oleh

Kuasai dan Kendalikan Emosi

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Dan mereka yang mengingkari perbuatan-perbuatan dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, bilamana mereka marah, mereka lekas memaafkan.” (QS. Asy-Syûrâ, 42:37). Juga dalam surat Âli ‘Imrân, 3:134, ” ... dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain, dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang paling kuat di antara kalian? Yaitu, orang yang paling kuat menahan dirinya di kala sedang marah”. (HR. Thabrani). Dalam hadits yang lain Beliau Saw. telah bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya di kala sedang marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kekuatan itu bukan di ukur dari segi kuatnya otot hingga orang yang bersangkutan dapat menjatuhkan orang banyak hanya sendirian, melainkan kekuatan yang sesungguhnya ialah terletak pada kekuasaan dalam menahan emosi di kala sedang marah. Artinya orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat dan tiada tandingan nya, melainkan orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.

Yang dimaksud dengan menguasai emosi adalah menguasai kekuatan marah, yang merupakan kekuatan besar dalam diri manusia, sehingga tingkah laku dan perbuatannya bersifat seimbang dan wajar.

Kemampuan menguasai dan mengendalikan emosi adalah salah satu sifat penting yang harus ada pada orang bijak. Karena, di antara perbuatan hikmah adalah tidak melepaskan emosi secara membabi buta. Penguasaan emosi di tuntut dari diri kita agar kita memiliki emosi yang sehat, jiwa yang tenang, dan emosi yang stabil. Oleh karena itu, orang-orang yang menderita kelainan emosi, maka tidak akan mampu mengendalikan dirinya.

*Rasulullah* shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya marah itu termasuk perbuatan setan, dan setan itu diciptakan dari api. Api hanya dapat di padamkan dengan air, karena apabila seseorang di antara kalian marah, hendaknya ia berwudhu”. (HR. Abu Dawud).

Dalam hadits lain disebutkan bahwa marah itu merupakan bara api yang menyala-nyala di dalam rongga anak Adam, dan dalam hadits ini ditekankan bahwa marah itu termasuk perbuatan setan, sedangkan setan itu tercipta dari api, dan musuh api adalah air karena dapat memadamkan nya. Barangsiapa yang merasakan dalam dirinya sesuatu dari marah itu, maka hendaklah kita berwudhu, seperti wudhu nya untuk salat, niscaya marah nya itu mereda.

Kemampuan seseorang mengendalikan emosi dipengaruhi sejumlah faktor, baik faktor genetika maupun faktor lingkungan. Penguasaan dan pengendalian emosi tidak terbatas pada suatu waktu dan tempat tertentu saja. Kita dituntut untuk dapat menguasai emosi pada setiap keadaan dan tempat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa memendam atau menekan kemarahannya padahal ia mampu untuk melampiaskannya, niscaya Allah memenuhi kalbunya dengan perasaan aman dan keimanan.” (HR. Ibnu Abud Dun-ya melalui Abu Hurairah r.a.).

Untuk itu kita dituntut untuk bisa menahan dan menekan faktor eksternal yang memberikan pengaruh kepada jiwa dan emosi. Seperti ketika kita mendapat musibah; ketika kita mendapat malapetaka; ketika kita dihina; ketika seseorang membuat kita marah; ketika kita kehilangan orang yang kita cintai; ketika kita dibebani suatu tanggung jawab; ketika kita dikritik orang dengan pedas; ketika kita menderita kerugian besar; dll.

Maka jika kita mampu menguasai dan mengendalikan emosi pada keadaan-keadaan di atas, atau keadaan-keadaan yang serupa dengannya, maka kita termasuk orang yang memiliki kemampuan menguasai dan mengendalikan emosi.

Jika kita sebagai pejabat negara, disamping melakukan introspeksi, juga harus mau menerima kritikan yang dilontarkan orang lain atau bawahannya. Orang yang mau menerima kritikan orang lain adalah orang yang memiliki jiwa positif dan konstruktif. Mau menerima kritikan orang lain adalah pertanda kelapangan dada, kesabaran, kemampuan mengendalikan diri, kedalaman akal dan bijak. Dari sisi kritik, kita terbagi menjadi dua kelompok: ada orang yang mau menerima kritik, dan ada orang lari dan tidak mau menerima kritik.

Kita selayaknya mendidik diri kita untuk dapat menerima kritikan obyektif dari orang lain. Karena, pada yang demikian itu terdapat kebesaran jiwa, kelapangan dada, perbaikan terhadap perbuatan dan tingkah laku, dan kemajuan dalam dunia profesional.

Hendaklah kita mau menerima kritikan dari nurani kita sendiri, maka kita akan dapat menerima kritikan dari orang lain. Kitalah yang lebih mengenal diri kita sendiri, jauh melebihi siapa pun. Jadikanlah nurani kita sebagai alat introspeksi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan diri. Karena, meskipun kita hendak mengajukan alasan untuk tidak membersihkan jiwa, namun nurani kita mengetahuinya, sehingga kita tidak mungkin mengelak.

Allah Swt. berfirman, “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. al-Qiyamah: 14-15). Dalam suatu hadis disebutkan, “Barangsiapa tidak mempunyai penasihat dari dalam dirinya maka tidak akan bermanfaat baginya semua nasihat.”

Dalam hal ini Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Tiada suatu tegukan pun yang lebih disukai oleh Allah Swt. daripada tegukan seseorang hamba terhadap amarahnya, tidak sekali-kali seseorang hamba menelan amarahnya kecuali Allah memenuhi kalbunya dengan keimanan”. (HR. Ibnu Abbas r.a.)

Barangsiapa yang menahan amarahnya dan tidak melampiaskannya walaupun musibah mendermanya, maka Allah Swt. memenuhi rongga dadanya dengan keimanan karena sesungguhnya marah itu merupakan sifat setan; dan barangsiapa yang dapat menahan amarahnya, berarti ia dapat mengalahkan setan.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa ketiganya itu berada dalam dirinya niscaya Allah menempatkannya di bawah naungan-Nya dan Dia mèncurahkan rahmat kepadanya, serta memasukan nya ke dalam surga-Nya yaitu, seseorang apabila diberi, dia bersyukur, apabila mampu membalas memaaf, dan apabila marah sanggup menahan diri.” (HR. Baihaqi).

Barangsiapa yang dinaungi oleh Allah Swt. pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya berarti ia memperoleh limpahan rahmat dari-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam surga. Ada tiga syarat bagi orang yang menginginkan hal tersebut: pertama, hendaknya ia bersyukur bila diberi; kedua, apabila berkuasa untuk melampiaskan pembalasan nya ia tidak mau membalas melainkan pemaaf;  ketiga, hendaknya ia menahan emosi nya apabila sedang marah.

Dalam hadits lain juga Beliau Saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perihal orang mukmin itu, bahwa semua perihalnya baik belaka; hal tersebut tidak akan didapati dalam diri seseorang kecuali pada orang mukmin. Yaitu, apabila ia memperoleh kebahagiaan maka ia bersyukur dan bersyukur itu baik baginya, apabila ia tertimpa musibah maka ia bersabar, dan bersabar itu adalah hal yang baik baginya.” (HR. Ahmad).

Perumpamaan orang mukmin itu sama dengan sebuah pohon yang seluruh bagiannya bermanfaat, tiada suatu pun darinya yang tidak berguna. Apabila ia mendapat kegembiraan, maka ia bersyukur; dan apabila ditimpa kesusahan ia bersabar, dalam semua keadaan dan tempat itu baik belaka bagi dirinya.Wallahu A’lam bish Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *