oleh

Cek Isu Kekeringan Kemarau, PAM Jaya Tinjau Bendungan Jatiluhur Pemasok 82% Air Baku untuk Jakarta

PURWAKARTA – Dalam upaya memastikan ketersediaan air baku di puncak musim kemarau, Perumda PAM Jaya meninjau langsung Bendungan Ir Djuanda Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat, Senin (31/8). Rombongan yang dipimpin Dirut Arief Nasrudin diterima pimpinan Perum Jasa Tirta II selaku pengelola bendungan tersebut.

“Kedatangan kami ke sini untuk memastikan kondisi Bendungan Jatiluhur sebagai pemasok air baku ke Jakarta sebanyak 82 persen. Jadi, Jakarta sangat tergantung kondisi di sini,” kata Arief didampingi Direktur Operasional Syahrul Hasan, Direktur Teknik Santika, dan lainnya.

Peninjauan dilakukan untuk memastikan ketersediaan air baku tetap mencukupi meski terjadi penurunan tinggi muka air (TMA). “Suplai air baku yang dari Jatiluhur dalam kondisi aman walaupun tetap waspada karena penurunan MDPL di angka 96,3 saat ini posisinya, biasanya normal selitar 107 meter,” kata Arief.

Arief menyebut ketergantungan Jakarta terhadap sumber air baku Jatiluhur mencapai sekitar 82 persen. Karena itu, kondisi waduk menjadi salah satu titik yang sangat diperhatikan PAM Jaya dalam menjaga keberlangsungan pasokan air bersih bagi warga. Maka begitu ada isu soal kekeringan di musim kemarau, PAM Jaya langsung meninjau kondisi eksisting waduk tersebut.

Saking pentingnya fungsi Waduk Jatiluhur bagi Jakarta, Arief berpesan kepada Perum Jasa Tirta II untuk selalu melaporkan perkembangan. “Laporan perkembangan di sini juga akan saya sampaikan langsung kepada Gubernur DKI Bapak Pramono, minimal seminggu sekali,” papar Arief. Jika Jasa Tirta II butuh bantuan perawatan Bendungan, maka PAM Jaya siap membantu.

Direktur Pengembangan Usaha PJT II, Dikdik Permadi Yoffana, memastikan kondisi ketersediaan air Waduk Jatiluhur masih dapat memenuhi berbagai kebutuhan hingga akhir tahun. “Berdasarkan kondisi saat ini, kebutuhan air untuk irigasi, PDAM, industri, serta kebutuhan lainnya masih dapat dipenuhi hingga 31 Desember,” jelas Dikdik.

Secara prinsip bahwa tinggi muka air adalah pada posisi 96,33 MDPL masih aman, bahkan masih ada sisa 11 meter lagi,” kata Dikdik. Meski demikian, PJT II tetap melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Menurut Dikdik, pembaruan kondisi waduk dilakukan setiap dua minggu sebagai bagian dari langkah mitigasi menghadapi perubahan kondisi air.

“Mudah-mudahan sampai dengan akhir tahun ini dalam kondisi aman dan tentunya secara rutin dua mingguan kami akan melakukan update terkait perkembangan-perkembangan terbaru untuk memitigasi tadi apa yang dikhawatirkan oleh Pak Dirut,” ujarnya.

Sementara itu, General Manager Wilayah IV, PJT II, Anom Soal Herudjito, memaparkan kondisi waduk secara lebih rinci. Ia mengatakan TMA Waduk Jatiluhur saat ini berada di sekitar 96,33 MDPL.

Posisi tersebut sekitar 0,6 meter di bawah batas operasi normal bawah. Namun, kondisi tersebut belum menyentuh batas bawah operasi waduk yang berada di level 87,5 MDPL. “Jadi dari posisi sekarang masih ada cadangan kita 11 meter ke bawah,” kata Anom.

Sementara itu, kebutuhan air yang harus dirilis hingga akhir tahun, termasuk untuk irigasi, PDAM dan industri, diperkirakan mencapai sekitar 2,658 miliar meter kubik. Rinciannya, 1,95 miliar meter kubik untuk kebutuhan irigasi dan 708 juta meter kubik untuk PDAM serta industri. Dengan perhitungan tersebut, Anom menyebut masih terdapat neraca air positif sekitar 976 juta meter kubik. “Balancing-nya masih plus 976 juta meter kubik,” ujarnya. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *