oleh

Aliran Maestro Kayu Kentir

-Komunitas-94 views

POSKOTA.CO – I nyoman tjokot maestro seni patung dari desa jati tegal lalang gianyar Bali dikenal sebagai pelopor gaya patung ekspresive primitif yang ada kesan magis. Kekuatan karya Tjokot pd kejujuran dan keberanuannya mengikuti alur kayu yang ditemukan. I nyoman tjokot dikatakan pengukir dari kayu yang hanyut ( kentir dalam bahasa jawa).

Dari kayu yang seolah tak terpakai atau bahkan sering dianggap kayu bakar. Bahkan tatkala Tjokot memanggul karyanya ubtuk dijual maestro lukis I Gusti Nyoman Lempad pernah berseloroh ke Tjokot karyanya belum sempurna spt kayu bakar. Tjokot tdk baperan tdk merasa sakit hati, dan nampaknya menambah semangatnya untuk terus berkarya.

Karya Tjokot mendapat apresiasi di luar negeri dikoleksi para turis asing dan musium seni ternama amerika maupun eropa. Aliran Tjokotisme mempengaruhi banyak seniman bahkan galeri2 seni di ubud yg banyak memajang karya karya aliran Tjokotisme.

Anak cucu Tjokot yang menekuni aliran ini dari : sawat, nongos, kanten, pondal, gd amberjaya dll. Aliran tjokotisme merupakan seni patung dg gaya yang bs dikembangkan lagi dalam berbagai konteks dan konsep legenda ataupun mitologi bali.

Penggambaran bentuk primitif dan bentuk2 imqjinatif dari mahkluk2 mitologi atau dr pewayangan dapat sng model pengembangannya. Teknis tjokotisme akan semakin berkembang dari kedalaman maupun taksunya akan muncul dari berbagai sisi pengemasan dan pemaknaanya. Minimnya literasi tentang tjokotisme juga akan sangat berpengaruh pemgembangannya. Belum lagi galeri2 mulai menjauhkan atau menghindari patung2 ala tjokotisme.

Trik dan trip pasar seni tak jarang juga melakukan politik dagang. Goreng menggoreng bahkan buli membulipun bs dilakukan. Aliran tjokotisme salah satu korbannya shg tak banyak lagi yag mau atau tertarik mengembangkannya. Bagaimana mau berkembang kalau lahan untuk hidup itu ikut mencekiknya.

Trend pasarpun akan berpemgaruh juga krn para kolekdol yang diburu yang laku tak lagi melihat taksu. Seni ditandai dengan Rp atau dolar semata. Karya yg original bercita rasa seakan dinafikkan kaum kapitalis. Apalagi aliran tjokotisme yg ekespresif dan seakan un finish semakn larut ditelan waku satu persatu anak cucu tjokot tak lagi peduli.

Mereka beralih profesi, karena menjadi seniman setengah mati. Penyelamatan dan pembangkitan kembali aliran tjokotisme memerlukan political will, komitmen dan konsistensi. Sperti apa yg dilakukan tjokot sediri dengan berani tekun konsisten penuh keyakinan jujur dalam berkesenian. (CDL)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *