JAKARTA – Pemprov Daerah Khusus Jakarta (DKJ) berkolaborasi dengan Kementerian Keuangan berencana mengintegrasikan Lapangan Banteng dengan Gedung AA Maramis yang berlokasi berseberangan jalan. Gubernur Pramono menyebut integrasi dua bangunan bersejarah itu untuk mempercantik kawasan dan menyerap wisatawan.
“Ya, kita akan menyambungkan Lapangan Banteng dengan Gedung AA Maramis milik Kemenkeu yang terletak di Jl Lapangan Banteng Timur. Diharapkan pengintegrasian ini dapat meningkatkan keindahan Lapangan Banteng dan Gedung AA Maramis peninggalan zaman kolonial Belanda,” kata Gubernur Pramono kepada wartawan di Balaikota, Jumat (12/7).
Pramono menjelaskan pembangunan integrasi tersebut akan dimulai pekan depan dengan target pekerjaan selama delapan jam. “Dana pembangunan sama sekali tidak mengambil dari APBD Jakarta melainkan dari dana Koefisien Lantai Bangunan (KLB) oleh PT Bank Jtrust Indonesia, tapi besarannya belum tahu persis,” jelas Pramono.
Sebagaimana diketahui, Pramono bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani kemarin baru saja mencanangkan penataan integrasi Lapangan Banteng dengan Gedung AA Maramis. Pencanangan dilakukan di Jalan Lapangan Banteng Timur persis di depan Gedung AA Maramis dan Pintu Timur Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat. “Pengintegrasian Lapangan Banteng dan salah satu gedung tertua di kawasan heritage Jakarta akan semakin menarik perhatian masyarakat,” papar Pramono.
Selain menghubungkan dua titik sejarah, penataan ini juga akan menghidupkan kawasan sebagai ruang kota yang aktif, edukatif, dan ramah pejalan kaki. Pelaksanaan kegiatan penataan akan dimulai pada Juli 2025 dan ditargetkan selesai pada Maret 2026. Nanti pagar dari kedua bangunan dibongkar, termasuk sejumlah pohon palm di halaman Gedung AA Maramis ditebang. Badan jalan ditinggikan dan Pintu Timur ini nantinya bakal jadi pintu utama.
Menteri Keuangan. Sri Mulyani menyampaikan apresiasinya kepada Pemprov Jakarta akan mengintegrasikan Lapangan Banteng dengan Gedung AA Maramis. “Ini ide kolaborasi untuk membuat ruang publik Jakarta yang makin bagus dan juga terbuka inklusif, aksesibel untuk semuanya. Semoga dengan langkah ini kita dapat melakukan perbaikan dalam pengelolaan kekayaan negara menjadi lebih maksimal dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” tandas Sri Mulyani.
Gedung AA Maramis di Komplek Gedung Kemenkeu merupakan bangunan bersejarah tertua nomor dua di Indonesia setelah Istana Negara yang diresmikan pada tahun 1828. Gedung tiga lantai dengan arsitektur Eropa pernah dinamakan Istana Gubernur Jenderal Dandels, lalu berganti jadi Paleis van Dandels Waterlooplein (Istana Alun-alun Waterloo), lalu berubah nama lagi menjadi Het Witte Huis (Gedung Putih) dan terakhir menjadi Gedung AA Maramis. (jo)







Komentar