oleh

Sebarkan Ucapan Salam Untuk Persahabatan dan Perdamaian

ALLAH subhanahu wataala telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat.” (QS. An-Nur, 24:27).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya. Tidaklah kamu akan masuk surga sehingga kamu beriman. Tidaklah kamu akan beriman sehingga kamu saling mencintai. Maukah kamu kutunjukkan sesuatu hal, yang apabila kamu kerjakan bisa menimbulkan rasa cinta-mencintai? Yaitu, sebarluaskanlah salam di antara sesama kamu.” (HR. Muslim melalui Abu Hurairah r.a.). Dalam hadits lain dinyatakan, “Hendaknya engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan kepada orang yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Abdullah ibnu Amr r.a.)

Dua hadits ini merupakan anjuran yang sangat berharga untuk kita, agar kita menyebarluaskan dan memasyarakatkan salam di antara umat Islam, baik yang sudah dikenal atau belum. Salam ini menjadi faktor utang untuk melunakkan hati masing-masing, dan sebagai kunci untuk membuka pintu cinta kasih antar sesama. Salam ini juga yang menjadi syiar dan pemisah antara muslim dengan selain muslim, dan suatu penyebab yang menjadikan terlatih nya diri kita menjadi bersih, sopan santun dan menghormati sesama orang Islam.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tiada seseorang hamba pun yang melewati kuburan seseorang yang ia kenal sewaktu masih hidup, lalu ia mengucapkan salam kepadanya, kecuali orang tersebut mengenalnya dan menjawab salamnya.” (HR. al-Khatib melalui Abu Hurairah r.a.).

Barang siapa yang mengucapkan salam kepada orang yang telah mati dan ia kenal, maka orang itu akan mengenalnya dan menjawab salamnya. Demikianlah keutamaan salam, bukan hanya untuk orang yang masih hidup saja, tetapi kepada orang yang telah mati pun dianjurkan pula.

Rasulullah Shaallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; ketika mereka bertemu, masing-masing saling membuang muka. Adapun yang terbaik di antara mereka adalah yang paling dahulu mengucapkan salam (menyapa).” (HR. Tirmidzi).

Islam merupakan agama yang berisi panduan akhlak atau tingkah laku terbaik bagi manusia. Islam adalah agama keselamatan dan perdamaian, dan bukan agama peperangan. Peperangan di dalam Islam bukanlah sebagai tujuan, melainkan semata-mata sebagai upaya mempertahankan diri dan membela ajaran-ajarannya.

Betapa mudah dan indah seseorang mengucapkan ” assalàmu’ alaikum” kepada orang yang ditemuinya. Ucapan salam adalah ucapan yang masuk ke dalam hati lawan bicara dengan memberikan kesan perdamaian dan persahabatan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila kamu saling berjumpa maka saling mengucap salam dan bersalam-salaman, dan bila berpisah maka perpisahan dengan ucapan istighfar. (HR. Aththahawi).

Juga beliau bersabda, “Apabila dua orang muslim saling berjumpa lalu berjabatan tangan dan mengucap “Alhamdulillah” dan beristighfar maka Allah ‘Azza Wajalla mengampuni mereka. (HR. Abu Dawud).

Mulailah dengan ucapan salam! Jika kita menghadapi orang lain, kita memandang ke arah nya, dan orang lain pun memandang ke arah kita, dan kita merasa asing dengannya, segeralah ubah kebekuan tersebut dengan ucapan “assalàmu ‘alaikum”; niscaya dengan segera nampak baginya bahwa kita tidak menginginkan kecuali kecintaan, persaudaraan, dan kedamaian, bahkan bisa jadi ia menjadi teman kita.

Jangan kita kikir mengucapkan salam. Karena, orang yang kikir adalah orang yang kikir mengucapkan salam.

Dalam hal ini Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, telah bersabda, “Salam merupakan salah satu asma Allah yang Dia letakkan di bumi ini; maka sebarkanlah salam di antara kalian, karena sesungguhnya seorang muslim yang memulai salam kepada kaum yang ia lewati, lalu kaum tersebut menjawab salamnya, maka baginya keutamaan satu derajat di atas mereka, karena dialah yang mengingatkan mereka dengan salamnya. Apabila mereka tidak menjawab salamnya, maka ada yang lebih baik dari mereka (Malaikat) menjawab salamnya.” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Mas’ud r.a.)

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa orang yang memulai salam mendapat pahala yang lebih dari orang yang menjawabnya karena ia mengingatkan salam itu kepada temannya. Dan jika teman yang disalaminya itu tidak mau menjawab salamnya, maka yang menjawab salamnya adalah malaikat, dan hamba-hamba Allah yang saleh yang tidak kelihatan oleh mata.

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Maukah aku tunjukkan kalian kepada suatu perbuatan yang apabila kamu sekalian melakukannya niscaya rasa cinta dan kasih sayang terjalin makin erat di antara sesama kalian?” Para sahabat menjawab, “Tentu saja kami mau, wahai Rasulullah.” Nabi Saw. bersabda, “Sebarkanlah salam di antara sesama kalian”, atau dengan kata lain, budayakanlah salam di antara kita, sesama muslim.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Berbicaralah dengan baik, sebarkanlah salam, dan hubungkanlah silaturahmi, serta salatlah di malam hari ketika orang-orang sedang tidur maka kamu akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Hibban melalui Abu Hurairah r.a.).

Dalam hadits lain beliau telah bersabda, “Sembahlah Allah Yang Maha Pemurah, berilah makan fakir miskin, sebarluaskan salam, niscaya Anda masuk surga dengan selamat dan sejahtera.” (HR. Tirmidzi).

Barangsiapa yang menyembah Allah Yang Maha Pemurah, memberi makan fakir miskin, dan menyebarkan salam, niscaya ia masuk surga dengan selamat. Bila hadits ini digabungkan dengan hadits di depan, yaitu yang mengatakan, “Berbicaralah dengan baik, sebarkan salam, bersilaturahmilah, dan salat sunatlah di malam hari ketika orang-orang sedang tidur”, niscaya engkau masuk surga dengan selamat. Maka dapat disimpulkan bahwa amalan untuk masuk surga dengan selamat ialah mengamalkan hal-hal yang tersebut dalam kedua hadits itu.

Slogan Islam adalah ucapan “salam”, yang artinya selamat. Sungguh betapa indah dan mudahnya ucapan ini. Dengan ucapan salam, seseorang mengumumkan kedamaian dan keselamatan kepada orang yang berjumpa dengan kita.

Walaupun ucapan salam itu mudah, namun masih kita jumpai adanya di antara kita yang berat menyampaikannya, atau berat menjawabnya. Mungkin itu karena dia tidak menaruh perhatian sedikit pun kepada masalah ini. Salah satu bentuk pengagungan Islam kepada ucapan salam ialah Islam mewajibkan seorang Muslim menjawabnya walaupun dalam keadaan shalat.

Allah Swt. berfirman di dalam surat an-Nisa ayat 86, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah dengan yang serupa.”

Salah satu tindakan yang patut menyertai ucapan salam adalah berjabatan tangan. Berjabatan tangan akan membersihkan hati dari sisa-sisa kedengkian dan permusuhan.

Salah seorang sahabat mengatakan, “Berjabatan tanganlah kamu, karena yang demikian itu akan menghilangkan kedengkian.

Namun bagi wanita tidak boleh memberi salam kepada laki-laki. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Laki-laki memberi salam kepada wanita dan wanita jangan memberi salam kepada laki-laki. (HR. Adainuri).

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Janganlah kalian bersalam seperti bersalamnya orang Yahudi dan orang Nashrani, karena sesungguhnya cara bersalam mereka dengan mengangkat telapak tangan dan alis.” (HR. Baihaqi melalui Jabir r.a.)

Melakukan salam penghormatan dengan telapak tangan dan memincingkan alis mata merupakan salamnya orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, maka kedua hal tersebut dilarang. Dalam hadits lain disebutkan bahwa barang siapa yang meniru-niru suatu kaum, berarti ia termasuk di antara mereka. Wallahu A’lam bish Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *