PUNCAK JAYA-Pagi di Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, selalu punya cara sendiri untuk menyapa penghuninya dengan udara dingin yang menusuk tulang. Namun, pada Jumat (05/06/2026), dinginnya pegunungan tengah Papua itu mendadak lumat oleh kehangatan yang menjalar di Lapangan Pemda, Jalan Drs. Philipus Andreas Coem.
Ratusan pasang kaki—mulai dari sepatu laras prajurit TNI-Polri hingga sepatu olahraga para aparatur sipil negara (ASN)—bergerak dalam ritme yang sama. Mereka melebur, tertawa, dan berkeringat bersama dalam agenda rutin “Jumat Sehat”.
Lebih dari sekadar mengejar keringat atau membakar kalori, setiap langkah jalan sehat dan ayunan lengan dalam senam bersama pagi itu adalah simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar: menjaga beranda NKRI tetap kokoh melalui keharmonisan. Tidak ada sekat pangkat, tidak ada batas instansi. Yang ada hanyalah keluarga besar yang sedang merajut kebersamaan.
”Ini bukan hanya soal menjaga kebugaran jasmani,” ujar Danramil 1714-01/Mulia, Lettu Inf Sugianto, dengan napas yang masih memburu namun menyiratkan ketegasan. “Ini adalah sarana mempererat komunikasi. Jika hati kita sudah selaras dan harmonis, maka tugas menjaga keamanan serta membangun Puncak Jaya akan jauh lebih ringan dan tepat sasaran.”
Puncak Jaya, dengan segala dinamika geografis dan sosialnya, memang membutuhkan lebih dari sekadar strategi formal. Wilayah ini butuh hati yang saling bertaut.
Apresiasi mendalam pun datang dari pihak pemerintah daerah. Asisten I Pemda Puncak Jaya, Yahya Wonorenggo, yang hadir mewakili Bupati, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Matanya berbinar melihat sinergi nyata di lapangan.
”Kebersamaan seperti inilah kunci utama kita untuk menciptakan Puncak Jaya yang aman, damai, dan sejahtera. Budaya hidup sehat dan persatuan ini harus terus kita rawat, tidak boleh putus,” tegas Yahya.
Ketika matahari mulai meninggi di langit Kota Mulia, kegiatan pun berakhir. Namun, semangat yang tertinggal di lapangan itu tidak lantas surut. Di bawah panji merah putih yang berkibar, TNI, Polri, dan Pemda Puncak Jaya hari ini kembali membuktikan bahwa menjaga kedaulatan dan membangun daerah tidak selalu lewat angkat senjata atau rapat formal di balik meja—tetapi bisa dimulai dari sebaris senyum dan langkah kaki yang beriringan di pagi hari. (aga/fs)








Komentar