oleh

Program MBG Harus Libatkan Masyarakat, FAKTA Indonesia Gelar Lomba dan Edukasi Makanan di Jatinegara

‎JAKARTA – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar dievaluasi sehingga lebih tepat sasaran dan melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya. Masyarakat harus dilibatkan langsung agar menentukan kebutuhan makanan maupun memilih menu sesuai kebutuhan gizi anak.

Hal itu disampaikan Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, Ari Subagio Wibowo pada acara lomba memasak dan edukasi makanan dalam rangka merayakan HUT ke-81 RI bersama masyarakat di Cipinang Besar Selatan (Cibesel), Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (31/8/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi pembelajaran untuk melihat sejauh mana masyarakat mampu mengelola makanan bergizi dengan anggaran yang tersedia.

‎”Masyarakat harus dilibatkan agar menu MBG sesuai selera dan memenuhi kandungan gizi. Dengan begitu, subsidi pemerintah dapat dirasakan secara langsung oleh kelompok masyarakat yang memang membutuhkan. Ini pembelajaran untuk masyarakat untuk melihat kembali MBG sebenarnya. Kalau itu dikelola oleh masyarakat sendiri, itu berarti mampu tanpa harus melibatkan pihak-pihak lain,” kata Ari usai kegiatan.

‎Ia menilai, pola pelaksanaan MBG saat ini masih terlalu bersifat top-down atau dari pemerintah ke masyarakat. Padahal, menurut dia, masyarakat juga memiliki kemampuan untuk menentukan kebutuhan dan mengelola anggaran makanan bergizi secara mandiri.


‎Ari menegaskan, pemerintah juga perlu mengevaluasi kembali sasaran penerima MBG. Menurutnya, tidak seluruh sekolah harus mendapatkan prioritas yang sama karena kondisi ekonomi dan kebutuhan gizi peserta didik berbeda-beda.

‎Sekolah yang berada di wilayah pinggiran tingkat ekonom rendah, maupun wilayah perbatasan, semestinya menjadi kelompok yang lebih diprioritaskan. “Siapa yang punya dampak besar harusnya diutamakan. Tidak semua sekolah yang mampu dikasih. Yang di pinggiran atau yang miskin sekolahnya atau yang di perbatasan itu lebih penting,” tegasnya.
‎Ari menyatakan, pelibatan masyarakat juga dapat menjadi mekanisme kontrol terhadap pelaksanaan MBG. Masyarakat dapat mengetahui secara langsung besaran anggaran yang digunakan, harga makanan, hingga kualitas dan kandungan gizi yang diberikan kepada anak.

‎Ia mengungkapkan, masyarakat harus diberi ruang untuk menyampaikan kritik dan melakukan pengawasan terhadap program tersebut. Kritik, kata Ari, bukan berarti menolak MBG, melainkan memastikan makanan yang diberikan benar-benar memenuhi kebutuhan gizi anak.

‎Ari juga menekankan pentingnya keterlibatan fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya puskesmas, dalam pelaksanaan MBG. Setiap puskesmas memiliki tenaga ahli gizi yang dapat dilibatkan untuk memastikan makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anak. “Setiap puskesmas itu ada ahli gizi. Kalau itu dilibatkan semakin baik. Ada dokter, ada ahli gizi. Jadi pelibatan puskesmas itu penting, jangan dilepas begitu saja,” tuturnya.



‎Sebagai bagian dari edukasi tersebut, FAKTA Indonesia juga menggelar kegiatan memasak makanan bergizi bersama warga. Ari mengatakan kegiatan tersebut akan diperluas ke sejumlah wilayah lain di Jakarta sebagai contoh bagaimana masyarakat dapat terlibat langsung dalam penyediaan makanan bergizi.

‎”Kita punya banyak kampung. Sekarang di RW Cipinang Besar Selatan, nanti bisa di Cililitan, Jakarta Utara atau Jakarta Pusat. Ini hanya sebuah contoh dinamika kecil, tetapi akan kita kembangkan lebih luas,” bebernya.

‎Sementara itu, warga RT 02/RW 02 Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Ana (50) mengatakan, kegiatan memasak tersebut memberikan pengalaman kepada warga mengenai cara menyiapkan makanan bergizi dengan anggaran terbatas.

‎Ana bersama timnya, Bolo-Bolo, meraih juara pertama dalam lomba memasak. Menu yang disajikan berupa nasi berbentuk boneka, ayam goreng mentega, melon, brokoli, wortel, dan telur dadar. “Seluruh bahan makanan untuk satu porsi menghabiskan biaya Rp9.603, belum termasuk gas,” ungkapnya.

‎Ana membeberkan, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa dengan anggaran sekitar Rp10 ribu, masyarakat tetap dapat membuat makanan yang enak sekaligus memperhatikan kebutuhan gizi anak, mulai dari karbohidrat, protein, zat besi, hingga serat.

‎Ana juga menilai menu MBG perlu mempertimbangkan selera anak. Ia mengaku mengetahui anak sekolah di sekitar rumahnya yang kerap tidak menghabiskan makanan MBG karena menu yang diberikan tidak sesuai dengan selera mereka. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *