BOGOR – Akuakultur merupakan kegiatan budidaya, lingkungan serta media pemeliharaan yang dapat dikontrol seoptimal mungkin, agar ikan dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sehingga mendapatkan keuntungan yang besar bagi peternak ikan.
“Lingkungan budidaya dengan habitat aslinya, akan selalu berbeda sehingga terjadi disfunction dalam beberapa hal seperti fisiologi reproduksi, fisiologi tumbuh-kembang, imunitas, fitness dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas genetik pada benih yang dipelihara,” kata Guru Besar tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Prof. Dr. Ir. Odang Carman, M.Sc dalam hasil riset Budidaya Lingkungan Ikan di kampus IPB Bogor, Kamis (19/9/2024).
Penurunan kualitas genetik pada ikan budidaya terjadi, karena adanya tekanan inbreeding. Oleh karena itu, pengelolaan induk secara genetik perlu diperhatikan dengan serius. Rekayasa genetik merupakan salah satu cara untuk memanipulasi struktur, fungsi, dan mekanisme kerja materi genetik untuk berperan, berekspresi seperti yang kita kehendaki.
Menurut dia, materi genetik ini dibedakan menjadi tiga yaitu DNA, gen, kromosom, genom yang melekat pada individu, dan gene pool yang melekat pada sebuah populasi. “Rekayasa genetik pada ikan dapat dikelompokkan menjadi tiga level yaitu level populasi, level set kromosom dan level gen atau DNA,” ujarnya.
Beberapa teknologi dalam rekayasa set kromosom antara lain yaitu gynogenesis, androgenesis, triploidisasi, tetraploidisasi, dan hibridisasi Poliploidisasi merupakan salah satu teknologi yang digunakan pada rekayasa genetik pada level set kromosom.
Poliploidisasi bertujuan untuk membuat ikan memiliki jumlah set kromosom lebih dari 2n (diploid) melalui perlakuan kejutan secara fisik atau kimiawi, tuturnya yang menambahkan berdasarkan mekanisme pembelahan sel selama embriogenesis, waktu perlakuan kejutan suhu dibedakan menjadi dua yaitu dilakukan sesaat sebelum polar body 2 keluar (meiotik) dan sebelum pembelahan mitosis pertama selesai (mitotik). (anton)







Komentar