oleh

Antisipasi Wabah DBD, Dinkes DKI Jakarta Rutin Pantau Perkembangan Nyamuk Wolbachia di Kembangan Utara

JAKARTA – Tiga pekan sejak peluncuran nyamuk wolbachia di wilayah Kelurahan Kembangan Utara, Jakarta Barat,  perkembangannya terus dipantau Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta. Diyakini, perkembangbiakan nyamuk jenis ini berjalan lancar dan diharapkan mampu menurunkan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan pihaknya terus memantau secara berkala Program Pengendalian Nyamuk Aedes aegypti menggunakan teknologi Wolbachia di Kelurahan Kembangan Utara. “Sejak diluncurkan pada 4 Oktober 2024, program ini telah mengalami perkembangan yang cukup bagus,” kata Ani kepada wartawan di Jakarta, Jumat (25/10).

Menurutnya, nyamuk berwolbachia yang dititipkan di sejumlah rumah warga dalam konsep Orang Tua Asuh (OTA) sudah banyak yang dilepas di lingkungan rumah masing-masing. Tujuannya nyamuk tersebut agar mengawini nyamuk Aedes aegypti agar turunan yang dihasilkan terinfeksi bakteri wolbachia sehingga nyamuk tersebut sudah tidak berbahaya lagi karena tak mampu lagi menularkan virus DBD.

“Hingga saat ini, sebanyak 1.279 Orang Tua Asuh (OTA) dari 11 RW di Kelurahan Kembangan Utara telah bersedia berpartisipasi dalam program ini. Harapannya, populasi nyamuk pembawa virus demam berdarah akan berkurang drastis, sehingga mencegah penyebaran penyakit demam berdarah,” ujar Ani.

Ani melanjutkan, pendistribusian ember berisi telur nyamuk Wolbachia beserta pakan ke rumah-rumah para OTA telah dimulai sejak 8 Oktober 2024. Teknologi Wolbachia melalui telur nyamuk ini, bertujuan mengurangi kemampuan nyamuk penyebab demam berdarah untuk berkembang biak dan menyebarkan virus. “Seluruh RW di Kelurahan Kembangan Utara saat ini telah berpartisipasi aktif dalam upaya pengendalian demam berdarah,” imbuh Ani.

Ani menerangkan, setiap dua minggu, Dinkes DKI Jakarta akan melakukan proses servis ember meliputi pengisian ulang air, telur nyamuk, dan pakan guna memastikan program berjalan optimal dan sesuai dengan harapan.

Ember yang mengalami kendala seperti hilang atau tumpah, akan diganti sesuai jadwal pemeliharaan. “Kami akan terus memantau pelaksanaan program ini dan melakukan evaluasi secara berkala. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Oleh karena itu, dukungan dan kerja sama dari seluruh OTA serta warga sangat diharapkan,” tandas Ani. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *