oleh

Menolong Orang Lain yang Membutuhkan

DALAM hadits-haditsnya, Rasulullah Saw. banyak menyeru kita untuk tolong-menolong atau bahu membahu. Dengan demikian, akan terbentuk masyarakat yang kokoh laksana benteng yang masing-masing komponennya saling menguatkan, atau laksana satu tubuh yang jika salah satu bagian sakit maka yang lain juga akan ikut merasakan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Kamu akan melihat orang-orang mukmin saling mengasihi, saling mencintai dan saling sayang menyayangi; seakan-akan mereka adalah satu tubuh; apabila salah satu anggota merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh, sehingga merasakan demam dan gelisah.” (HR. Bukhari). Dalam kesempatan lainnya Beliau bersabda, “Perumpamaan hubungan seorang mukmin dengan mukmin yang lain adalah laksana sebuah bangunan yang masing-masing bagian saling menguatkan. (Beliau kemudian mengisyaratkan hal itu dengan menyatukan jari-jari kedua tangan beliau).” (HR. Bukhari).

Orang-orang yang benar-benar beriman, sebagian dari mereka dengan sebagian yang lain adalah bersaudara. Perumpamaan mereka sama dengan suatu tubuh, apabila salah satu dari anggotanya merasa sakit, maka rasa sakit itu terasa oleh seluruh tubuh, hingga semuanya merasakan demam dan tidak tidur karenanya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa “Kaum muslimin ibarat satu tangan terhadap orang-orang yang di luar mereka.”

Hubungan di antara sesama mereka sangat erat dan intim, serta kasih sayang terjalin di antara mereka dengan kuat dan mereka saling menolong. Demikianlah ciri khas orang-orang yang beriman, mereka bersatu padu dalam suka dan duka. Lain halnya dengan orang-orang munafik, hati mereka antara yang satu dengan yang lain penuh dengan rasa permusuhan dan saling menjatuhkan, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Mereka tidak akan memerangi kalian dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan di antara sesama mereka sangat hebat, kalian kira mereka itu bersatu, sedangkan hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Hasyr, 59: 14).

Rasulullah shalalahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sampaikanlah keperluan orang yang tidak mampu untuk menyampaikan keperluannya kepada sultan. Barang siapa yang (menolong) menyampaikan keperluan (orang tersebut) kepada sultan, kelak di hari kiamat Allah swt, akan menetapkan kedua telapak kakinya di atas shirathal mustaqim.” (HR. Thabrani memalui Abu Darda).

Menolong sesama saudara merupakaan hal yang dianjurkan. Barang siapa yang menolong saudaranya yang dalam kesusahan, niscaya Allah Swt. akan membalas dan menolongnya di hari ketika ia mendapat kesulitan. Dalam hadits ini disebutkan bahwa “barang siapa yang menolong orang yang tidak mampu menunaikan hajatnya, niscaya Allah akan memantapkan kedua telapak kakinya di atas shirathal mustaqim. Atau dengan kata lain ia tidak akan tergelincir dan dapat melaluinya hingga sampai ke surga.

Dalam hadits lain disebutkan, bahwa “Allah Swt. selalu menolong hamba-Nya, selagi hamba-Nya mau menolong saudaranya”. Dan dalam hadits yang lain disebutkan bahwa “barang siapa yang menolong saudara mukminnya dari suatu kesulitan di dunia, niscaya Allah akan menolongnya dari suatu kesulitan di hari kiamat”.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tiadalah kalian dibantu dan diberi rezeki kecuali oleh orang-orang yang lemah di antara kalian. “ (HR. Sa’d ibnu Abu Waqqash r.a.). Dalam riwayat lain disebutkan, “Tiadalah kamu mendapat pertolongan (bantuan) dan rezeki kecuali karena orang-orang yang lemah dari kalangan kamu.” (HR. Al-Bukhari).

Hadits ini menganjurkan agar memperhatikan nasib kaum lemah karena sesungguhnya kita mendapat bantuan dan rezeki berkat peranan mereka. Seandainya di dunia ini semua orang menjadi kuat atau kaya, maka tak dapat kita bayangkan apa yang terjadi. Dalam hadits lain telah disebutkan bahwa “Bersedekahlah kalian, kelak akan datang suatu zaman kepada kalian di mana seseorang berjalan dengan membawa sedekahnya, lalu orang yang didatanginya mengatakan kepadanya, “Seandainya engkau mendatangkannya kemaren niscaya aku menerimanya. Adapun sekarang maka aku tidak memerlukan sedekah lagi.” Akhirnya dia tidak dapat menemukan orang yang mau menerimanya.” (HR. Syaikhan melalui Haritsah ibnu Wahb).

Hadits ini menceritakan keadaan di zaman (dekat) kiamat nanti, sehingga apa yang diceritakan oleh hadits ini merupakan salah satu dari pertanda dekatnya hari kiamat. Di masa itu, kemakmuran menyelimuti seluruh umat manusia hingga tidak ada seorang pun yang miskin, dan orang-orang yang membawa harta zakatnya untuk diberikan kepada kaum fakir miskin tidak ada yang mau menerimanya karena setiap orang telah berkecukupan. Di masa kita sekarang ini biasanya orang yang berzakat didatangi oleh orang-orang fakir miskin. Akan tetapi, di masa itu keadaannya berbalik, justru yang mempunyai zakatlah yang membawa harta zakatnya untuk diberikan kepada orang-orang yang mau menerimanya, tetapi usahanya itu sia-sia karena tiada seorang pun yang mau menerimanya.

Untuk hal di atas, maka kita perlu memperhatikan sabda Rasulullah Saw, “Gunakalah lima perkara sebelum lima perkara lainnya, yaitu: hidupmu sebelum matimu; sehatmu sebelum sakitmu; senggangmu sebelum sibukmu; mudamu sebelum tuamu; kayamu sebelum miskinmu.” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Abbas r.a.).

Makna hadits ini menganjurkan agar kita menggunakan kesempatan-kesempatan yang baik untuk mengerjakan amal shaleh sebanyak-banyaknya agar di kala kesempatan itu tidak ada maka kita tidak kecewa karena kepergiannya. Untuk itu disebutkan, ingatlah lima perkara sebelum datang lima perkara lain yang menjadi lawannya. Ingatlah dalam masa hidupmu sebelum matimu, yaitu dengan memperbanyak amal saleh untuk bekal di hari kemudian sesudah mati. Ingatlah dalam masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Atau dengan kata lain gunakanlah masa sehatmu itu untuk beribadah dengan giat dan rajin mencari penghidupan sebelum datang masa sakitmu.

Jika seseorang terkena sakit, maka ia tidak lagi mampu mengerjakan amal-amal sunah dan tidak mampu lagi berusaha mencari penghidupan. Isilah masa senggangmu dengan banyak melalukan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratmu, sebelum datang masa sibukmu. Gunakanlah masa mudamu untuk rajin berkerja, beribadah, dan menolong orang lain, sebelum datang masa tuamu (pikun). Dan beramallah di masa kayamu dengan banyak bersedekah dan membantu orang-orang yang miskin, sebelum datang masa miskinmu.

Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Barang siapa di antara kalian mampu untuk berbuat hal yang bermanfaat bagi saudaranya, maka hendaknya ia mengerjakannya.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain disebutkan, bahwa ”sebaik-baik orang di antara kalian ialah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Kedua riwayat tersebut mempunyai makna yang sama, yaitu menganjurkan kepada kita agar berbuat hal yang bermanfaat kepada saudara-saudara kita.

Rasulullah shallallahu alahi wasallam telah bersabda, “Barang siapa menolong orang yang meminta tolong niscaya Allah mencatatkan baginya tujuh puluh tiga ampunan; salah satu di antaranya ialah perkaranya menjadi baik semuanya, sedangkan yang tujuh puluh dua merupakan derajat-derajat yang akan diperolehnya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari melalui Anas r.a.). Ada tujuh puluh tiga macam pahala bagi penolong orang yang perlu ditolong dengan segera, salah satu di antaranya untuk kebaikan semua perkaranya di dunia ini, sedangkan yang tujuh puluh dua sebagai pahala untuknya di hari kiamat nanti.

Dalam riwayat yang lainnya disebutkan, “Barang siapa memenuhi suatu kebutuhan bagi saudaranya yang muslim, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berhaji dan ber-umrah.” (HR. Khathib melalui Anas r.a.). Orang yang membantu saudaranya yang muslim dalam memenuhi suatu keperluannya memperoleh pahala sama dengan pahala orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah. Dalam riwayat yang lainnya disebutkan, “Barang siapa menolong saudaranya tanpa sepengetahuannya, niscaya Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat.” Orang yang menolong saudaranya tanpa sepengetahuannya orang yang bersangkutan, kelak Allah akan memberikan pertolongan kepadanya di dunia dan akhirat. Juga dalam riwayat yang lainya dinyatakan, “Barang siapa berusaha untuk membantu keperluan saudaranya, niscaya Allah selalu memperhatikan keperluan dirinya.” Barang siapa yang membantu saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dalam hadits lain disebutkan bahwa “Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya selalu menolong saudaranya”.

Nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa memudahkan orang yang kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah melalui Abu Hurairah r.a.). Orang yang memberikan kemudahan kepada saudaranya yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan membalasnya dengan memberikan kemudahan kepadanya, baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya dan tidak boleh pula menyerahkannya (kepada musuh); barang siapa mengusahakan keperluan saudaranya, maka Allah selalu berada dalam keperluannya. Dan barang siapa menolong orang muslim dari suatu bencana, maka Allah akan menolongnya dari suatu bencana besar kelak di hari akhirat. Dan barang siapa menutupi seorang muslim, maka niscaya Allah akan menutupinya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim secara Ittifaq).

Dalam hadits yang senada dinyatakan, “Siapa saja (di antara orang-orang mukmin) yang melapangkan satu kesusahan dunia yang dialami mukmin yang lain maka Allah Swt, akan melapangkan satu kesusahan darinya di hari akhirat. Siapa yang menutupi aib (kejelekan) seorang muslim maka Allah Swt. juga akan menutup aibnya, baik di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Allah Swt. akan selalu menolong seorang hamba selama ia tetap menolong saudaranya (sesama muslim).” (HR. Tirmidzi).

Orang yang benar-benar muslim ialah orang yang tidak pernah berbuat aniaya terhadap saudaranya dan tidak pernah menjerumuskannya ke dalam bahaya. Barang siapa yang suka menolong saudaranya, maka Allah akan menolongnya; dan barang siapa menyelamatkan saudaranya dari suatu kesusahan, maka Allah akan menyelamatkannya dari suatu kesusahan di hari ia sangat membutuhkan pertolongan, yaitu hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan balas menutupi kesalahan (dosa)nya kelak di hari kiamat.

Dalam riwayat yang lainya disebutkan, “Barang siapa di percaya oleh Allah untuk menolong orang muslim dari suatu kesulitan melalui tangannya, niscaya Allah akan menolongnya dari bencana dunia dan akhirat.” (HR. al-Khathib melalui al-Hasan ibnu Ali r.a.). Barang siapa yang memberikan jalan keluar dari suatu kesulitan terhadap seorang muslim, maka Allah akan menyelamatkannya dari berbagai macam kesulitan di dunia dan di akhirat. _Wallahu_ _A’lam_ _bish-shawwab_ .

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.