oleh

PENGACARA BANTAH FAHMI MINTA JATAH ANGGARAN UPS

mantan pejabat Jakbar Alex yang disangka korupsi UPS
mantan pejabat Jakbar Alex yang disangka korupsi UPS

POSKOTA.CO – Kuasa hukum anggota DPRD DKI Jakarta yang menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan “Uninterruptible Power Supply” (UPS) pada APBD-P DKI Jakarta 2014 Fahmi Zulfikar, Ilal Ferhard membantah kliennya meminta ‘jatah’ dari pagu anggaran pengadaan UPS.

“Dari dakwaan yang kami baca, ada beberapa pertemuan. Padahal itu tidak dilakukan klien kami. Apalagi minta tujuh persen, ketemu saja tidak,” kata Ilal di Gedung Bareskrim, Jakarta, Selasa.

Menurutnya, kliennya yang menjabat sebagai anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta tidak memiliki kewenangan untuk meminta fee. “Masalah persen-persenan itu bukan ada di anggota. Itu ada di pimpinan entah komisi atau dewan. Kalau anggota dewan tidak tahu,” katanya.

Sebelumnya dalam dakwaan mantan Kasi Prasarana dan Sarana pada Suku Dinas Pendidikan Menengah Kota Administrasi Jakarta Barat Alex Usman, di Pengadilan Tipikor, terungkap bahwa Fahmi menyanggupi harga UPS per unit sebesar Rp6 miliar dan meminta 7 persen dari pagu anggaran Rp300 miliar sebagai imbalan.

TERSANGKA

Pekan lalu, penyidik Polri menetapkan tersangka terhadap dua anggota DPRD DKI Jakarta Fahmi Zulfikar dan M. Firmansyah sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi pengadaan UPS. Penetapan ini dilakukan setelah gelar perkara dan ditemukannya dua alat bukti.

“Penetapan tersangka berdasarkan hasil gelar perkara,” kata juru bicara Direktorat Tipikor Bareskrim Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Ade Deriyan Jayamarta.

FZ dan MF diduga melakukan korupsi saat keduanya menjabat di Komisi E DPRD DKI Jakarta. FZ sebagai anggota Komisi E, sedangkan MF sebagai Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta.

Dengan demikian, kasus tindak pidana korupsi UPS telah menyeret empat orang yakni dua pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Alex Usman dan Zaenal Soleman serta dua anggota DPRD DKI Jakarta FZ dan MF.

Diketahui, Alex sudah masuk tahap persidangan di Pengadilan Tipikor. Sementara Zaenal masih dipenjara di rutan Bareskrim dan berkas kasusnya masih berproses di Kejaksaan atau P19.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *