oleh

Perintah Pangab Faisal Tanjung, Pasukan Berani Bingung?

POSKOTA.CO – Kami pasukan Garuda ke 14 untuk bertugas di Mozambique terdiri dari 15 perwira polisi. Komandan kontingen Mayor polisi Kuswandi dengan anggota : 1. Mayor pol M Nurmaseri, 2. Mayor pol Yuwanto, 3. Mayor pol Tri Parnoyo Kartiko 4. Mayor pol Jhony samosir 5. Mayor pol Andayono 6. Mayor pol Burhannudin Andi 7. Mayor pol Gatot Subroto 8. Kapten pol Andi Takdir Rahman Tiro 9. Kapten pol Zulkarnaen 10. Kapten pol Budi Susanto 11. Letnan satu pol Andre karo karo purba 12. Letnan satu
pol Joko Lukito 13. Letnan satu polisi Ali Yasin 14. Letnan satu pol Chryshnanda DL.

Kontingen ini mungkin kontingen terkecil. Kami berangkat dari Mabes ABRI dengan surat perintah dari Panglima ABRI Jenderal Faizal Tanjung. Kami berangkat dengan pakaian dinas lengkap demgan baret biru menjelang petang dengan pesawat Singapore
Airlines. Kami transit di Singapore selama kurang lebih 3 jam. Dan penerbangan langsung ke Johanes burg Afrika selatan. Kami transit cukup lama karena kami tidak memiliki visa masuk ke Mozambique.

Saya waktu itu juga heran kami dapat transit di hotel bandara. Kami bs makan di lounge kalau tidak salah. Saya sebagai anggota paling yunior menjadi ajudan komandan kontingen ditemani letnan Andre karo karo yang sangat fasih berbahasa Inggris. Beliau Dosen bahasa Inggris di Akpol dan master sastra Inggris dari Inggris. Jadi soal bahasa Inggris tidak ada kendala.

Waktu itu yang nampak tegang komandan kontingen dan letnan Andre saya sbg unthul munyuk bagian mondar mandir mengikuti beliau beliau itu. Sedang anggota kontingen lainnya santai2 di hotel transit. Telpon mabes Polri saat itu tidak ada yang mengangkat karena hari Minggu. Telpon Mabes Abri juga demikian. Kedutaan Indonesia untuk wilayah Afrika selatan, Mozambique dan sekitarnya berada di Zimbabwe.

Saya lihat letnan Andre sangat sibuk mondar mandir telpon sana sini sptnya tdk berhasil. Entah biaya telpon interlokal siapa yg membayar. Setelah agak sore barulah ada kabar letnan Andre berhasil menghubungi salah satu staf PBB di Mozambique yg kebetulan orang Indonesia.

Saya lupa namanya dan beliaulah yang menjamin kami boleh masuk ke negara Mozambique. Entah administrasi apa yang dilakukan letnan Andre dan Mayor Kuswandi saya tidak tahu. Saya hanya diperintahkan mengabarkan kepada anggota kontingen lainnya bahwa semua urusan sudah oke dan persiapan berangkat ke Mozambique menjelang petang ( saya juga lupa jamnya). Kami di bandara Johanes Burg dari jam 7 pagi sampai sore hari menjelang petang. Saya lupa naik pesawat apa.

Brigjen Chryshnanda DL saat berpangkat Letnan

Maklum itu pertama kali ke luar negeri ke Mozambique pula. Saya merenung renung kalau tidak bisa masuk ke Mozambique bagaimana harus membayar ini dan itu. Uang saku dari Panglima Abri 1000 US dolar namun sebagian sudah dipakai macam macam
keperluan. Saya hanya bisa melihat ketegangan yg dirasakan Letnan Andre dan Mayor Kuswandi sebagai komandan kontingen yang terus menerus ngepul asap rokoknya.

Penerbangan ke Mozambique kurang lebih 2 jam. Sekira pukul 20.00 kami mendarat di Bandara Maputo. Kami yang melihat bandara Changgi Singapore begitu rapi dan modern dan bandara Johanes Burg juga tertata asri dan kini dihadapkan bandara di mana
negara kami akan bertugas yg kumuh dan bayak bagian dan sudut bandara yang bodhol bodhol.

Belum lagi porter porter yang berbadan hitam legam. Hari sudah gelap suasana sayup sayup redup baunya juga apek apek bagaimana. Kami dijemput tim dari PBB dan diantar ke hotel yang juga lupa namanya. Maklum sudah hampir dua puluh lima tahun yang lalu.

Kami dapat di lantai 7 tanpa lift. Bawa badan saja gempor tambah bawa koper koper besar. Dua kancing baju dinas lepas. Hotel permalam 50 US dolar bayar bagaimana kami juga blm tahu . Kopor Mayor kuswandi dan Mayor Andayono keselip entah ke mana. Di negara sedang rekonsiliasi pasca perang.

Semua masih belum jelas. Setiap ada perintah dalam bahasa Inggris kami semua mengandalkan Letnan Andre. Pada suatu hari kami harus berpisah. Letnan Andre di head quarter, Mayor kuswandi di Maputo Province bersama Mayor Gatot. Sofala Province 6 orang, Nampula Province 6 orang.

Saat harus berpisah mulailah kami tidak bisa mengandalkan siapa siapa dan harus memperhatikan sungguh sungguh apa perintah dan berita berita yg kami peroleh. Kami bersyukur walau english fighting modal nekat tanpa bakat mulailah cas cis cus dg gaya medhok ndesonya eh temen temen polisi dari negara kain manggut manggut. Entah nyambung entah pusing kami gas pol yang penting keras. (cdl) Senja di gedung NTMC Jakarta 10 pebruari 2021.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *