oleh

Perhatikan Aib Diri Sendiri, Lupakan Aib Orang Lain

JIKA kita ingin menjadi orang yang bijaksana, jangan kita berpikir bahwa kita bebas dari aib dan kekurangan. Kita harus sibuk memperhatikan aib kita dan melupakan aib orang lain. Biasanya manusia cenderung memperhatikan aib orang lain dan melupakan aib dirinya sendiri. Hendaklah kita menjauhkan diri dari mencari-cari aib dan kesalahan orang lain, lalu membeberkan nya kepada orang lain atau banyak. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat, 49:12).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling intai-mengintai, dan janganlah kalian saling berprasangka, dan janganlah kalian saling bersaing, dan jangan pulalah kalian saling dengki-mendengki, dan janganlah kalian saling benci-membenci, serta janganlah kalian saling jerumus-menjerumuskan, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah r.a.).

Dalam hadits lain disebutkan, “Barang siapa mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya. Dan barang siapa Allah mengintip aibnya, maka akan dibukakan-Nya, kendatipun ia berada di dalam rumahnya”. Dan juga dalam hadis yang lain dinyatakan, “Barang siapa menutup (aib) seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan di akhirat.”

Orang yang gemar mencari-cari aib orang lain, menceritakan kejahatan dan membeberkan keburukannya adalah seorang munafik yang terkutuk. Seharusnya, jika kita melihat keburukan orang lain sesama muslim, kita berusaha menutupinya, seraya menasehatinya secara rahasia, penuh kelembutan dan belas kasih.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila engkau hendak menyebut aib-aib orang lain, maka ingatlah aib-aib dirimu sendiri.” (HR. Ar-Rafi’i).

Hadits ini menganjurkan kita agar tidak mengingat-ingat atau menyebut-nyebut aib orang lain. Oleh karena itu, apabila kita hendak menyebut aib orang lain, maka hendaklah kita mengingat terlebih dahulu aib yang ada pada diri kita hingga kita tidak merasa bersih diri dari keaiban, dan pada akhirnya kita tidak akan mau menyebut-nyebut aib orang lain. Manusia itu memang lebih suka memandang kepada keaiban yang ada pada diri orang lain, sedangkan ia tidak menyadari keaiban yang ada pada dirinya sendiri.

Rasulullah Saw. bersabda, “Seseorang di antara kalian melihat kotoran (belek) yang terdapat pada mata saudaranya, tetapi ia lupa akan kotoran yang terdapat pada matanya sendiri.” (HR. Abu Na’im melalui Abu Hurairah r.a.)

Makna hadits ini sama dengan pepatah kita yang mengatakan,”Gajah dipelupuk mata tidak kelihatan, sedang tungau di seberang jalan kelihatan.” Artinya memang mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi melihat kesalahan diri sendiri sangat sulit. Untuk menghindari hal itu hadits ini memberikan terapinya, yaitu dengan merujuk kepada diri sendiri agar kita tidak dicela oleh hadits ini. Akan tetapi, apabila kita melihat aib pada diri saudara kita, maka hendaklah kita meluruskannya dari aib yang dilakukannya itu karena sesungguhnya hal itu sebagai sedekah bagi diri kita terhadapnya.

Hal ini bersumber pada sifat manusia yang mencintai dirinya sendiri (hubb adzdzat). Tidak ada seorang manusia pun yang tidak mencintai dirinya. Namun, tentunya tingkatannya berbeda-beda antara masing-masing manusia. Ada manusia yang mencintai dirinya secara wajar. Namun, ada pula yang mencintai dirinya secara berlebihan.

Dia berpikir bahwa apa yang dilakukannya adalah baik, walaupun sesungguhnya buruk. Dia berpikir bahwa dirinya sempurna dan orang lain tidak. Atau dia berpikir bahwa dia benar dan orang lain salah.

Dengan begitu, dia sibuk memperhatikan aib orang lain dan lupa bahwa dirinya tidak luput dari kekurangan, betapapun dia berpikir bahwa dirinya sempurna.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Beruntunglah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri tidak memperdulikan aib-aib orang lain, lalu ia menafkahkan kelebihan dari hartanya dan menahan mulutnya, dan ia rajin mengamalkan sunnah serta tidak mau mengerjakan hal yang bid’ah.” (HR. Ad-Dailami melalui Anas r.a.).

Termasuk orang yang beruntung ialah orang yang selalu mengoreksi dirinya sendiri, gemar menginfakkan kelebihan dari hartanya, sedikit bicara, dan rajin mengerjakan sunnah dan menjauhi perkara yang bid’ah.

Juga dalam hadits yang lain beliau telah bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia membuatnya memahami agama dan membuatnya ber-zuhud terhadap dunia, lalu Dia memperlihatkan kepadanya aib-aib dirinya.” (HR. Baihaqi melalui Anas r.a.).

Bilamana Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, niscaya Allah memberinya petunjuk untuk dapat memahami agama karena agama akan membawanya kepada kebaikan di dunia dan akhirat. Dan niscaya Allah menjadikannya sebagai orang yang ber-zuhud terhadap duniawi karena dunia itu pasti lenyap, sedangkan pahala amal saleh tetap kekal di sisi-Nya.

Hal ini tidaklah heran mengingat pemahaman agamanya yang mendalam sehingga harta duniawi menurut pandangannya tiada artinya dibandingkan dengan pahala ukhrawi. Bila Allah memberinya rezeki yang banyak, ia sampai kepada tingkatan zahid, niscaya ia akan dapat melihat aib dan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya, lalu ia segera bertobat dan memperbaiki dirinya.

Dalam hadits yang lain juga beliau bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba, maka Dia menjadikan kekayaannya berada pada dirinya sendiri dan taqwanya berada dalam kalbunya. Dan apabila Allah mengendaki keburukan terhadap seorang hamba, maka Dia menjadikan kefakirannya berada di hadapan matanya.” (HR. Hakim melalui Abu Hurairah r.a.).

Orang yang paling berakal adalah orang yang memperhatikan aib dirinya dan buta dari aib orang lain. Wallahu A’lam bish Shawwab.

 

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *