oleh

Dari Rumah Susu hingga UMKM, Menggerakkan Rantai Pangan Daerah melalui Program MBG

PROGRAM  Makan Bergizi Gratis (MBG) memang dirancang untuk memenuhi gizi anak-anak Indonesia. Karena itu, sebagian besar sasaran dari program tersebut adalah anak-anak usia sekolah mulai dari PAUD hingga SMA. Di luar anak usia sekolah, program MBG juga menyasar ibu hamil dan menyusui.

Meski dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, namun sejatinya program ini memiliki efek domino bagi masyarakat. Pendirian dapur MBG alias Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah, rekrutmen pekerja MBG, hingga kemitraan dengan produsen atau pedagang makanan di sekitar SPPG. Pergerakan perekonomian daerah menjadi lebih dinamis, menyasar berbagai sektor.

Sebut saja Rumah Susu Sentul, Bogor. Unit pengolahan susu berbasis koperasi yang digagas oleh Muchlido Apriliast, Ketua Koperasi Kujang Sauyunan Berdikari tersebut kini menjadi penyuplai susu murni pasteurisasi ke sekolah-sekolah di sekitarnya melalui program MBG.

Rumah Susu Sentul yang diresmikan 21 April 2025 tersebut melayani 8 SPPG untuk kebutuhan susu MBG. “Kami antar langsung ke sekolah susu untuk anak-anak. Mereka senang karena lebih segar tanpa ada rasa tambahan,” kata Muchlido mengutip laman pertanian.go.id.

Rumah Susu Sentul ini kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyerap langsung susu dari peternak lokal. Model ini rencananya akan direplikasi ke sentra-sentra produksi sapi perah di seluruh Indonesia.

Selain Rumah Susu Sentul, ada PT Juang Jaya Abdi Alam di Lampung Selatan. Peternak lokal dengan 50 ekor sapi perah tersebut juga menjadi salah satu pemasok susu pasterisasi untuk program MBG. Melalui unggahan di instagram ditjen-phk, 26 dari 50 ekor sapi perah yang ada di peternakan tersebut sudah laktasi dengan kapasitas 21 liter per ekor per hari. Susu tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan susu MBG untuk 2.500 siswa setiap hari.

Di luar pasokan susu, ada juga SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Jember, Jawa Timur. Sekolah vokasi yang mendapatkan hak kelola SPPG MBG dengan 3.000 paket per hari tersebut melibatkan sejumlah teaching factory (Tefa) yang ada di sekolah, di antaranya Tefa udang vaname dan Tefa Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHPi). “Kami juga melibatkan siswa dalam berbagai tugas atau pekerjaan bersama 50 pekerja lain yang merupakan warga sekitar sekolah,” tutur Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kuntjoro Basuki saat menerima kunjungan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin, awal Februari 2026.

Melalui dapur SPPG para siswa dilatih untuk menghitung kebutuhan bahan, lama pengolahan, durasi, serta jumlah produk yang dihasilkan. “Selain meningkatkan asupan gizi masyarakat, dapur SPPG ini juga telah meningkatkan kompetensi murid dan mengenalkan budaya kerja secara langsung kepada murid karena mereka bekerja bersama para ahli,” kata Kuntjoro.

Menurut Kuntjoro, dapur SPPG ini telah menggerakkan Tefa APHPi yang selama ini melayani masyarakat dengan produk olahan makanan bergizi. Termasuk Tefa budi daya tambak udang vaname sebagai pemasok dapur SPPG. “Dalam dapur SPPG ini, Tefa APHPi dan Tefa udang vaname berperan menjadi pemasok utama dapur dan dampaknya adalah proses produksi Tefa yang semuanya dikerjakan oleh para siswa kelas XI dan XII sebagai praktik mata pelajaran produktif akhirnya menjadi lebih produktif,” kata Kuntjoro.

Oktavian Ardiansyah, siswa kelas XI SMK Perikanan dan Kelautan Puger, merasakan manfaat langsung keberadaan dapur SPPG dalam meningkatkan kompetensi dan kesiapan kerja. “Saya dan teman-teman menjadi supplier ke dapur MBG untuk produk pentol, puding, udang kupas, dan telur kupas,” jelasnya.

Tak hanya Tefa di SMK, Tefa di lembaga kursus pun aktif dalam mendukung program MBG. Tefa Lembaga Kursus Abdi Bangsa Institute, Cianjur adalah salah satu contohnya. Lembaga kursus tersebut rutin setiap hari memproduksi roti untuk 3 SPPG di Kabupaten Cianjur dengan jumlah produksi mencapai 9.000 pcs per hari.

“Lembaga kursus harus menjadi bagian penting dalam menyukseskan program MBG ini,” terang Pemimpin Lembaga Kursus Abdi Bangsa Institute, Aji Syamsurizal.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya mulai bekerja sama dengan SPPG MBG sejak Januari 2026 dengan melibatkan chef pastri professional.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Kemendikdasmen Tatang Muttaqin berharap, program MBG dapat memberikan dampak luar biasa, tidak hanya pada pemenuhan gizi masyarakat Indonesia saja, tetapi juga menguatkan pendidikan vokasional di SMK-SMK di Indonesia.

“Jadi, bahan pangan diproduksi oleh Tefa SMK bidang perikanan, peternakan, pertanian maupun tata boga, termasuk pengembangan alat-alat pendukung dapur SPPG juga bisa diproduksi oleh anak-anak SMK,” ujar Tatang.

Efek Domino Lapangan Kerja

Ketua Yayasan Berkah Boga Gizi Mandiri Indonesia Ning Sudjito  mengatakan program MBG bukan sekadar memberikan makan bergizi gratis bagi anak-anak. Program ini juga memiliki multiplier effect terhadap lapangan kerja.

Ketua Yayasan Berkah Boga Gizi Mandiri RA. Hj. Ning Sudjito, ST, MSi (paling kanan) didampingi Ayu Dian Amartani, Direktur PT. Agustina Sakti (dua dari kanan) saat meresmikan SPPG Joglo Kembangan

“Satu dapur saya bisa mempekerjakan antara 48 hingga 50 pekerja bahkan bisa lebih. Itu belum termasuk peternak, petani, dan lainnya yang menjadi mitra kami dalam pengadaan bahan baku sebagai pemasok beras, pemasok telur, pemasok sayur dan lainnya,” terang Ning Sudjito saat meresmikan SPPG Joglo Kembangan, Jakarta Barat pada Minggu (26/10/2025).

Dengan upah minimal Rp120 ribu per hari, maka satu pekerja SPPG bisa mengantongi penghasilan Rp600 ribu per minggu. “Kalau sebulan kan bisa mencapai minimal Rp2,4 juta per orang. Itu paling kecil ya,” tambahnya.

Ia mengaku bahwa semua tenaga kerja dapur SPPG MBG yang dikelolanya, mengambil warga sekitar, mulai dari ibu-ibu, remaja hingga bapak-bapak yang selama ini bekerja serabutan. Dengan cara seperti ini maka dapur SPPG dapat membuka peluang kerja bagi warga.

Mengutip data BGN, hingga tanggal 20 Februari 2026, jumlah SPPG yang beroperasi di seluruh Indonesia mencapai 23.676 SPPG. Jika satu dapur SPPG mempekerjakan 47 hingga 50 orang relawan, maka kata Nanik Sudaryati Deyang Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, program MBG telah menyerap setidaknya 1.037.403 orang tenaga kerja.

Selain tenaga kerja langsung di dapur MBG, Nanik juga menyebut program MBG telah mendorong penyerapan tenaga kerja tidak langsung melalui pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi pemasok bahan pangan. Dengan rata-rata 15 pemasok untuk setiap SPPG, maka program MBG setidaknya telah menggerakkan lebih dari 40.000 UMKM seperti produsen tahu, tempe, telur asin, dan sayuran, dengan rata-rata tambahan pekerja mencapai tiga hingga lima orang untuk memenuhi permintaan dapur MBG. “Berarti ada menyerap sekitar 3 hingga 4 juta pekerja tidak langsung,” jelas Nanik dikutip dari Antara, Minggu (15/2).

Adapun program MBG mengalokasikan anggaran sebesar Rp15.000 per porsi. Nilai tersebut tidak hanya mendukung pemenuhan gizi anak, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas karena menggerakkan rantai distribusi pangan di tingkat daerah.

Dampak Langsung Terhadap Siswa

Hingga Februari 2026, lebih dari 60 juta penerima manfaat telah menikmati program MBG baik itu siswa PAUD, SD, SMP, SMA/SMK hingga ibu hamil dan menyusui. Dampak bagi sekolah penerima program MBG pun sudah mulai nampak.

Sientje Martentji Ajomi, Kepala SD Negeri 24 Rufei Kota Sorong mengungkapkan bahwa MBG memberi perubahan besar pada suasana pembelajaran di sekolah yang dipimpinnya. “Anak-anak lebih bersemangat belajar. Mereka juga lebih fokus di kelas, lebih aktif bertanya, dan lebih ceria sepanjang hari. Mungkin karena tidak lagi lapar, tidak lagi berpikir mau jajan apa,” katanya.

Demikian pula bagi orang tua, menurut Sientje banyak yang lebih tenang melepas anaknya sekolah. Mereka tidak perlu lagi dipusingkan dengan bekal makanan atau uang jajan. “Menu makanan MBG juga lebih terjamin dan bergizi, bikin orang tua lebih tenang,” tambahnya.

Senada juga disampaikan Hikmatul Khasanah, Kepala MTs Nurussyifa Kabupaten Bekasi. Diakui sejak menerima MBG, siswa lebih semangat untuk datang ke sekolah. “Persentase ketidakhadiran jauh berkurang. Anak-anak semangat datang ke sekolah,” jelasnya.

Tidak hanya itu, MBG juga membuat siswa lebih bersemangat dalam belajar. Mereka jauh lebih aktif, lebih sehat dan konsentrasi belajar juga terus membaik. Karena itu, ia juga berharap program MBG terus berlanjut.

Untuk meyakinkan bahwa program MBG memang benar bermanfaat bagi siswa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) belum lama ini pun menggelar evaluasi program MBG. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan terhadap 1.203.309 murid penerima MBG di seluruh Indonesia, diperoleh fakta menarik, yakni penurunan gangguan konsentrasi belajar akibat rasa lapar. Evaluasi yang dilakukan pada tahap baseline (Mei-Juni 2025) hingga endline (November-Desember 2025) tersebut juga menemukan peningkatan fokus belajar siswa.

Besar penurunan gangguan belajar rata-rata mencapai 2,37 poin, dan untuk wilayah Indonesia timur, penurunan gangguan belajar akibat lapar pada sekolah penerima MBG bahkan tercatat 14,85 poin.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan bahwa capaian ini menjadi isyarat bahwa intervensi gizi melalui MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar murid, tetapi juga memperkuat kesiapan dalam mengikuti pembelajaran. “Kehadiran program MBG adalah kunci penting untuk memastikan mereka bisa belajar dengan lebih fokus,” kata Mendikdasmen.

Menurut Mendikdasmen, program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto merupakan investasi jangka panjang pembangunan manusia Indonesia. “Kita sedang menyiapkan generasi 2045, yakni mereka yang hari ini masih berada di bangku PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan yang masih dalam kandungan, agar tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara fisik maupun mental,” ujarnya.

Dukungan Industri

Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia (Lamipak) Hongbiao Li dalam jumpa pers dengan awak media di Pabrik PT Lami Packaging Indonesia di Cikande, Serang, Banten, Selasa (20/1/2026) menyampaikan dukungannya terhadap program MBG.

Ia percaya bahwa program MBG ini menjadi langkah yang tepat untuk menjadikan masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat. Ini adalah salah satu program untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sudah dimulai di negara China, India, Amerika Serikat dan banyak negara maju lainnya. “Indonesia memang baru mulai, tapi ini sebuah langkah yang baik, Kami mendukung program MBG,” ujarnya.

Ia juga berharap pada saatnya nanti, program MBG tidak hanya memberikan anak menu makanan 4 sehat, tetapi bisa disempurnakan dengan susu. Karena hingga kini tingkat konsumsi susu penduduk Indonesia masih sangat rendah hanya sekitar 17,76 liter per kapita per tahun. Rendahnya konsumsi susu ini berisiko menghambat ambisi Indonesia mencapai masa keemasan di tahun 2045.

Karena itu, ia mengapresiasi masuknya komponen susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi kebijakan nasional pemerintah Indonesia. Pemberian susu dalam menu MBG, memungkinkan konsumsi susu terutama pada anak-anak dapat meningkat secara signifikan. (inung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *