oleh

Penanganan Stunting Perlu Melibatkan Lembaga Pendidikan

POSKOTA.CO-Kerjasama yang potensial dalam penanganan stunting di Indonesia salah satunya dengan melibatkan lembaga pendidikan. Demikian diungkapkan Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo saat Pengukuhan Tim Percepatan Penurunan Stunting di Auditorium BKKBN Jakarta dan peresmian Sekretariat Stunting BKKBN, Selasa (05/10/2021).

“Perbaikan generasi kualitas generasi mendatang itu bukan tanggung jawab pemerintah saja, tapi tanggung jawab semua tipe elemen bangsa ini. Mahasiswa 25 tahun 30 tahun lagi yang bakal menentukan arah kemana Indonesia dikembangkan, akan di hidup suburkan, akan dilestarikan untuk generasi-generasi berikutnya. Makanya penting ini juga menjadi bagian dari masa depan kita semoga apa yang sudah di launching bisa kita follow up terutama untuk bagaimana kita ikut serta menjadi bagian dari beda bangsa yang menjadi kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Menurut Hasto, misalnya perguruan tinggi dengan menempatkan para mahasiswa melakukan aktualisasi keilmuannya di masyarakat. Oleh karena itu, tercetuslah Program Mahasiswa Peduli Stunting (Mahasiswa Penting).

“Pada prinsipnya, Mahasiswa Penting adalah kolaborasi antara program pendampingan kepada masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata Tematik yang telah secara reguler dilaksanakan, dengan Program Kampus Merdeka. Program Kampus Merdeka adalah kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang bertujuan untuk mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan untuk memasuki dunia kerja. Mahasiswa diberikan keleluasaan untuk mengikuti Program Kampus Merdeka sesuai dengan peminatan masing-masing. Lingkup kegiatan dalam Program Kampus Merdeka sangat relevan untuk dapat diterapkan dan diintegrasikan dengan program penurunan stunting, seperti diantaranya adalah kegiatan magang, membangun desa, studi independen, kewirausahaan dan lainnya,” tambah Hasto.

Sebelumnya juga Presiden Joko Widodo pada Januari 2021 lalu menargetkan pada tahun 2024 kasus stunting di Indonesia bisa ditekan hingga berada di angka 14 persen, dan angka kematian ibu bisa ditekan hingga di bawah 183 kasus per 100.000 ibu melahirkan.

Penyebab tingginya angka stunting di Indonesia dikarenakan sebagian kelahiran bayi di Indonesia sudah dalam kondisi kekurangan nutrisi, lalu dibesarkan juga dengan kekurangan zat gizi untuk itu masa 1.000 hari pertama atau sekitar tiga tahun kehidupan sejak masih dalam kandungan, merupakan masa penting pembangunan ketahanan gizi.

Hasto memprediksi bahwa 4 tahun ke depan dari 20 juta kelahiran bayi, tujuh juta di antaranya berpotensi mengalami stunting. Dengan perkiraan ini, maka presentase bayi yang mengalami stunting di Indonesia akan meningkat menjadi 27 persen.

Diketahui angka stunting saat ini hampir 30 persen dari jumlah rakyat Indonesia. Presiden menargetkan kita untuk dapat menekan angka stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024 atau sekitar 2,5 persen per tahunnya. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *