oleh

Sidang Penganiaya Novel Baswedan, Penuntut Umum Sebut Pelaku Dendam

POSKOTA.CO – Sidang kasus penyiraman air keras kepada korban Novel Baswedan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Kamis (19/3/2020) siang. Bertindak sebagai ketua majelis adalah Djuyamto dibantu Agus Darmawanta dan Taufan Mandala.

Empat jaksa sebagai penuntut umum dalam kasus ini di antaranya Satria Irawan dan Fedrik bergantian membacakan dakwaan kepada terdakwa RB dan RKM yang disidang secara terpisah.

Dalam dakwaan penuntut umum disebut, bahwa aksi penyiraman air keras kepada korban awalnya merupakan balas dendam. “RB tidak suka sama korban karena dianggap telah menghianati dan melawan institusi Kepolisian Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata penuntut umum.

Kemudian, lanjut penuntut umum, RB mencari rumah korban melalui internet. Setelah ditemukan, selanjutnya RB mengamati dan mempelajari rute masuk kompleks untuk melarikan diri setelah melakukan penyerangan nantinya. “RKM meminjamkan motor Yamaha Mio kepada RB untuk melakukan pengamatan,” terang penuntut umum.

Setelah merasa yakin dengan tempat tinggal korban, penuntut umum menguraikan, kemudian RB mendapat cairan asam sulfat H2SO4. “Tanggal 11 April 2017, sekitar pukul 03.00, RB meminta RKM untuk mengantarkan ke Kelapa Gading sambil membawa cairan asam sulfat H2SO4,” jelas penuntut umum.

Tiba di Kelapa Gading, RB dan RKM masuk ke komplek korban dan berkeliling lalu berhenti di sekitar masjid yakni di ujung jembatan di belakang mobil yang terparkir. “RKM duduk di sepeda motor mengamati setiap orang yang keluar dari masjid, sedangkan RB sambil membuka tempat cairan asam sulvat,” kata penuntut umum.

Sekitar pukul 05.10, tambah penuntut umum, RKM dan RB melihat korban keluar dari masjid berjalan menuju tempat tinggalnya. “Saat itu RB minta RKM mengendarai motornya pelan-pelan mendekati koban. Setelah posisi RB sejajar dengan korban, RB langsung menyiramkan cairan ke bagian kepala dan badan korban. Lalu RKM atas arahan RB langsung melarikan diri dengan sepeda motor,” terang penuntut umum.

Atas peristiwa tersebut, korban mengalami luka berat, yakni penyakit atau halangan dalam mengerjakan pekerjaannya, kerusakan pada selaput bening kornea mata kanan dan kiri. “Ini berpotensi kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan,” ujar penuntut umum.

Terdakwa RB dan RKM pun didakwa dengan dakwaan primer Pasal 355 Ayat (1) KUHP junto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Subsidair Pasal 353 Ayat (2) KUHP junto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. “Lebih Subsidair Pasal 351 ayat (2) KUHP junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” pungkas penuntut umum. (r sormin)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.