oleh

Pesan Ketua DPRD DKI ke Pj Gubernur, Kolong Tol  yang Telah Ditinggal Penghuni agar Dibangun Taman

JAKARTA – Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi diminta segera memberdayakan sejumlah kolong tol dan jembatan yang telah ditinggalkan penghuninya pindah ke Rusunawa. Sebaiknya lahan tersebut segera dibangun menjadi taman kota agar tidak dikuasai warga lainnya untuk menempati kembali.

Permintaan itu diutarakan Ketua DPRD  DKI Jakarta  Khoirudin yang menilai Pemprov DKI telah berhasil memindahkan ribuan warga penghuni kolong tol dan jembatan ke Rusunawa secara humanis. “Tapi sebaiknya setelah lokasi ditinggalkan penghuninya harus  dijaga ketat dan segera dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau,” kata Khoirudin di gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (5/12).

Ia juga mengingatkan bahwa semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat harus memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga Jakarta menjadi lebih baik. “Mohon ini menjadi tanggung jawab bersama, masyarakat juga punya tanggung jawab. Ini Jakarta kita, harus dijaga sama-sama,” tandas politisi PKS.

Pada kesempatan ini Khoirudin juga memuji tindakan Pemprov DKI Jakarta yang berhasil memindahkan penghuni kolong tol dan jembatan ke hunian layak Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). “Berkat pendekatan humanis dan kebijakan yang dilakukan ini merupakan upaya konkret memanusiakan manusia sehingga prosesnya berjalan dengan baik,” paparnya.

Khoirudin mengaku terkesan dengan jajaran Pemprov DKI yang menggunakan hati dalam proses pemindahan warga secara massal tersebut. “Insya Allah, seluruh prosesnya berjalan lancar dan penuh kesadaran bersama,” harapnya. Saat ini Pemprov DKI secara bertahap telah memindahkan sebagian warga dan sebagian sisanya dilakukan menyusul.

Khoirudin meyakini, pada dasarnya seluruh masyarakat merasa memiliki Jakarta dan menginginkan kota ini menjadi lebih baik. Untuk itu, melalui pendekatan persuasif dan humanis, kebijakan yang diterapkan akan disambut baik oleh masyarakat.  “Sudah tentu kita tidak boleh semena-mena. Sentuhlah hatinya, ajak bicara, datangi rumahnya, ngobrol itu lebih baik. Jangan ada tindakan represif,” pungkasnya. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *