oleh

Pedagang Berharap Perpanjangan PSBB hingga 4 Juni untuk Terakhir Kali

POSKOTA.CO – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta diperpanjang selama 14 hari sampai 4 Juni 2020. Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk kembali memperpanjang PSBB di Ibu Kota, dikeluhkan sejumlah pedagang.

Atas putusan tersebut sejumlah pedagang kecil di beberapa titik di Jakarta berharap, perpanjangan masa PSBB ini adalah yang terakhir kalinya. Harapan ini disampaikan oleh Pakde, pedagang assesoris hendphone di kawasan Kota Tua dan Glodok dan H Yusron Effendi, Koordinator Masyarakat Pedagang Muara Angke, Jakarta Utara.

“Cukuplah PSBB sampai 4 Juni 2020. Kita berharap Bulan Juni dijadikan bulan bekerja kembali dengan memenuhi protokol kesehatan sesuai riset yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, sesuai dengan lima kisi-kisi Indonesia Kembali Kerja tersebut,” ucap Pakde.

Sementara HYusron Effendi, pedagang ikan di Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara, meskipun jenis dagangannya bukan yang dilarang sesuai aturan gubernur,, tapi tetap saja menganggap PSBB mempersempit ruang gerak pembeli, “Kami tak hanya ingin terhindar dari corona tapi juga terhindar dari kelaparan,” tegas H Yusron Effendi.

Harapan pedagang kecil ini sepertinya akan terpenuhi dengan pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menyebut bisa jadi,PSBB ini yang penghabisan. PSBB selama dua pekan ke depan menjadi periode yang menentukan untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 di Jakarta.

Kuncinya, warga tetap menaati ketentuan PSBB. “Ini akan bisa jadi PSBB penghabisan jika kita disiplin,” kata Anies.

Pernyataan Anies ini juga sangat bersesuaian dengan Lima Kisi-kisi Indonesia Bekerja hasil riset LSI Denny JA, yakni yang pertama dimulai dari lima wilayah yang grafik coronanya menurun seperti DKI Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bogor, dan provinsi Bali.

“Nah,sudah jelas grafik Jakarta turun. Jadi harapan kami agar PSBB ini yang penghabisan bukan sebuah permintaan yang berlebihan.Saya rasa empat daerah lain yang disebut LSI Denny JA juga akan meminta hal yang sama,” ujar Pakde lagi, yang dibenarkan oleh H Yusron yang ditemui di tempat berbeda, Kamis (21/5/2020).

Kisi kedua, usia rentan kerja di rumah tak rentan kerja di kantor atau luar rumah. Dari data yang dirilis dari hasil riset, menunjukan presentasi korban meninggal di atas 85 persen dikelompok usia di atas 45 tahun. Ini juga dialami negara negara dunia.

Kisi ke tiga punya penyakit rentan kerja di rumah lainnya kerja di kantor. Data ini menunjukan pasien yang punya penyakit bawaan lebih tinggi angka kematiannya.

Masyarakat pedagang merasa bukan bagian dari obyek yang diteliti karena mereka adalah usia produktif di bawah usia 45 tahun. “Kami yakin selama mengikuti protokol kesehatan, kami bisa bertahan,” ujar Pakde yang mjengaku tak bisa pulang ke kampung halamannya di Madiiun.

Kisi keempat, gaya hidup new normal dengan aturan kesehatan yang ketat. Nah pada kisi keempat ini LSI Denny JA merilis agar mulai membiasakan hidup bersama virus yang selalu mengancam di sekitar kita hingga vaksin ditemukan.

Mulai bekerja dan beraktivitas di luar rumah namun tetap menjaga jarak, interaksi jarak satumeter. Menggunakian masker, teknologi komunikasi dan lain-lain.

Kisi kelima, semua pihak terlibat edukasi dan pengawasan protokol kesehatan . terhadap kisi ini, pedagang manyatakan siap melaksanakannya untuk mencegaj atau memutus mata rantai berikutnya.”Jadi, kalau pun tidak ada lagi PSBB kami sudah siap menjalankan roda ekonomi kembali,” tutu H Yusron.

Indonesia memang harus memulai kerja lagi mengintat banyak dunia yang mulai membuka lock down, vaksin paling cepat 12 bulan baru ditemukan, ancaman PHK makin tinggi dan perlu keseimbangan antara kesehatan tubuh dan kesehatan ekonomi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *