampai hari kiamat.–Mereka suka menyalakan api kekacauan dan peperangan di antara bangsa-bangsa. –Mereka selalu berusaha keras dalam membuat kerusakan di muka bumi. Namun, Allah senantiasa akan mengintai mereka karena Ia tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

HAMKA mengatakan menyebut perangai buruk setengah mereka suka datang mendengar-dengar perkataan, tetapi bukan buat diterima, melainkan buat disalah-artikan, artinya didustakan, dilebih-lebihi atau dikurangi. Dan mereka suka memakan harta haram, ialah harta uang suap, uang sogok. Cocok buat diartikan menjadi “uang suap”. Karena kalau sudah disuapi mulut mereka terkatup mati, tidak berbicara lagi, sehingga “mati bicara” mereka, tidak berani lagi menegur yang salah dan menegakkan hukum keadilan.”

Bani Israil adalah Kaum Pembangkang terhadap Tuhan

Karakter yang paling jelas dan paling utama dari orang-orang Bani Israil adalah bahwa mereka membangkang kepada Tuhan dan ingkar kepada-Nya. Ini terbukti dari sikap mereka yang congkak dan melampaui batas terhadap Allah dan firman-Nya, para rasul, malaikat, dan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Mereka mengingkari surga, neraka, dan hal-hal yang lainnya yang wajib diimani.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” (QS. Ali ‘Imran, 3: 181) dan, “Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu,” sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.” (QS. Al-Ma’idah, 5: 64).

Kaum Yahudi menganggap bahwa Malaikat Jibril adalah musuh mereka, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an, “Katakanlah, ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS, al-Baqarah, 2: 97-98) Bahkan, mereka meremehkan wahyu Allah dan congkak terhadap Kitab-Nya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan. ‘Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah, ‘padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran, 3: 78).

Bani Israil  adalah Kaum yang Keras Hati

Di antara karakter kejiwaan orang-orang Yahudi adalah kerasnya hati mereka dari menerima kebenaran, sekalipun kebenaran itu telah berada di depan mata mereka sendiri. Dalam hal ini Allah telah berfirman., “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu,” (QS. Al-Ma’idah, 5: 13) dan, “Dan mereka berkata, ‘Hati kami telah tertutup.” (QS. Al-Baqarah, 2: 88).

Hati yang tertutup adalah hati yang telah terlalu banyak dibebani oleh dosa dan kejahatan sehingga tidak mampu lagi memahami dan menerima hakikat kebenaran dan hanya condong kepada hawa nafsu. Al-Qur’an telah mengungkap dengan sangat jelas karakteristik kejiwaan Bani Israil ini. Perumpamaan menakjubkan yang tertulis di dalam Al-Qur’an berikut mengenai kekerasan hati Bani Israil, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya, diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, dan diantaranya sungguh ada juga yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah, 2: 74).

Mereka telah terlalu banyak melakukan dosa besar sehingga dosa-dosa itu menutup, menggelapkan, dan membinasakan hati mereka sendiri. Akibatnya, mereka terbiasa dengan berbagai kekufuran, bahkan menjadikan kekufuran-kekufuran itu sebagai agama dan adat mereka. Itulah sebabnya mereka berada dalam kesesatan yang berkepanjangan, apalagi semua itu mereka wariskan kepada anak cucu mereka.  Oleh sebab itu, Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang jati diri mereka dengan ayat-ayat yang ringkas dan tegas supaya perhatian tertuju kepada ayat-ayat itu dan umat Islam menjadi sadar akan siapa sebenarnya kaum yang durhaka dan pembangkang ini, yang para nabi dan rasul pun tak luput dari kejahatan mereka.

Bani Israil adalah Kaum Pendendam dan Pendengki

Orang-orang Yahudi adalah bangsa yang suka mendendam dan mendengki, sebagaimana Allah Swt berfirman, “Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendati pun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia, ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa’, 4: 53-54) dan, “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqarah, 2: 109).

Jiwa bangsa Yahudi telah dirasuki oleh dendam kesumat dan kedengkian yang kelam. Mereka dengki kepada semua umat selain mereka, khususnya umat Islam. Oleh karena itu, mereka senantiasa tekun dalam membiasakan kebiadaban dan perbuatan-perbuatan menjijikkan untuk dilakukan oleh umat manusia, serta melakukan segala tipu muslihat untuk mencapai tujuan tersebut. Kalaupun mereka berbuat baik kepada manusia, itu hanyalah usaha mereka untuk menutupi segala kedengkian dan dendam kesumat yang menyala di dada mereka.

HAMKA dalam menafsirkan ayat 109 di atas “ini sudah lebih berbahaya, karena mereka telah mulai berusaha agar kamu kembali menjadi kafir. Kalau semata-mata tidak suka kaum beriman mendapat kebaikan, itu namanya masih pasif. Tetapi kalau sudah berusaha menarikmu kembali ke dalam suasana kekafiran, itu namanya sudah mulai aktif. Artinya sudah mulai dijadikan usaha. Perasaan hati mereka tidak mereka sembunyikan lagi, tetapi telah dijadikan rencana. Yang menjadi sebab yang pokok ialah karena dengki.”

Maka dari itu, Allah SWT memperingatkan umat Islam agar tidak menjadikan mereka sebagai orang-orang kepercayaan. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali ‘Imran, 3: 118).   Wallahu a’lam bish-shawwab.

-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bamdung.

-Wakil Ketua 1 Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *