oleh

Sebanyak 147 Korban Investasi Gagal Bayar Bikin LP Kedua di Mabes Polri

POSKOTA.CO – Sebanyak  147 orang korban investasi gagal bayar  melaporkan PT IIF yang sudah berubah nama menjadi PT SMEF. Melalui kuasa hukum dari  LQ Indonesia Lawfirm mereka melapor ke Bareskrim Mabes Polri atas dugaan pidana penggelapan dan pencucian uang.

Adapun terlapor selain PT IIF,  juga keluarga pengusaha  HS, SE (ayah HS),  dan NT (istri HS) serta belasan ‘key person’ lainnya yang diduga terlibat secara aktif sehingga pencucian uang ini bisa terwujud melalui LP No/0204/IV/2022/SPKT/Bareskrim Polri.

Ketua LQ Indonesia, Advokat Alvin Lim, SH mengatakan pihaknya membuat LP pada akhir April lalu. “Kami berharap penyidik segera memproses LP kami,” ujar Alvin di Jakarta, Senin (9/5). Laporan ini bisa menjadi jerat kedua, saat LP pertama tidak sampai ke pengadilan. Sebab,  ada indikasi bahwa LP ini sulit untuk P21 karena petunjuk audit yang membutuhkan waktu lama untuk dipenuhi sehingga masa penahanan 120 hari terhadap terlapor HS bisa habis sebelum pemenuhan petunjuk jaksa dan HS bisa bebas demi hukum.

“Dengan dibuatnya LP kedua ini tapi  dengan terlapor dan kejadian berbeda, maka jika HS bebas demi hukum, maka Polri bisa langsung menahan kembali dengan LP kedua ini,” papar Alvin. Hal ini bukan ‘Nebis in Idem’  karena terlapor berbeda dan kejadian yang dilaporkan juga berbeda, baik delict maupun tempusnya. “Sehingga Polri tidak kalah dan melepaskan tersangka penipu skema ponzi. Siasat para teelapir sudah LQ baca dan kami antisipasi langkah pamungkas,”  imbuh Alvin.

Alvin menduga bahwa mufakat jahat  sudah terjadi sebelum koperasi itu terbentuk. “Para terlapor mendirikan koperasi, karena IIF dilarang OJK menjual MTN. Maka, dibentuklah koperasi dengan tujuan mengeruk dana masyarakat melalui penjualan MTN. Koperasi itu dibuat oleh para petinggi IIF dan mengunakan aset serta fasilitas IIF, oleh karena itu para petingginya wajib dipidanakan,” tandas Alvin.

Contoh, pemilik awal PT IIF adalah 51% SE dan 49% HS. Tapi setelah dijadikan tersangka di bulan April 2020, saham HS, sehingga saat ini mendekam di tahanan Mabes Polri dialihkan sehingga SE memiliki 99% saham PT IIF.  “Peralihan saham ini pun diduga merupakan tindakan pencucian uang karena IIF menerima kurang lebih Rp 2 triliun dari penjualan MTN ke KSP  untuk menyamarkan uang hasil kejahatan. (eli/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *