oleh

Webinar Merdeka Belajar, Strategi Pembelajaran Berorientasi Peserta Didik

KEMENTERIAN Pendidikan Budaya dan Riset dan Teknologi [Kemdikbudristek] sejak tahun 2019 telah meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar. Kebijakan ini antara lain bertujuan untuk menciptakan ruang inovasi yang luas kepada segenap eksponen dan elemen pendidikan di Indonesia demi mewujudkan pemulihan dan perbaikan mutu pendidikan secara menyeluruh.

Pada satuan pendidikan formal, kebijakan Merdeka Belajar telah berlangsung cukup masih melalui program kepala sekolah dan guru penggerak. Namun pada satuan pendidikan nonformal kebijakan tersebut belum diimplementasikan secara merata. Berkaitan hal tesrsebut Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 67 yang dibimbing Dr Safuri Musa dari Program Studi Pendidikan Masyarakat menginisiasi penyelenggaraan Webinar pada hari Sabtu, 17 September 2022.

Dekan FKIP UNSIKA Andrie Chaerul, Ph.D dalam kata sambutan webinar menyatakan bahwa kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) merupakan salah upaya membekali para mahasiswa untuk dapat memahami realitas lapangan kerja maupun masyarakat kemudian memberikan kontribusi secara nyata ikut memecahkannya, selain itu juga untuk menerapkan keilmuan yang diterima di bangku kuliah sehingga tidak hanya teoritis semata.

Nara sumber pada Webinar terdiri dari Dr. Liza Hanurani dari Balai besar Guru Penggerak (BBGP) Jawa Barat, Dr. Iip Saripah dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Dr. Sudirman dari Universitas Negeri Medan (UNIMED). Dalam paparannya Dr. Liza Hanurani antara lain menyatakan bahwa implentasi Merdeka belajar berkenaan dengan Merdeka Belajar bagi peserta didik sekaligus Merdeka Mengajar bagi pendidik. Pada satuan pendidikan nonformal implementasi kurikulum Merdeka Belajar disesuaikan dengan kecepatan belajar peserta didik. Hal ini sudah berlangsung selama ini pada program Pendidikan Kesetaraan Paket A, Paket B dan Paket C. Dengan kebijakan Merdeka Belajar, maka makin menguatkan apa yang sudah dilakukan pada satuan pendidikan nonformal.

Pada bagian lain, Dr. Iip Saripah menyatakan kurikulum Merdeka Belajar lebih sederhana, mendalam, relevan dan interaktif. Dalam strategi implementasinya di PKBM dapat dirujuk dari konsep System Among, dimana system among menitik beratkan pada potensi dan bakat peserta didik karena mereka memiliki potensinya masing-masing, dan juga dalam Merdeka Belajar peserta didik ataupun mahasiswa ditekankan untuk jangan selalu ingin dipelopori. Oleh karenanya para pendidik harus merubah cara mengajarkannya, diantaranya: (1) pendidik meminimalkan peran sebagai learning material provider, (2) pendidik berperan sebagai fasilitator, penginspirasi, dan pembelajar sejati dan (3) pendidik menjadi penginspirasi bagi tumbuhnya kreativitas peserta didik.

Sedangkan nara sumber ketiga, Dr. Sudirman dalam paparannya tentang “Membangun Jejaring Sumber Daya Pendidikan antara lain menyatakan bahwa eksistensi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) tidak lepas dari sejauhmana pengelola PKBM membangun jejaring kemitraan dan mendayagunakan potensi dengan memanfaatkan peluang yang ada bagi kemajuan PKBM dan mutu pembelajaran.

M. Rifki sebagai Ketua Panitia Webinar melaporkan peserta Webinar dihadiri 249 peserta dari seluruh Indonesia yang terdiri dari mahasiswa, dosen, penilik, pamong belajar, kepala Sanggar Kegiatan Belajar SKB), Pengelola PKBM, PAUD, LKP, dan pegiat pendidikan masyarakat. [rilis/sir]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *