oleh

UMKM  Berusaha Bangkit dari Keterpurukan Akibat PPKM  

POSKOTA.CO-Kepergian suamiku sangat mempengaruhi kondisi psikis dan fisik terutama bagi saya dan ketiga anak kami. Bagaimana tidak, secara financial kebutuhan kami hanya bersumber dari satu pendapatan, yakni gaji suami. Namun saya harus berfikir realistis dan logis, inilah kenyataan hidup yang harus saya  hadapi, karena mempunyai tanggungjawab besar untuk dapat mencukupi segala kebutuhan anak kami yang masih kecil-kecil.

Hari-hari  selanjutnya saya mulai peta-petakan rencana bisnis yang ingin saya rintis. Saya mencoba untuk menggali ide-ide kreatif dan inovatif. Beberapa informasi yang perlu saya gali adalah Market Research (Mencari siapa yang menjadi tujuan pengguna produk yang akan saya kembangkan), Revenue  (Besaran pendapatan yang diperoleh), Profit (Keuntungan setelah dikurangi modal berapa yang saya dapatkan dan dalam waktu berapa lama hasilnya, Gross Profit dan Net Profit berapa?), Sistem Inventory (Manajemen Inventorynya seperti apa? Persiapan skala bahan baku sampai kepada pengelolaan bahan baku seperti apa?), Cash Flow (Manajemen Arus Kasnya seperti apa, laporan yang diterapkan bagaimana?), Employee Management (Pengaturan manajemen  karyawannya bagaimana?), Expense (Beban yang dikeluarkan untuk kebutuhan sewa tempat dan gaji karyawan berapa?), Income (Berapa penghasilan yang didapatkan, dilihat dari rata-rata per bulan berapa?), Business Risk (Ada beberapa risiko yang dialami kaum Wirausahawan, beberapa yang menjadi konsentrasi adalah Resiko Strategi kapaitas yang harus disusun, agar ketika usaha berjalan tidak menjadi kerugian besar, Resiko Kepatuhan dengan segala aturan pemerintah terhadap bisnis juga harus diketahui, Resiko Operasional ini sangatlah penting Entepreneur harus mematangkan susunan harga penjualan, kasir yang ditempatkan juga haruslah teliti, keuntungan, kerugian, hambatan-hambatan yang mereka temukan sampai kepada resiko yang dialaminya, saya gali informasi ini sedetailnya, semakin melangkah jauh semakin membingungkan dan mulai berfikir bisnis usaha apa sih yang cocok untuk pemula seperti saya ini!

Poin penting untuk membangun sebuah usaha adalah masalah lokasi, dimana mencari tempat yang strategis juga teramat sulit dan harga sewanya pun apakah sesuai budget ? Dengan target mencari wilayah yang tidak jauh dari rumah tempat tinggal, dengan tujuan untuk lebih memudahkan akses mobilisasi antara rumah ke tempat usaha. Dengan mempertimbangan kondisi Pandemi Covid-19 kriteria yang menjadi pilihan saya yaitu bisnis usaha Waralaba, Makanan dan Minuman Franchise, manajemen bisnis ini sudah terbentuk, brand sudah dikenal, strategis pemasarannya juga sudah matang, tinggal menjalankan sesuai dengan ketentuan, artinya peluang usaha lebih besar dibandingkan dengan menjalankan bisnis sendiri dari nol. Paling tidak pada kondisi PPKM yang berdampak sepi, ketika saya memasukan kedalam penjualan secara online, usaha ini sudah dikenal di kalangan masyarakat luas karena sudah memiliki cabang di berbagai wilayah.

Baru saja buka siang hari diumumkan resmi Pemerintah memberlakukan PPKM Darurat mulai tanggal 3 – 20 Juli 2021, hingga seterusnya dilakukan perpanjangan PPKM. Pada kondisi ini saya yang telah merekrut pegawai 4 orang,diantaranya 3 orang spesialis gerobak dan 1 orang kasir, saya rampingkan menjadi 1 orang pegawai dan dibantu saya sendiri. Langkah ini saya ambil agar meteran penggajian setiap hari tidak terus membengkak dengan omzet yang semakin menurun. Strategi pemasaranpun gencar saya lakukan, dihari tertentu saya ambil starategi marketing dengan membuat promo-promo discount yang menarik dengan tetap memperhitungkan HPP (harga pokok penjualan) jangan sampai malah menjadi kerugian.

PPKM kini sudah memasuki level 4, bertambah terpuruklah usaha pada umumnya, terlebih usaha yang berada di mall tutup, bagaimana saya dapat terus berdiri sedangkan stok yang saya miliki selama ini berjalan akan menjadi kadaluarsa, mengapa pemerintah begitu singkatnya mengambil langkah dan keputusan darurat PPKM dengan tidak memikirkan dampak buruknya bagi para wirausaha. Paling tidak diberikan jangka waktu yang sedikit lebih longgar sehingga pasokan yang sudah tersedia tidak terbuang sia-sia, sekelumit hanya dapat menjadi angan-angan saja dan mungkin saja angan-angan para wira usaha lainnya. Hari demi hari terus berjalan dan kondisi penjualan semakin sepi. Berbagai langkah usaha semaksimal mungkin sudah saya jalankan agar tetap bangkit dan bertahan, dan kini semua saya pasrahkan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Semoga Covid-19 dapat berlalu dan keterpurukan usaha ditengah kondisi PPKM lekas berlalu. (Ani M. Arum/fs).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *