oleh

Waoowww, Tante Lina, Tante Yani dan Tante Ernie

-Selebritas-697 views

POSKOTA.CO – “Lina Budiarti memang cocoknya jadi cewek nakal. Jadi hostes, pelacur atau perempuan penggoda. Buka bukaan. Dia pantasnya begitu. Dia nggak cocok buat peran wanita alim. Ya, di depan kamera dia musti nakal dan seksi. Saya nggak keberatan! Bahkan mendukung!”

Pernyataan itu datang dari Budiyanto, koordinator model dan artis seksi untuk foto kalender di era 1980-1990-an. Yang disebut Lina Budiarti adalah foto model seksi yang tidak lain adalah isterinya sendiri.

Bukan sekali, dua kali – Budiyanto menyatakan bangga isterinya jadi obyek seks dan ikut serta “melecehkan” di depan awak media dan isterinya asyik saja. Kalau saya lancar menuliskan pernyataannya kembali lantaran ucapan itu serasa hapalan.

“Mas lihat ‘kan bisa lihat sendiri, istriku masih seksi. Padahal sudah melahirkan delapan anak. Tapi susunya masih bulet, kenceng dan bagus,” kata Mas Budi – panggilan akrab Budiyanto – dalam obrolan di rumah sekaligus markasnya di Jl Raden Saleh dan Cikini – Jakarta Pusat. Masa itu populer disebut “Grup Model Raden Saleh”.

Orang orang di usia 50 tahun ke atas yang suka memajang kalender hot bisa dimintai kesaksian betapa dasyatnya Lina Budiarti. Tumpah ruah. Foto kelender Lina yang paling berkesan ketika duduk dengan buah buahan melempel di tubuhnya. Seperti tak mengenakan apa apa. Hanya ada buah di area terlarangnya. Dengkul langsung gemetar waktu pertama melihatnya. Dan terbawa sampai ke alam mimpi remaja saya ketika itu.

Pada era yang sama di Yogyakarta ada pelukis kondang Saptohudyoyo, yang beristerikan wanita molek – Yani Saptohudoyo – yang juga bangga istrinya dipelototi orang lain. Makin banyak laki laki mencuri curi pandang isterinya, konon Oom Saptohudoyo makin bangga.

Saya masih dua puluhan tahun saat Mbak Lina dan Mbak Yani eksis di media. Dan libido saya terpuaskan karena bisa menemui keduanya bersama suami masing masing.

Sebelumnya Mbak Lina dan Mbak Yani adalah dewi fantasi yang hanya saya lihat di majalah majalah, seperti ‘Ultra’ dan ‘Top’. Memuaskan masa puber saya pada pertengahan 1970-an. Memastikan “perangkat” yang melekat alami berfungsi baik. Normal sepenuhnya.

Dalam obrolan dengan pemred majalah ‘Popular’, majalah hiburan pria dewasa, era 1990 – 2000, dia menyatakan bahwa kelarisan majalahnya ditentukan oleh “masa depan” gadis model yang jadi covernya. Makin besar “masa depan” model makin laris. Bahkan bisa cetak ulang.

“Pokoknya yang 36-B ke atas , ” kata Mas Mujimanto (alm) dengan tawa terkekeh.

Saya termasuk kontributor lepas model majalah itu. Kami saling bertukar kontak model juga.

Kepada wajah wajah baru – yang masih ragu ragu dan malu malu – kami langsung beri motivasi di studio.

“Ada banyak cara menunjukkan bakti dan bela negara. Amal jariah juga banyak caranya. Antara lain memperlihatkan ‘masa depan’, ” kata saya. “Sukses karirmu bergantung pada ‘masa depan’mu,” kata kami berdua dengan semangat.

Model model biasanya langsung bangkit dan gagah berani membuka kancing bajunya sendiri. Lalu sebagian hasil pemotretan – yang nampak sebagian – dijadikan cover dan foto profi di tengahnya.

Sedangkan yang nampak sepenuhnya jadi koleksi yang motret dan motivator yang kebetulan orangnya sama. Dia dia juga.

Indonesia masih normal ketika itu. Belum keArab araban. Masih negara merdeka dan belum jadi jajahan budaya Arab Wahabi seperti sekarang. Belum ada hijaber, jenggoters dan cikranger serta kaum hijroh. Belum kena virus kadrun.

Sensasi kedahsyatan Yani Saptohudyo dan Lina Budiarti lahir kembali dan hadir di era digital, lewat instagram dan twitter. Dia sedang jadi pembicaraan kini. Namanya Ernie Judojono alias Tante Ernie.

Sebagaimana Yani Saptohudoyo dan Lina Budiarti Budiyanto, Ernie Yudohono – yang tak ada hubungannya dengan nama Sang Mantan itu – ternyata “diorbitkan” oleh suaminya sendiri. Foto foto tumpah ruah dan body semloheinya adalah hasil bidikan kamera sang suami. Tentu saja galeri sexynya di instagram atas restu dan boleh jadi kreasi sang suami juga.

Kehadirannya yang membahana di alam maya melahirkan julukan baru padanya: “Tante Pemersatu Bangsa”. Lantaran para pejantan dari para pendukung capres 2019 yang bertikai keras, kompak bersatu memoloti galerinnya, akun Himynameisernie. Sungguh julukan yang pas!

Tante Ernie, dengan follower instagram satu juta dan sukses mempersatukan bangsa menegaskan dia hanya berstatus ibu rumah tangga saja.

“Saya bukan berasal dari penyanyi, pemain sinetron, dan presenter. Saya hanya ibu rumah tangga yang suka posting foto di instagram,” jelasnya dalam wawancara di teve swasta.

Ernie mengaku sudah melahirkan tiga anak. Tapi seperti yang bisa kita lihat di akun instagramnya, dia masih sexy dan mantul (mantap betul) merujuk pada istilah anak sekarang. Dan dia sengaja nemamerkan lekuk lekuknya. Konon banyak publik figur dibuat kleyenga dan merayu untuk ketemuan. Mereka yang mengajak kencan berasal dari kalangan artis, pengacara sampai pejabat. Rata rata sudah bertastus suami.

“Aku sih enggak bakalan menyebut nama. Biasanya orang yang sudah ada namanya. Entah itu artis, entah itu penyanyi, entah pemain band, entah itu pejabat, entah itu pengacara, entah itu fotografer, tapi sudah ada centang biru di Instagram,” kata Tante Ernie.

Para “Ernielicious” – julukan buat fans berat Ernie Judoyono – pun punya “hymne” sekaligus “lagu kebangsaan” :

“Ada yang bulat tapi bukan tekad
Ada yang menonjol tapi bukan bakat
Ada yang besar tapi bukan harapan
Ada yang kenyal tapi bukan jelly
Ada yang tegak tapi bukan keadilan ! ”

Popularitas Tante Ernie Judojono kini menunjukan ada bagian Indonesia yang masih normal. Masih dihuni warga waras . Belum terjajah budaya Arab dan Wahabi sepenuhnya. Belum jadi kadrun.

Sejujurnya saya termasuk fansnya. Tapi – sesuai umur – saya diam diam saja. Lihat lihat dari jauh.

Ini bagian yang saya sesali menjadi singa tua. Gampang sesak nafas. Hari hari banyak rebahan, baca buku dan cuma bisa browsing. Padahal ‘perangkat’ masih berfungsi baik.

Seandainya saja saya masih semuda dulu. (supriyanto martosuwito)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *