DEPOK – Penangganan maupun antisipasi terhadap penyebaran redikalisme, bullying maupun perundungan di kalangan pelajar tentunya sangat penting bagi guru dan staf pengajar mulai tingkat SD, SMP, SMA/SMK.
“Untuk itu kegiatan sosialisasi radikalisme dan ekstremisme sangat perlu dilakukan bagi guru dan staf pengajar tingkat SD, SMP, SMA/SMK Negeri maupun swasta sejak dini,” Kepala KCD Wilayah II Kota Bogor dan Kota Depok, Dr. Ervin Aulia Rachman didampingi Kadisdik Kota Depok, Siti Chaerijah Aurijah dan Densus 88 saat sosialisasi radikalisme dan ekstremisme bagi 200 orang guru Bimbingan Konseling (BK) di Baleka II Depok, Kamis (27/11).
Peranan guru Bimbingan Konseling (BK) menjadi tantangan sangat berat, apalagi masalah radikalisme dilakukan tingkat SD, SMP dan SMA/SMK di wilayah Jawa Barat cukup memperhatikan akibat pola asuh yang sangat kurang tepat dirumah.
Menurut dia, pendidikan masa depan sangat berat karena masalah radikalisme seperti gunung es, contohnya salah satu SMA di Jakarta belum lama ini. “Peran guru BK dalam mengatasi masalah itu walaupun tugas kita hanya 8 jam sehari hari tentunya sangat perlu menjadi jembatan bagi anak didik dengan orang tua,” kata Dr Ervin.
Sedangkan, Kepala Disdik Kota Depok, Siti Chaerija A, mengapresiasi kegiatan ini, terlebih yang membawakan materi sosialisasi dari jajaran Densus 88 Mabes Polri. “Peranan guru BK dalam perlindungan anak dan pencegahan terpaparnya radikalisem bagi siswa sangat perlu,” tuturnya.
Sementara itu, Kasudit Densus 88 AT, mengaku pelajar sangat rentan dan rawan disusupi ajaran radikalisme sekarang ini terlebih hampir sebagian besar pelajar memiliki handphone. “Mereka setiap waktu dapat melihat dan belajar ajaran tersebut jadi sangat penting bagi guru BK untuk memantau serta mengawasinya,” katanya.
Masalah perundungan atau bullying apalagi terorisme tidak boleh dianggap ringan. “Bullying, perundungan dan radikalisme harus ditangani sejak dini dan kita semua tidak boleh lengah,” ujarnya. (anton)







Komentar