Kalau TUHAN ALLAH mengatakan ‘jangan takut’ kepada Abram, maka hal itu mengisyaratkan bahwa Abram sedang takut. Sebab TUHAN ALLAH tidak mungkin mengatakan ‘jangan takut’ kalau tidak ada ketakutan pada Abram.
Apakah yang ditakuti oleh Abram. Pertanyaan ini penting, karena kita tidak membaca adanya peperangan antara Abram dengan penduduk sekitarnya.
Segala sesuatu aman-aman saja. Karena itu, maka ketakutan ini pasti bukan ketakutan karena keselamatan fisik terancam.
Pendeta Sherly Petonengan S. Th dalam uraiannya menegaskan, ketakutan Abram terjawab ketika kita membaca dialognya dengan TUHAN. “Ternyata Abram takut karena tidak memiliki anak. Di usia tujuh puluh lima tahun, ketakutan ini sangat beralasan,”kata Pendeta Sherly.
Pendeta GPIB Zebaoth Bogor ini menguraikan, Abram mengemukakan ketakutannya dengan sangat jujur, dalam hubungan dengan TUHAN,…. ENGKAU tidak memberikan kepadaku keturunan….! Artinya bagi Abram kehadiran seorang anak dalam keluarga bukanlah soal hubungan suami istri saja.
Kalau TUHAN belum berkenan, maka tidak akan ada anak yang akan hadir dalam keluarga. Abram melihat kehadiran anak dalam keluarga dengan kacamata iman.
Dia memiliki semua yang dia usahakan. Kekayaan, hamba sahaya, tempat kediaman, dan banyak lagi. Akan tetapi ada bagian yang tidak bisa dia tentukan.
Hanya TUHANLAH yang menentukannya. Sulit setelah dipikir secara manusiawi, maka apa yang Abram tidak miliki ini sudah tidak mungkin dimiliki.
Abram berada pada titik paling bawah dalam hal pengharapan. Justru pada saat Abram berada pada titik paling bawah dalam pengharapan inilah, maka TUHAN ALLAH muncul dan mengatakan ‘jangan takut’. TUHAN ALLAH menjanjikan keturunan sebanyak bintang dilangit.
Harus diakui bahwa pada titik harapan paling bawah, akan sulit sekali orang untuk percaya bahwa dia justru masih berada pada kemungkinan paling atas.
Tujuh puluh lima tahun dari segi biologis sudah bukan merupakan usia produktif lagi. Namun Abram percaya. Dan TUHAN ALLAH, memperhitungkan kepercayaan Abram ini sebagai kebenaran. Lalu mengapa Abram percaya?
“Abram percaya karena, pengalaman mempercayakan diri kepada TUHAN. Sejak keluar dari rumah orang tuanya di Ur kasdim, TUHAN selalu menyertainya. Ketika dia harus bertempur melawan raja-raja yang menawan Lot keponakannya, TUHAN ALLAH memberikan kemenangan kepadanya. Padahal jumlah kekuatan Abram lebih kecil,” tegas Pendeta Sherly.
TUHAN ALLAH memberkati pertanian dan hewan peliharaannya. Abram mengalami bahwa mempercayakan diri kepada TUHAN ALLAH tidak ada ruginya. Dengan istilah sekarang kita bisa katakan bahwa Abram percaya karena pengalaman iman. Pengalaman yang dilihat dengan kacamata-iman.
Abram mempercayakan hal paling krusial dalam hidup ini kepada TUHAN. Ketika TUHAN berfirman, Abram percaya. Dan itulah yang TUHAN perhitungkan sebagai kebenaran.
Adalah menarik untuk menyimak ‘pola TUHAN’ dalam membuat penilaian. Orang dibenarkan bukan karena tindakan yang dilakukan dipandang benar sesuai dengan norma budaya dan etika. Juga bukan ditentukan oleh pikiran logis.
Tapi ditentukan oleh ‘ ‘percaya yang mempercayakan diri’, atau iman. Jadi Abram dibenarkan karena imannya. Karena pembenaran ini juga maka Abram mendapat banyak berkat dalam kehidupan selanjutnya.
Inilah yang kemudian oleh rasul Paulus dijadikan salah satu argumentasi utama tentang pembenaran dalam surat Roma. Ini juga diangkat oleh para Reformator Gereja ketika membaharui Gereja dari pandangan yang salah tentang iman Kristen.
Pada titik inilah kita mau belajar dari iman Abram.
Dalam hidup ini sudah banyak hal yang kita alami. Bahwa kita bisa sampai pada bulan dan minggu minggu akhir tahun 2020, itu bukan karena kuat kuasa kita, melainkan karena TUHAN.
Ada berbagai pergumulan, penderitaan yang sedang kita alami, situasi wabah covid 19 yang masih belum juga sirna dan pergi. Seluruh dunia sedang mengalaminya. Ada doa yang dikabulkan, ada yang masih dalam pergumulan. Kita ingin target kita tercapai. Nyatanya tidak seluruhnya tercapai, malahan ada yang gagal.
Sementara itu kita juga sedang diwarnai dengan pesta demokrasi yang memerlukan toleransi maksimal agar terlaksana dengan baik dan ini harus menjadi doa kita. Sebab – jangan salah TUHAN menentukan arah sejarah dengan mempertimbangkan doa anak-anakNYA. Kalau kita berdoa, berdoa untuk negara dan bangsa ini, maka TUHAN akan turun tangan dalam kehidupan bangsa ini.
Pada posisi ini bisa terjadi kita bertanya pada TUHAN. Mana janji TUHAN? Kapan itu akan menjadi kenyataan? Dan sejumlah pertanyaan lain lagi. Ini wajar saja. Sebab semua orang ingin memecahkan misteri dan menjawab tanda tanya. Orang ingin agar misteri terjawab sesuai dengan keinginannya.
Malahan sesuai dengan waktunya. Dan karena kita sering terperangkap oleh waktu, maka kita juga ingin agar TUHAN masuk dalam perangkap waktu kita.
“Kita berpikir TUHAN ALLAH juga harus takluk pada sistim kita. Kita berdoa tentang ‘ini atau itu’ harus dijawab hari ini, kalau baru dijawab lusa, akan kadaluarsa. Padahal kita tahu benar bahwa TUHAN kelihatan lambat, namun tidak pernah terlambat. TUHAN membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Bukan pada waktu kita. Alangkah sia-sianya kalau kita tidak menjaga iman kita dan melepaskannya ditengah jalan hidup. Sia-sia pergumulan setengah jalan. Sebab TUHAN menjawab kalau kita percaya. Dan percaya diperhitungkan sebagai kebenaran,”kata Pendeta Sherly Petonengan.
Hari-hari di tahun 2020 sedikit waktu lagi akan kita akhiri, kita tidak tahu apa pergumulan selanjutnya dan berkat apa yang ada didalamnya. Kita harus menghadapi hari esok. Dan tidak mungkin kembali pada hari kemarin. Maka berjalanlah terus, sambil mengandalkan janji TUHAN yang pasti itu. (yopi)






Komentar